Precious Family

Collage

Author : Hanhyera || Title : Precious Family || Genre : Family, Fluff, Marriage Life, Romance || Rating : General || Main Cast : Jung Daehyun (B.A.P) and the others find it by yourself 🙂

FF ini uda pernah dipost sebelumnya di bacafanfic.wordpress.com dan untuk posternya itu hasil kerjaku. Dulu aku pake nama Rosa Elfin sebelum akhirnya kuganti jd Hanhyera. Jd jangan bilang kalo aku nyuri yah krn itu emang milikku ^-^

***

Di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang, terdengar suara tangisan anak perempuan. Wajahnya yang manis, basah dengan air matanya. Sesekali ia mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya. Tampaknya, ia kehilangan kedua orang tuanya. Tak lama datang seorang pria yang mendekatinya.

“Aigoo, Ji Ae-ah, uljimayo! Appa di sini.” Orang yang menyebut dirinya sebagai Appa Ji Ae ini menggendongnya dan mengusap-usap punggungnya untuk berhenti menangis.

“Eomma dimana?” ucap Ji Ae di sela tangisnya. Ia menyenderkan kepalanya ke pundak Appa-nya seraya memasukkan tangannya ke dalam mulut dan masih menangis.

“Ssst, jangan menangis! Eomma akan segera kembali. Eomma sedang mengganti popok Daewon.” Appa Ji Ae masih mengusap-usap punggung Ji Ae ketika ia melihat Ji Ae sedang memasukkan tangannya ke dalam mulut, kebiasaannya ketika menangis. “Ji Ae, jangan masukkan tanganmu ke dalam mulut. Kau tahu bahwa itu kotor?” ucapnya dengan nada lembut sambil mengeluarkan tangan Ji Ae dari mulutnya. Ji Ae menurut dan ia mengalungkan tangannya di sekitar leher Appa-nya, memeluknya dengan erat. Ia sangat merasa nyaman dalam gendongan Appa-nya.

Tiba-tiba…

“Daehyun-ah.” Seorang yeoja memanggilnya dan Daehyun menengok ke belakang. “Ji Ae-ah, itu Eomma.” Ji Ae melepaskan pelukan dari Daehyun dan melihat Eomma-nya datang mendekat sambil menggendong Daewon, adik kecilnya.

“Kau ini, bagaimana bisa kau meninggalkan Ji Ae sendirian?” tanya Daehyun tetap dalam nada yang biasa. Daehyun sama sekali tidak pernah menggunakan nada yang tinggi ataupun kata-kata kasar terhadap keluarganya, karena ia sangat mencintai mereka.

“Jeongmal mianhae. Aku terlalu buru-buru membawa Daewon ke toilet sehingga aku tidak memerhatikan Ji Ae. Tahu-tahu, setibanya di toilet, Ji Ae sudah tidak ada. Ji Ae, maafkan Eomma, ne?”

Daehyun menurunkan Ji Ae dari gendongannya dan mengambil Daewon dari istrinya tercinta, Jung Ji Hwa. Ji Hwa berjongkok di depan Ji Ae dan menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya yang mulus.

“Eomma, jangan tinggalkan Ji Ae lagi, ya?”

Ji Hwa tersenyum dan mengelus kepalanya perlahan. “Baiklah, Eomma janji.” Ji Hwa bangkit berdiri dan menggenggam tangan anaknya yang mungil.

“Kau sudah beli tiket film yang akan kita tonton?” tanya Ji Hwa.
Daehyun menyeringai dan menunjukkan empat buah tiket dalam genggaman tangannya. “Tentu saja sudah. Sebaiknya kita segera ke sana. Film-nya akan segera dimulai.” Ji Hwa mengangguk dan bersama kedua anaknya, mereka segera menuju teater yang telah ditentukan.

***

Selesai menonton, mereka berjalan tanpa tujuan karena mereka tidak tahu ingin kemana. Ji Ae tampak riang sekali berjalan bersama Daehyun. Tangannya menggenggam erat tangan Daehyun. Terkadang ia meloncat-loncat sambil tertawa karena candaan Daehyun. Terlihat sekali bahwa Ji Ae dekat dengan Daehyun. Walaupun Ji Ae juga sangat dekat dengan Eomma-nya, tapi ada suatu ikatan antara mereka berdua yang tidak dapat dipisahkan. Ji Hwa yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, heran.

“Eomma, Appa mengajakku bermain di sana. Boleh tidak?” Ji Ae berbalik ke belakang dan bertanya pada Ji Hwa.

“Tentu saja boleh. Kenapa tidak?” Ji Hwa berkata sambil mendekati mereka berdua. Ia menatap Daehyun bingung.

“Err, aku hanya takut kau tidak mengizinkan.” Daehyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menyeringai. Ji Hwa menatap sekilas tempat bermain anak-anak yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Memang benar sekarang mereka berada di sebuah mall untuk jalan-jalan. Tidak ada salahnya untuk Ji Ae bermain di sana.

“Tidak, kau bermainlah bersama Ji Ae. Biar aku yang menjaga Daewon. Aku akan menunggu kalian berdua.”

“Benar tidak apa-apa jika kau menunggu?” tanya Daehyun.

Ji Hwa tersenyum. “Kau ini aneh sekali. Tentu tidak apa-apa. Daewon akan menemaniku, benar ‘kan Daewon?” Ji Hwa bertanya kepada anak laki-lakinya yang baru berumur 10 bulan. Daewon tertawa seraya menepuk-nepukkan tangannya.

“Ayo, Appa!” ajak Ji Ae menarik tangan Daehyun. Ji Hwa mengikutinya dari belakang. Setelah sampai, Ji Hwa duduk di bangku yang sudah disediakan. Ia melihat Daehyun dan Ji Ae bermain bersama. Kadang, Ji Hwa juga bermain bersama Daewon, mencium pipinya, atau sekedar mengajaknya berbicara yang tentu belum bisa dibalas oleh Daewon.

“Daewon-ah, lihat, Ji Ae Noona mirip sekali dengan Appa. Matanya, bentuk wajahnya. Dan kau Daewon, kau mirip sekali dengan Eomma. Apa kau senang?” Ji Hwa kembali mencium Daewon. Setelah setengah jam bermain, Daehyun mendatangi Ji Hwa. Ia terlihat kelelahan.

“Memang anak kecil, tenaganya ekstra sekali. Ji Hwa-ah, bisakah kau gantikan diriku? Aku yang akan menjaga Daewon.” Ia mengangkat Daewon dan duduk di sebelah Ji Hwa. Ji Hwa hanya bisa terkekeh melihat Daehyun. Ji Hwa berdiri dan memijat bahu Daehyun sebentar.

“Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana, ne?” Sebelum pergi, Ji Hwa mengecup kening Daehyun dan Daewon terlebih dahulu, baru setelah itu ia menghampiri Ji Ae yang sedang main kereta api. Ji Ae melambai-lambaikan tangannya kepada Ji Hwa. Ji Hwa balas melambai dan tersenyum kepada anaknya.

“Sekarang, kau ingin bermain apa?” tanya Ji Hwa setelah Ji Ae selesai bermain kereta api. Ji Ae menarik tangan Ji Hwa mendekati sebuah mesin permainan yang bernama “Prize Claw” (sebuah permainan yang ada 3 cakar berguna untuk mengambil barang-barang yang ada di bawahnya).

“Eomma, aku ingin boneka itu.” Ia menunjuk suatu boneka yang berbentuk seperti kelinci, berwarna hitam dan bagian mulutnya berwarna putih. Benar, itu boneka Kekemato.

“Baiklah. Kau tahu, Eomma jago dalam permainan ini.” Ji Hwa melangkah maju dan memasukkan koin ke dalam mesin tersebut. Ia mulai bermain dan menggerak-gerakkan ‘claw’ yang berada di atas. Ia tentukan mana posisi yang tepat dan setelah yakin, ia menekan tombol yang lain untuk mengambil boneka tersebut. Berhasil! Ji Hwa memang ahli dalam permainan ini. Ji Ae loncat kegirangan.

“Asyik, aku dapat boneka Appa!”

Ji Hwa tersenyum senang dan ia melirik sekilas ke arah Daehyun, berharap ia melihat. Namun, yang dilihat Ji Hwa adalah Daehyun sedang berbicara dengan wanita lain. Ia sedikit terkejut melihatnya.

“Eomma, Kekemato lucu sekali!” Ji Ae memeluk boneka tersebut dengan eratnya. Ji Hwa melepaskan pandangannya dari Daehyun. Ia tersenyum melihat Ji Ae yang sangat senang.

“Kaja, kita tunjukkan ke Appa!” Ji Hwa menarik pelan tangan Ji Ae untuk kembali ke tempat Daehyun. Daehyun berhenti berbicara ketika ia menyadari Ji Hwa sudah berjalan mendekat. Wanita yang berbicara dengan Daehyun juga berhenti berbicara. Ia menatap Ji Hwa dan membungkukkan badannya. Ji hwa juga ikut membungkukkan badannya.

“Annyeonghaseyo, Kim Su Ra imnida. Saya adalah sunbaenya Daehyun dulu.” Ji Hwa mengangguk-angguk dan mengulas senyum.

“Bangapsumnida. Jung Ji Hwa imnida.”

“Ah, ini pasti anakmu yang paling besar ya? Cantik sekali! Ia mirip denganmu.” Su Ra berbicara kepada Daehyun. Daehyun hanya bisa nyengir lebar. “Begitulah kata orang-orang.”

“Sepertinya saya harus pergi. Teman saya sudah menunggu. Kalau begitu, saya pamit dulu. Annyeong.” pamit Su Ra

***

“Jadi, ia sunbae-mu?” tanya Ji Hwa. Ia berkata tanpa memandang Daehyun. Sekarang, mereka berjalan menuju mobil yang diparkir di tempat parkir untuk pulang menuju rumah.

“Hmm, begitulah.” Daehyun masih menggendong Daewon yang sudah terlelap dalam pelukan Daehyun.

Ji Hwa mengangguk. Daehyun menatapnya dengan bingung.

“Kau cemburu?” tanya Daehyun.

Ji Hwa menatap Daehyun tidak percaya. “Ti..tidak. Tentuk tidak. Maldo andwae.”

Daehyun terkekeh pelan melihat istrinya yang terlihat lucu ketika cemburu. Ia mendekati Ji Hwa dan merangkul pinggangnya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya tentu untuk menggendong Daewon.

“Kau tidak perlu berbohong. Aku terlalu mengenalmu, sayang. Jadi kau tidak akan pernah bisa berbohong padaku.”

Terlihat semburat merah di pipi Ji Hwa. Ia sudah tidak tahan mendengar godaan Daehyun. Jika terus-terusan seperti ini, wajahnya akan menyerupai tomat. Ia melepaskan dirinya dari rangkulan Daehyun.

“Tidak, aku tidak berbohong, Jung Daehyun.” Suaranya sedikit dinaikkan agar Daehyun berhenti menggodanya. Ia mempercepat jalannya bersama Ji Ae dalam genggaman tangannya, meninggalkan Daehyun di belakang. Daehyun hanya bisa tersenyum.

Daehyun meletakkan Daewon di baby’s seat di jok belakang. Sedangkan Ji Hwa menuntun Ji Ae masuk ke dalam mobil di sisi yang berlawanan dari Daehyun. Daehyun dan Ji Hwa sempat bertatapan sebentar, tapi Ji Hwa segera mengalihkan pandangannya. Sekarang, Daehyun dan Ji Hwa sudah masuk ke dalam mobil juga.

Daehyun menyalakan mobilnya dan menunggu sebentar sampai mesinnya panas. Selama menunggu, ia menatap Ji Hwa.

“Kau cemburu?” Ia kembali menanyakan hal yang sama. Ji Hwa hanya menunduk, tidak berani menatapnya.

“Ia cantik.” ucap Ji Hwa.

“Lalu?”

“Kau terlihat serasi bersamanya.”

“Lalu?”

Ji Hwa terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba, Daehyun mengangkat wajah Ji Hwa agar ia menatapnya.

“Lihat aku. Lihat mataku.” ucap Daehyun. Akhirnya Ji Hwa memberanikan dirinya menatap Daehyun. Ia memiliki mata yang indah.

“Aku tidak peduli dengannya. Aku hanya mencintaimu, tidak ada yang lain selain dirimu. Kau lebih cantik darinya. Dan kau terlihat lebih serasi bersamaku.”

“Tapi, ia orang yang pernah kau sukai, bukan?” Ji Hwa ingat, Daehyun pernah bercerita tentang cinta pertamanya sewaktu SMA yang seorang sunbae.

Daehyun tersenyum lembut. “Bagiku yang penting sekarang adalah orang yang telah menikahiku. Dan orang itu adalah dirimu. Lihat, sekarang kita sudah mempunyai dua orang anak. Aku benar-benar bersyukur atas apa yang kumiliki sekarang ini.”

Ji Hwa merasa pipinya panas. Ia tidak sanggup untuk menatap mata Daehyun lagi. Daehyun semakin mendekatkan dirinya kepada Ji Hwa.

“Jadi, maukah kau berjanji kepadaku untuk tidak cemburu lagi?” Ji Hwa terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya yang mengatakan bahwa Daehyun semakin mendekati dirinya.

“Yaa, Jung Daehyun. Berhenti mendekatiku! Kau tidak malu bila dilihat Ji Ae?”

Daehyun tertawa pelan dan melirik anak perempuannya yang berumur 4 tahun. Ia sedang sibuk bermain dengan Kekemato-nya.

“Jung Ji Ae, maukah kau membantu Appa?”

Ji Ae mengangkat wajahnya dari Kekemato. “Hmm, tentu saja Appa.”

“Bisakah kau tutup matamu sebentar saja? Jika Appa bilang ‘buka’, baru kau boleh membukanya. Arraseo?”

Ji Ae sedikit bingung. Namun ia melaksanakan apa yang disuruh Daehyun. “Baiklah.” Ia menutup matanya dengan tangan kanannya.

“Sekarang, tak ada yang melihat bukan?”

Ji Hwa tercengang dan tertawa pelan. “Dasar kau ini!”

“Jadi, maukah kau berjanji kepadaku untuk tidak cemburu lagi?” Ia mengulangi pertanyaan yang sama dan mulai mendekati Ji Hwa lagi. Kali ini Ji Hwa tidak menolak dan menjawab, “Aku berjanji, Jung Daehyun.”

Segera setelah itu, Daehyun mengecup bibir Ji Hwa lembut. Ji Hwa menerimanya dan lama kelamaan Daehyun memperdalam ciumannya , membuat Ji Hwa tidak bisa bernapas. Ia berusaha melepaskan dirinya dari Daehyun. “Yaa, kau ini! Kau tahu, kau bisa lebih bersabar dan menunggu setelah sampai di rumah.” Ji Hwa terkejut dengan ucapannya yang baru saja dilontarkan. Sedangkan Daehyun tersenyum penuh kemenangan.

“Baiklah, akan kutunggu ketika sampai di rumah. ” Daehyun menyengir lebar dan mulai menjalankan mobilnya. Ji Hwa merutuki dirinya sendiri yang berbicara bodoh seperti itu.

“Appa, Eomma. Boleh aku membuka mataku sekarang?”

Daehyun tertawa. “Maafkan Appa. Appa sampai lupa. Boleh, sekarang kau boleh membuka matamu.”

Ji Ae membuka matanya dan bertanya, “Apa yang Appa dan Eomma lakukan tadi?”

Daehyun dan Ji Ae hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. “Kau tidak boleh tahu. Ini urusan orang dewasa.” Ji Ae memanyunkan bibirnya, terlihat kecewa mendengar jawaban Ji Hwa. Namun, setelah itu ia sudah melupakannya dan kembali bermain bersama Kekemato.

THE END

Need your comment 😀

Advertisements

7 thoughts on “Precious Family”

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s