Coma

tryy

Coma

A Story by Umatoki

Starring; Bang Yongguk [B.A.P] & Song Jieun [Secret]

Vignette | AU, Sad, Hurt/Comfort, Angst | PG

©2014

After you left, i lost control

I become drunk every night and stumble around

Spit out curses becouse i think of you, who was cold

-Coma-

.

…….Song Jieun..Jieun…Jieun-a. Namaku, ucapkan sekali lagi………

.

 

Aku tersenyum lebar kala hembusan angin menyapaku. Pengaruh minuman beralkohol yang ku teguk beberapa waktu lalu mulai terasa. Kepalaku berdenyut sampai aku harus memeganginya meski tak berpengaruh apa-apa. Tungkaiku melangkah keluar dari pintu club;menyapa penjaga berbadan besar yang setia berdiri di samping pintu masuk.

Mungkin bumi sedang goyah yang membuat langkahku gontai hingga menubruk beberapa pejalan kaki. Tak ada kata maaf atau apapun yang terlontar dari tenggorokanku. Bukan karena tenggorokanku sakit atau apa, melainkan aku merasa tak pantas berbicara dengan orang asing seperti mereka.

“Hei bung perhatikan jalanmu!”

Aku merasa bahuku terdorong kebelakang berlanjut dengan rasa nyeri yang menjalar di punggungku. Sialan! Berani sekali orang ini menjatuhkanku.

Aku berdiri dengan susah payah, berusaha berdiri tegak meski aku tetap gontai. Aku menarik kerahnya lantas melayangkan tanganku. Sedetik kemudian pekikan seseorang menembus gendang telingaku.

.

.

.

Mataku terasa perih saat cahaya matahari berhasil menyapaku melalui celah korden yang menggantung di jendela kamarku. Merasa silau, aku berbalik posisi ke samping. Dan disana aku melihatnya. Tertidur di sisi lain ranjangku yang tak besar. Melekat di tubuhnya kemeja putih milikku yang terlalu besar bila dikenakannya. Surainya yang berwarna kecoklatan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Sebelah tanganku terangkat;menyelipkan surainya kebelakang telinga. Aku mengulum senyum ketika manikku bisa dengan jelas menyusuri tiap lekuk wajahnya.

“Kau membuatku malu, Bang Yongguk.”

Matanya perlahan terbuka. Irisnya menatapku tajam, sementara bibirnya tersenyum dengan manis. Senyum yang selalu menyambutku di pagi hari.

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kau terus menatapku seakan aku ini mangsamu.”

Tawa kecil keluar bebas dari tenggorokanku ketika mendengar ucapanya. Hanya dia yang bisa membuatku tertawa sejak kematian orang tuaku.

.

Kami pertama kali bertemu ketika begitu banyak orang yang datang ke rumahku untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya orang tuaku. Saat itu umurku masih lima tahun. Aku hanya berdiri diam menatap dua figura dan dupa-dupa yang mengepulkan asap. Aku ingin menangis, tapi bahkan air mataku tak mau menuruti perintahku. Aku  mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak butuh mereka. Aku tidak butuh siapapun di dunia ini.

Tapi kehangatan yang menjalar di telapak tanganku mengenyahkan semuanya. Gadis kecil yang rambutnya di kepang dua berdiri disampingku. Sebelah tangannya menggegam tanganku, sementara tangannya yang lain membawa boneka berambut kuning.

“Jangan bersedih.”

Wajahnya terlihat ceria dengan senyum sumringah yang terbingkai disana. Oke, aku paling benci dihibur. Apa lagi dengan orang asing seperti dia. Aku merasa mereka tidak pantas berbicara di depanku. Semua orang yang datang kerumahku dan mungkin termasuk gadis kecil ini hanya datang hari ini. Esok hari aku akan mendapati rumahku yang kosong dan sunyi. Tak akan ada lagi yang peduli. Jadi apa gunanya aku berpura-pura senang akan kedatangan mereka?

.

.

Aku memandang sosoknya yang berdiri di depan jendela. Sinar mentari sore dan angin yang menerbangkan anak surainya memberikan efek yang mampu membuatku tak mampu memalingkan wajah.

Tanganku melingkar di perutnya;menyadarkan daguku pada bahunya. Aroma yang beberapa tahun belakangan ini menjadi favoritku menyeruak menembus indra penciumanku.

Begitu seterusnya. Kami hanya berdiri didepan jendela. Menikmati mentari yang lamat-lamat kembali ke peristirahatannya. Ditemani desau angin, senyum terbentuk di bibir kami. Seperti yang orang-orang inginkan, aku hanya ingin waktu berhenti berjalan dan biarkan kami seperti ini. Cukup seperti ini.

.

Dan disinilah aku berakhir. Panti asuhan.

Dan juga jangan lupakan. Sambutan yang anak-anak itu berikan padaku.

“Bersihkan tempat tidurku”

“Bawakan aku makan siang”

“Aku dihukum karena memecahkan kaca ruangan ibu kepala panti, kau kerjakan hukumanku. Jika tidak jatah makanmu akan kuambil.”

Aku bahkan nyaris melarikan diri dari panti jika saja aku tidak melihatnya hari itu. Aku tengah bersembunyi di bawah meja ketika segerombolan anak-anak nakal itu kembali memanfaatkanku.

“Hey Song Jieun, apa kau melihat anak baru itu?”

“Tidak”

“Jangan bohong. Kau kan sama dengan dia, sama-sama kelainan jiwa. Kau pasti menyembunyikannya”

“Tidak”

Lalu aku melihatnya. Tubuhya tersungkur di lantai. Gadis itu rambutnya dikepang dua. Dan membawa boneka berambut kuning. Mataku melebar saat kaki salah seorang anak menendangnya. Ia memekik kesakitan. Aku hendak keluar dari persembunyianku saat iris gelapnya bertemu denganku. Kepalanya menggeleng pelan;jari telunjuknya terangkat kebibir. Mengisyaratkan ku untuk tetap diam. Anehnya, aku menuruti perintahnya. Dan kembali ke posisiku semula. Aku sudah tidak tahan lagi saat gadis itu menangis karena boneka berambut kuning miliknya dijadikan bahan untuk bermain hingga salah satu tangan dari boneka itu terlepas. Aku nyaris keluar jika saja ibu kepala panti tidak datang dan membantunya. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasa bersalah

.

.

“Jieun-a, kau dimana?”

Pagi ini, aku terbangun tanpa senyumnya. Sisi ranjangku kosong. Aku hampir gila saat tak mendapati gadis itu di ruangan kecil ini. Aku beranjak melangkahkan kakiku keluar kamar. Aku berlari secepat mungkin ke arah dapur. Aku baru akan memanggil namanya ketika manikku menangkap sosoknya berdiri di depan kompor kecil sembari mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci.

Dengan langkah besar-besar aku mengulurkan tanganku;menariknya kedalam pelukanku. Tak peduli dengannya yang terkejut, tanganku melingkar erat di tubuhnya.

“Jangan lakukan lagi. Jangan.”

Jieun melepas pelukanku dan mentapku dengan manik indahnya. Air mukanya mengisyaratkan kebingungan. “Jangan apa?”

Aku kembali menariknya dalam pelukan. Namun kali ini aku lebih memberinya ruang untuk bernapas. Mencium aromanya yang membuatku ketagihan

“Jangan tinggalkan aku.”

.

Aku berhasil kabur dari panti. Tapi aku tidak sendiri. Aku bersama gadis berambut kepang dua yang kali ini tak lagi membawa bonekanya. Dengan menuruti semua perkataannya, kami berhasil keluar panti tanpa tertangkap dan di isolasi ke dalam kamar khusus.

Kami terus berjalan, entah kemana. Aku hanya mengikutinya. Mulutnya tak berhenti mengeluarkan segala cerita yang entah kenapa aku menikmatinya. Tetawa jika ia tertawa, dan tersenyum ketika ia juga tersenyum padaku.

Hari itu untuk pertama kalinya aku terbangun di pagi hari dan mendapati ia tersenyum dengan manis yang berhasil membuat jantungku bekerja dua kali lebih keras. Nyaris meledak mungkin. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi seperti itulah kenyataannya.

Dia kembali berceloteh panjang lebar. Kami bekerja apa adanya. Sebagian besar pekerjaan yang kami lakukan adalah membantu orang-orang yang membawa banyak belanjaan di pasar. Sedikit upah dari mereka berhasil kami ubah menjadi es krim rasa coklat yang kami habiskan di pinggir sungai.

“Kau tau, aku ingin sekali berenang di sungai itu.”

Keningku berkerut mendengarnya. Apa dia benar-benar gila? Sungai itu sangat besar.

“Tapi aku ingin berenang ketika musim dingin”

Apa lagi ini? Aku nyaris memukul kepalanya jika saja aku tidak ingat pengorbanannya menolongku keluar dari panti.

“Aku hanya ingin membuat seluruh tubuhku mati rasa. Supaya aku tidak lagi ingat seberapa sakit ketika orang tuaku meninggalkanku di panti asuhan.”

Hatiku mencelos mendengarnya. Dia sama tidak beruntungnya denganku. Anak rambutnya yang terlepas dari kepangan bergerak-gerak bersama desau angin. Kepalanya menoleh kesamping, menemukan manikku yang menatapnya.

“Jangan menatapku seolah aku ini mangsamu, Bang Yongguk.”

Aku terperangah. Itu pertama kalinya ia menyebut namaku. Ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak saat ini. Perpaduan antara tatapan iris gelapnya yang mengunciku dan senyum manis yang terbingkai di sana. Indah sekali.

“Namaku, katakan sekali lagi.”

Air mukanya berubah. Keningnya berkerut samar. “Bang Yongguk.”

Aku tersenyum mendengarnya. Oke aku mulai gila juga. Ada apa denganku?

Song Jieun. Jieun. Jieun-a.

.

.

Lagi, aku tak mendapati Jieun di sisi ranjangku.

Aku berlari ke dapur. Aku baru bersiap untuk terseyum, tapi aku kembali menelan senyumku karena ia bahkan tak ada disana. Aku mulai berteriak frustasi saat tak menemukan gadis itu dimana-mana.

Secarik kertas putih diatas sofa menarik perhatianku. Otakku mencerna tulisan yang tertera disana. Dengan langkah besar aku segera berlari meniggalkan rumah kecil yang bahkan catnya mulai mengelupas. Rumahku dan Jieun.

.

.

.

Kepalaku terasa seperti baru saja tertimpa benda beton-ton. Tubuhku juga terasa pegal karena tertidur di kursi yang berderet di kantor polisi. Aroma kopi menyeruak indra penciumanku. Akhirnya mataku terbuka dan mendapati secangkir kopi yang disodorkan padaku.

Jung Daehyun. Polisi yang sudah tidak asing bagiku.

“Memukul orang sembarangan. Itukah keahlianmu?”

Aku menerima kopi ditangannya lantas menyesapnya. Merasakan hangatnya yang menjalar di tenggorokanku.

“Lagi pula berhentilah minum-minum. Tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Jieun, akan datang padaku jika aku mabuk. Aku melihatnya bediri di depan jendela kamarku.”

Aku juga melihat Jieun tersenyum padaku seperti biasanya. Aku yakin sekarang aku sudah gila. Aku terlalu gila karena merindukannya. Sampai-sampai aku harus mabuk jika ingin tidur nyenyak.

 

Aku menatap aliran sungai yang sebagian membeku karena musim dingin. Aku mengembuskan napas. Uap putih mengepul dan dengan cepat menghilang di depan mataku. Jieun, jika saja kau mau menunggu beberapa bulan lagi, aku akan ikut berenang bersamamu di sungai ini. Mati beku bersamamu. Tapi kenapa kau tidak mau menungguku?

Aku tersenyum miris. Merasa begitu bodoh karena tidak tau seberapa besar penderitaan yang dialami Jieun selama ini.

Kanker hati.

Bodohnya aku yang memintanya untuk terus bersamaku. Justru aku memberinya tekanan yang secara tidak langsung membuatnya stress. Bodohnya aku yang tidak menyadarinya. Jieun masih bisa tersenyum, ia tersenyum padaku. Karena pikiran itulah membuatku tidak peduli dengan keadan yang sebenarnya terjadi. Betapa bodohnya aku. Yang tidak bisa bangun dari mimpi dan kembali pada kenyataan.

Song Jieun. Jieun. Jieun-a.

.

.

.

[FIN]

A/N : ehm  pertama-tama aku mau mengucapkan terimakasih sudah mau membaca first fict aku bap fanfiction indonesia ini 🙂  Maaf kalo kalian agak gak ngerti sama jalan cerita nya, maklum saya juga masih belajar T.T

Fanfic ini sudah pernah saya post di blog pribadi saya. At last, give your comment, please? 🙂

Umatoki

Advertisements

8 thoughts on “Coma”

  1. Ini nyesek banget. Feel nya dapet. Apa lagi BangSong couple favoritku.. Kirain tadi Jieun pergi ninggalin dalam keadaan bernafas. Ga taunya……… T^T

    Like

  2. Aku sangat menikmati cerita ini, tapi ada satu kata yang aku ga ngerti. mencelos itu apa ya? Maaf, aku baru denger, baca,..soalnya. Gapapa kan nanya.
    Btw storynya oke..aku suka. Apalgi sama Song Jieun.

    Like

    1. Hi Alana ^^ kenalin aku Erisa 98L

      Pertama terimakasih sudah membaca dan aku ikut seneng kalo kamu menikmati fict ini..

      Terus untuk kata ‘mencelos’ itu artinya kaya semacem jatuh atau berpindah gitu/? kalo menurut aku sih /plak. Nah dalam kalimat “Hatiku mencelos mendengarnya.” itu semacem hatinya jatuh atau luluh gitu. /.\ itu sih menurut aku ya /?

      Semoga kamu paham ya sama penjelasan aku /.\

      Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s