[Freelance] Fall In Love? #1- (Threeshots)

PicsArt_1408853283626

 

Fall In Love? #1

Author: Didipangpang

Genre: Romance, Teenager | Cast: Zelo, Hayoung (A Pink), Lami (SM Rookies) [Minor cast] |Rating: T |Length: Threeshoot |Disclaimer: ff ini punya saya, Zelo punya mama papanya, Hayoung dan Lami punya saya juga/?

Summary:

Mengapa pipiku memerah? Mengapa jantungku berdebar – debar? Mengapa aku selalu merasa nyaman berada di dekatnya? Mengapa aku terus memikirkannya? Entahlah..

.

.

 Hari itu adalah hari minggu. Dua hari semenjak kepindahan keluarga Oh Hayoung ke sebelah rumah kami. Ibu dan adik perempuanku sangat menyukai kakak laki laki nya, Oh Sehun yang sangat keren, tampan, dan orang tua nya yang baik. Kakaknya adalah seorang dokter yang sibuk dan jarang dirumah, ayahnya seorang guru di sekolah menengah yang terkenal. Ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang mengurus rumah, namun kadang kadang juga mengikuti perkumpulan ibu ibu bersama ibuku tentu saja. Aku bahkan hampir tidak ingat sejak kapan mereka saling mengenal. Ibu bilang Hayoung adalah gadis yang cantik, menggemaskan, dan baik

Pagi ini, bibi Oh datang membawakan seloyang kue bolu coklat. Ia bilang, mulai besok Hayoung akan di daftarkan ke sekolah yang sama denganku. Itu berarti aku akan menjadi dekat dengannya. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman lalu berjalan meninggalkan rumah bersama adikku.

Selama di perjalanan, ada jeda yang cukup panjang diantara kami berdua karena tumben sekali adikku sangat diam hari ini. Biasanya dia akan memulai pembicaraan dengan mulutnya yang cerewet itu sampai aku melewati gerbang sekolah.

“Kau begitu diam hari ini. Apa yang terjadi? apa ada yang berbuat macam-macam padamu? apa pacar mu memutuskan hubungan kalian?”

“Tidak, tidak ada yang membully ku. aku hanya sedang malas berbicara. bukankah kau sudah tahu? aku ini ahli dalam bela diri. tidak ada yang berani berbuat macam macam padaku”

“…dan lagi pula usiaku masih 12 tahun, untuk apa mempunyai pacar.”

“Aku hanya khawatir jika ada melakukan hal yang buruk padamu, Lami-ya”

Adik angkatku ini memang Ahli dalam bela diri. ttapi jujur, aku sering khawatir padanya. Seorang kakak harus peduli pada adik nya bukan?

“Apa besok Hayoung unnie benar benar akan satu sekolah denganmu?”

 “Ya. Tentu saja. Kurasa ibunya serius dengan perkataannya padaku tadi pagi” jawabku ringan sambil terus berjalan sambil memperhatikan toko toko di pinggir jalan yang masih tutup.

“Kau tahu, dia sangat cantik dan baik. bahkan kemarin sore ia membelikanku es krim”

“Mwo? kau sudah pernah bertemu dengannya? mengapa kau tidak mengajakku?” Jujur aku sangat penasaran dengannya

“bukankah kemarin aku mengajakmu ikut berjalan jalan ke taman? tapi kau sedang asik bermain video game”

Flashback

‘Yeah, aku berhasil menaklukanmu monster bodoh! Chyeah, akhirnya aku berhasil mengakhiri level 3″

Tok Tok Tok

“Zelo oppaa.. ayo ikut ke taman..” 
Teriak Lami dari luar kamarku

“Pergilah bersama ibu, jangan ganggu aku.”

“Tapi ibu sedang membuat makan malam. Ayolah, hanya sebentar saja, oppa!”

“Tidak.” aku hanya menjawab singkat sambil terus berkutat dengan video game

Lami PoV

“Tidak”

“Cih, kau akan menyesal ,pipi tomat” Aku menggerutu sambil menjauhi kamar Zelo oppa lalu menghampiri ibu yang sedang membuat makan malam

“bu, apakah Hayoung unni sudah datang?”

“Oh, dia sedang menunggu di kursi teras” jawab ibu sambil menyalakan penanak nasi

“Kalau begitu, aku pergi sekarang, bu.”

“Baiklah, hati hati. jangan merepotkan Hayoung unni ne~” ibu lalu mengecup kening ku. Aku mulai mengenakan hoodie pink kesayanganku lalu berjalan ke teras

“Annyeong, unni. Maaf sudah membuatmu menunggu. Zelo oppa sedang asik bermain video game”

“Annyeong, Lami-ya. Gwenchana,, sayang sekali, padahal aku membuatkan cupcake untuknya.” Aku melihat Hayoung unni membawa sebuah box kecil di tangan kanannya”

“..kajja kita berangkat” Lanjut hayoung unni menggandeng tanganku sambil tersenyum

Flashback off

Zelo PoV

“Aishhh.. mengapa kau tidak bilang? dan dimana cupcake buatannya sekarang? kau tidak memakannya kan?”

“Tidak. tenang saja, aku tidak rakus sepertimu”

“Terserah. yang terpenting aku tidak akan gendut kkk” Aku menjitak kepalanya pelan dan berbelok memasuki gerbang sekolah. Ia hanya meringis sepanjang perjalanan smbil mengusap kepalanya yang sakit

***

Hari ini hari Rabu dan itu berarti mulai sekarang Hayoung akan berangkat sekolah bersamaku. Yeah, dan adikku. Walaupun aku bukanlah orang yang mudah memulai obrolan dengan orang baru. Aku menyambar tas ranselku dan berjalan ke kamar Lami. Seperti biasa, dia memang lambat. Bahkan dia belum memakai sepatunya. Dengan gemas aku melemparkan blazer ke arahnya dan ia segera memakainya, karena sebelumnya ia sudah menggerutu tiada henti. Setelah semuanya selesai, kami berjalan keluar rumah dan mengunci pintu karena ayah dan ibu telah lebih dulu berangkat bekerja.

 Saat aku dan Lami berjalan menjauhi rumah, aku mendengar suara bibi Oh memanggil. Aku menoleh, dan melihat disampingnya telah berdiri seorang gadis yang memakai seragam yang sama denganku, bersurai coklat panjang ditambah poni yang lurus ke depan. Demi langit dan bumi, itu pasti Hayoung. Satu kata yang menggambarkan keseluruhannya. Dia sangat cantik.

“Ada apa bibi Oh?” tanyaku basa basi padanya. Padahal aku tentu sudah tau apa maksudnya memanggilku tadi. Formalitas.

 “Tolong ajak Hayoung untuk berangkat seklah bersamamu. Aku kebetulan sedang sibuk mengurus surat surat kepindahannya. Aku mohon bantuanmu ya Zelo, maaf aku telah merepotkan” ia berkata sambil melemparkan senyum tidak enaknya padaku dan mengusap usap rambut gadis di sebelahnya.

 “Tentu saja bibi, aku tidak keberatan” ucapku tidak keberatan.

 “Terimakasih ya Zelo. Kau baik sekali. Hayoung, ayo sana berangkat bersama Zelo. Dia akan menjadi teman satu sekolahmu.” Lanjutnya lagi. Lalu Hayoung berjalan menghampiriku.

 “Ayo kita berangkat” ajaknya. Suaranya sungguh kekanakan.

Dan disinilah kami, bertiga berjalan menuju sekolah

 Ada jeda yang cukup panjang saat kami bertiga berjalan bersama. Aku berdehem pelan lalu memulai pembicaraan.“Jadi, namamu Hayoung?” tanyaku membuka obrolan. Dia hanya mengangguk cepat seperti anak kecil.

“Hari senin kemarin kau berjalan jalan bersama adikku ke taman bukan?”

“Ya, adikmu sungguh menggemaskan Zelo-ssi” ia terkekeh pelan

“Maaf jika adikku, Lami merepotkanmu. Jadi, mengapa kau pindah ke Yeon Ju? Bukankah Seoul jauh lebih baik?”

“Tidak apa apa. Karena.. aku ingin menjaga toko bunga peninggalan nenekku”

Sepertinya aku mulai terbiasa untuk mengobrol dengannya

 “Iya. Aku menyukai bunga. Apa kau juga menyukainya?” kini Hayoung bertanya sambil menatapku dengan kedua mata yang berbinar binar. Dadaku terasa hangat dan membuatku ingin tersenyum lebar lebar saat melihat matanya.

“Tidak terlalu. Aku hanya tau beberapa bunga seperti mawar, lili, dan anyelir” aku mengalihkan pandangan ke depan

 “Hey, tampaknya kalian akrab sekali ya sampai sampai tidak menyadari keberadaanku” seketika ucapan Lami menyadarkanku. Obrolan ringan ini ternyata membuatku dapat melupakan Lami. Aku merasa tidak enak dan tersenyum garing padanya.

 “Ya ya, lanjutkan saja obrolannya. Dan jangan lupa kalau kau hampir melewati gerbang sekolahmu lagi” ia mengingatkanku. Aku melambaikan tangan padanya dan berbelok memasuki area sekolah bersama Hayoung.

“Eumm.. maaf kalau dia menyebalkan. Hei, sebaiknya kau menemui guru dulu untuk mendapatkan kelas. Aku duluan ya. Sampai nanti” aku berjalan berlawanan arah dengannya. Ia keruang guru dan aku kekelasku.

***

Suasana sunyi menyapa saat aku melangkah melewati pintu. Hal ini tidak biasa. Beberapa siswa dibelakang tampak saling berbisik bisik membicarakan sesuatu. Aku meletakkan tas ku di bawah kursi dan mengeluarkan buku. Aku harus belajar lebih keras untuk masuk ke universitas terbaik daripada mendengarkan omong kosong mereka.

Selang beberapa saat, Park songsaenim masuk ke kelas dan memulai pelajaran hari ini. Entah mengapa, sepanjang hari aku hanya memikirkan Hayoung, apa yang ia lakukan selepas aku meninggalkannya di pintu utama tadi, dan bagaimana hari pertamanya di sekolah. Setelah kupikir pikir, apa yang kulakukan ini sangat tidak berguna. Aku kembali mengalihkan fikiranku pada pelajaran hingga jam terakhir.

***

“Bagaimana hari pertamamu? Apakah menyenangkan?” tanyaku di sela sela perjalanan pulang bersama Hayoung.

 “Tidak terlalu buruk juga. Aku benyak mencatat pelajaran di kelas. Terimakasih kau mau menemaniku ke sekolah hari ini. Kau baik sekali, Zelo-ssi” Iya menyunggingkan senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya

 “Apa yang kau sukai selain bunga?” ucapku membuka obrolan baru

 “Aku suka merangkai bunga, taekwondo, menari, dan menyanyi” jawabnya ringan. Ia mngantongi kedua tangannya di saku celana

 “Wah, kau hebat sekali” tuturku kagum. Ternyata Hayoung tidak seperti siswi lain yang hanya tau salon dan pusat lerbelanjaan seperti Irene.

 “Hayoung, maukah kau mengajakku ke toko bungamu kapan kapan?”

 “Tentu saja Zelo-ssi”

 BLUSH~

“pipimu memerah? pipimu semakin terlihat seperti tomat, Zelo-ssi” ia tertawa kecil

“ung- aniyo.. jangan memanggil ku seperti itu, aku ini masih muda. lagi pula kita seumuran bukan? cukup panggil aku Zelo.”

Perjalanan pulang sekolah yang biasanya melelahkan dan membosankan bisa terasa menyenangkan bila bersama Hayoung. Waktu rasanya berjalan terlalu cepat saat aku sudah melihat pagar biru rumahku yang suah usang. Aku membuka pintu pagar dan masuk kedalam rumah setelah sebelumnya tersenyum dan melambaikan tangan pada Hayoung.

Aku mengucapkan “sampai juma besok” padanya. Meski terselip harapan kecil “ayo berbicara lebih lama” yang mungkin tidak dirasakan olehnya.

***

Aku melepas sepatu lalu berjalan ke kamar yang tak jauh dari ruang tamu. Rumah kami yang kecil tak memungkinkan kami untuk memiliki tiga kamar tidur. Untukku, Lami dan orangtuaku, sehingga ruangan tak terpakai disebelah kamar mandi disulap menjadi kamar Lami, salah satu tempat terdingin di rumah kami.

Aku melempar blazer dan tas ku begitu saja ke meja belajar lalu menjatuhkan diri ke atas kasur. Kebiasaan yang sangat aku sukai setiap pulang sekolah. Pikiranku menerawang, mengulang kembali kejadian hari ini, yang sedikit berbeda karena semuanya hampir didominasi oleh nilai ulangan matematika ku yang sangat buruk hari ini-dan Hayoung. Suara kekanakan, bibirnya yang tipis, lesung pipinya. Entah kenapa aku selalu merasa nyaman dan senang ketika berada di dekatnya. Dia sangat cantik. Dan senyum manisnya.. Mengingatnya saja sudah membuat jantungku berdebar debar. rasa hangat telah mengalir cepat di sepanjang leher hingga telingaku, lalu membawaku ke alam mimpi.

***

Aku terbangun oleh suara ibu yang berteriak dari ruang tamu. Ini berarti sudah jam makan malam. Sedikit memastikan, aku melihat jam dinding merah yang sudah menunjukan pukul tujuh dan seragam masih menempel di tubuhku. Aku tidak peduli lalu langsung ke ruang tamu untuk makan malam.

 “Mengapa kau masih memakai seragam, Choi Zelo?” argumen ibukku membuka percakapan malam ini. Ia mengambil beberapa potong dadar gulung yang terhidang di meja.

 “Ung.. itu-“

 “Dia langsung tertidur saat pulang sekolah bu. Dengan seluruh keringat dan bakteri yang menempel di tubuhnya. menjijikan” Lami memotong cepat ucapanku sebelum sempat aku menyelesaikannya seperti rentetan peluru yang terus meluncur dari mulutnya.

Aku hanya menatapnya jengkel

“Bu, ayah belum pulang?” tanyaku segera mengganti topik pembicaraan.

 “Ayah lembur. Mungkin akan pulang larut malam nanti” jawabnya singkat. Aku mengangguk dan menghabiskan satu suap lagi dadar gulung dan sayap ayamku lalu meninggalkan ruang tamu untuk mandi.

***

Setelah mandi dan memakai pakaian bersih, tubuhku menjadi lebih segar dan nyaman. Aku mengambil sebuah box kecil bewarna putih dari dalam kulkas lalu membawanya ke kamar. aku membuka isinya, aku melihat ada dua buah cupcake vanilla dengan krim blueberry. tanpa menunggu lama, aku langsung melahap cupcake buatan Hayoung itu. Hey, rasanya sangat lezat. dari mana ia tahu kalau aku sangat menyukai blueberry? apakah ia memata matai-ku? oh, aku mulai berkhayal

sudut mataku menangkap sebuah gitar tua yang tersimpan di samping lemari pakaian. Gitar yang dibelikan ayahku dulu saat ulang tahunku yang ke 9. Aku mengambilnya namun aku tidak yakin masih ingat cara memainkannya. Aku memetik senarnya perlahan dan menekan kunci kunci yang masih samar kuhafal dan mulai memainkan intronya.

 Belum sempat aku menyelesaikan laguku, aku melihat Hayoung di seberang sana. Mengingat rumah kami yang bersebelahan dan kebetulan jendela kecil kamarku juga menghadap ke jendela kamarnya. Mungkin ini sebuah keberuntungan. Aku menatapnya yang hendak menutup tirai, dan secara tak sengaja mata kami saling bertatapan, ia malah membuka lebar jendelanya. Lalu ia mengambil selembar kertas dan menulis sesuatu disana.

 
“Kau belum tidur?”

 
Tulisan itu tertulis besar dan jelas dengan spidol pink. Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya. Hayoung menulis lagi di bagian belakangnya yang masih kosong.

 “Keluarlah”

Ia memperlihatkan tulisan itu lalu beranjak melangkahi jendela lalu duduk di pelataran di bawah jendela. Sebenarnya ia dapat dengan mudah berjalan ke rumahku kalau ini bukan malam hari. Karena rumah kami hanya dibatasi oleh area berumput dan sebuah pohon kesemak kecil.

Aku mengangguk lalu dengan susah payah berusaha melangkahi jendela karena badanku yang mungkin terlalu besar dan duduk di pelataran yang ada di bawahnya. Ia melihatku lalu tertawa kecil. Hayoung kau jahat!

 
Malam ini kami berdua menghabiskan berlembar lembar kertas putih dan spidol hanya untuk berbicara satu sama lain. Hal ini sangat menyenangkan. Dan aku berfikir, berkomunikasi menggunakan telepon sudah terlalu biasa saat kami bisa membicarakan banyak hal.

Kami berbicara tentang hewan di kebun binatang yang mungkin merindukan rumah, mengapa para gadis menghawatirkan berat badan mereka dan apa yang akan kami lakukan esok hari.

aku mulai menulis di lembaran baru “Cupcake buatanmu sangat enak, Terima kasih”

“Tidak masalah” balas Hayoung dengan menambahkan emoticon ‘^^’

Kami bicara lama sekali sampai aku tak lagi mengingat waktu. Aku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 malam dan aku telah menyerah untuk tetap terjaga.

 “Aku mengantuk, Hayoung. Kita bisa lanjutkan besok disekolah”

 Kutulis besar besar diatas lembar kertas terakhirku dengan spidol orange yang sudah mulai habis tintanya. Aku akan membelinya lagi besok. Kulihat Chanyeol tersenyum dan melambaikan tangannya di seberang sana.

 “Baiklah. Sampai nanti di sekolah. Selamat malam, Zelo-ya”

 
Tulisnya dengan tambahan karikatur lucu. Setelah itu aku memanjat kembali jendela kamarku dan menutup tirainya. Kulihat siluet tubuh Hayoung di balik jendela itu seperti sedang melakukan gerakan-gerakan. sepertinya ia sedang menari

Aku terus memperhatikan bayangan Hayoung yang sedang menari hingga akhirnya bayangannya menghilang karena lampu kamarnya dimatikan.

“Selamat malam, Hayoung”

Aku menaikan selimut sampai sebatas dada. Memandang sayu langit langit kamar sambil tersenyum senyum sendiri. Hanya ada satu yang di pikiranku saat ini. Oh Hayoung. mengapa aku terus memikirkannya? Entahlah..

—TBC—

Selese juga akhirnya chap 1.-. maap kalo gaje, di sini romance nya belom keliatan. Mungkin di chap selanjutnya._.vvv

Advertisements

2 thoughts on “[Freelance] Fall In Love? #1- (Threeshots)”

  1. Zelo jatuh cinta~ XD
    Author-nim, itu knp d tngah2 cerita tiba2 ad Chanyeol?? Seharusnya Hayoung, tau sih cuma nggak enak aja itu ad Chanyeol XD Awalnya cerita EXO ya Author-nim? Keukeu, hwaiting u/ ngelanjutin ceritanya~ \(^0^)/

    Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s