Skool Luv Affair : 1004 (Angel) [Chapter 2]

pr-by-rosa-elfin-redoTitle : Skool Luv Affair : 1004 (Angel) || Author : Hanhyera || Genre : Friendship, School Life, Romance, Angst || Main Cast :  Jang Eunmi (OC), Jung Daehyun (B.A.P), J-Hope (BTS), Kim Yunhee (OC), Kim Seokjin (BTS), Bang Yongguk (B.A.P)

~1~

Yunhee’s POV

Langkah demi langkah kulewati di lorong sekolah ini. Di tiap langkah itupun, tak hentinya semua siswa menatapku dengan tatapan mencemoohnya. Tidak kuat menahan malu, kutundukkan kepalaku seraya membetulkan letak kacamataku. Aku berjalan dengan separuh perasaan takut dan malu.

Kacamataku yang bulat, rambutku yang selalu diikat dua, seragam yang selalu kumasukkan dengan sangat rapi, ya memang benar, hal tersebut yang membuatku menjadi perhatian tiap orang. Culun, kutu buku. Namun, apa itu salah? Setidaknya, aku nyaman dengan penampilanku sampai saat ini.

10-2, kelas yang akan kutempati selama setahun ke depan, telah terlihat di mataku. Kupercepat langkahku dan masuk ke dalam. Tak ada bedanya, teman sekelasku, yang belum seluruhnya kukenal, juga menatapku dengan tatapannya yang setengah geli setengah bertanya. Aku memutuskan untuk mengambil bangku di paling belakang. Kursi di sebelahku masih kosong, begitu juga dua kursi di depanku. Aku penasaran, siapa yang akan menempati ketiga kursi itu. Memangnya, ada yang ingin dekat-dekat denganku? Mustahil.

Menunggu bel masuk berbunyi, aku mengeluarkan buku mata pelajaran pertama yaitu Matematika. Ketika melihat-lihat isi buku, teriakan-teriakan perempuan menggema di seluruh koridor. Penasaran, kulepas tatapanku dari buku Matematika dan menatap pintu kelas. Ternyata, alasan dari teriakan-teriakan itu karena ada empat laki-laki yang menyusuri koridor dan sekarang sedang berusaha melewati perempuan-perempuan gila untuk masuk ke kelasku. What? Kelasku? Apa mereka akan menjadi sekelas denganku? Mati saja bila harus mendengar teriakan-teriakan gila dari berbagai macam perempuan di kelas ini.

Satu per satu lelaki tersebut berhasil masuk ke dalam kelasku. Kuperhatikan dengan seksama. Yang pertama, ia terlihat bersahabat. Senyum selalu ia layangkan kepada semua perempuan. Hah, ini pasti tipe lelaki pervert! Yang kedua, matanya sipit, badannya terlihat bagus. Aku rasa ia seorang olahragawan atau mungkin penari. Yang ketiga, ia masuk dengan wajah tanpa senyum. Namun, bukan berarti ia tidak terlihat ramah. Tampaknya ia tidak suka dengan gangguan yang diberikan oleh perempuan-perempuan gila di depan sana. Ya, aku dapat memaklumi perasaannya. Dan yang terakhir… Hmm, apakah aku harus menceritakan yang ini juga? Entahlah, tapi aku merasakan hal yang berbeda saat melihat dirinya. Menurutku, ia yang paling tampan di antara mereka berempat. Debar jantungku tak dapat kutahan lagi. Sepertinya aku telah meleleh dibuatnya. Dan yang lebih gawat lagi, mereka berempat berjalan menuju ke arahku. Oh, tidak, tidak! Ini tidak baik.

“Hai! Tidak ada orang yang duduk di sini, kan? Bolehkah kami duduk di dekatmu?” tanya si olahragawan sambil tersenyum kepadaku. Aku menatapnya tidak percaya. Benarkah mereka ingin duduk di dekatku?

“Oh, ya..ya silahkan!” jawabku tergagap. Mendengar jawabanku, mereka segera duduk, si olahragawan dan lelaki yang tidak tersenyum saat masuk kelas tadi, duduk di depanku. Sedangkan si lelaki pervert itu lebih memilih duduk bersama perempuan yang menurutnya paling cantik di kelas ini. Tinggal satu yang tersisa, si yang paling tampan masih berdiam diri di sebelahku.

“Jujur saja, aku tidak begitu suka duduk di depan. Jadi, boleh tidak aku duduk di sebelahmu?” ucapnya dengan secercah senyum menawannya.

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, tidak percaya akan yang dikatakannya. “Kau, kau yakin ingin duduk di sebelahku?”

“Kenapa tidak?”

“Kau lebih memilih duduk bersamaku dibanding perempuan lain yang lebih cantik?”

Ia sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, tapi setelahnya ia kembali tersenyum. “Apa gunanya aku duduk di sebelah perempuan cantik tapi aku sendiri tidak nyaman karena mereka terus menggangguku? Lebih baik aku duduk bersamamu. Kuharap kita bisa menjadi teman baik, ne?” Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya. “Aku Jungkook, senang bertemu denganmu. Siapa namamu?”

Kuharap ini bukan sekedar mimpi. Aku mengulurkan tanganku perlahan-lahan dan menjabat tangannya. Halus. “A….aku….aku Kim Yunhee.”

“Kim Yunhee, kuharap kita dapat menjadi teman baik selama satu tahun ke depan.” ucapnya lagi dan segera setelah itu ia duduk di sebelahku. Aku menarik napas dalam-dalam dan mencerna dengan baik, apa yang akan terjadi dalam satu tahun ke depan? Berada di sebelahnya membuat diriku tidak dapat berkonsentrasi belajar.

“Hai, Yunhee! Kau belum berkenalan dengan kami. Aku Jimin dan dia yang di sebelahku adalah J-Hope. Senang berkenalan denganmu.” Si olahragawan membalikkan badannya dan berbicara padaku. Ah, ternyata namanya Jimin dan lelaki yang tidak tersenyum tadi adalah J-Hope. Tinggal si lelaki pervert yang belum kuketahui namanya. Aku melirik dia yang ternyata sudah berani merangkul Park Tae Hwa, madonna di kelas 10-2. Kaget, tanpa sengaja aku membelalakkan kedua mataku. Menyadari kekagetanku, Jimin menjelaskan, “Kau tidak perlu mempedulikan dirinya. Dia memang begitu. Namanya Taehyung.” Aku hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan Jimin. Bel masuk berbunyi. Jimin membalikkan tubuhnya kembali menghadap depan. Inilah saatnya penderitaanku akan dimulai. Penderitaan karena manusia tampan yang ada di sebelahku ini.

***

Yongguk’s POV

Pekerjaanku sebagai ketua panitia MOS telah usai. Tapi sayangnya, pekerjaanku menjadi ketua Band belum usai. Kuhembuskan helaan napas dan kembali memasang brosur audisi menjadi anggota Band. Band yang ada sekarang ini beranggotakan aku, Daehyun, Himchan, dan Youngjae. Kami berempat sudah kelas 12 dan, yah, tentu saja kami ingin mencari pengganti untuk meneruskan Band kami kelak saat kami telah lulus.

Mading-mading di sekolah sudah hampir seluruhnya penuh dengan brosur-brosur ekskul yang lain seperti Basket, Futsal, Voli, dan lainnya. Aku hampir kesulitan, bingung ingin meletakkan brosur Band ini dimana. Berhenti di depan salah satu brosur ekskul yang terlihat sangat menarik, aku memperhatikannya dan mulai membaca. Saat tahu brosur itu berisi ekskul apa, aku segera merobeknya dan membuang ke sembarang arah.

“Aiss, dua anak itu! Mereka benar-benar pengkhianat.” Kuputuskan untuk mengganti tempat yang baru saja kosong itu dengan brosur terakhir yang ada dalam genggamanku. Habis, dengan begini selesai sudah tugasku.

“Hyung!” Suara anak-anak memenuhi seluruh isi lorong yang tidak terlalu ramai. Aku membalikkan badanku dan mendapati Daehyun, Jongup dan Junhong berjalan ke arahku.

“Dimana Himchan dan Youngjae?”

“Oh, mereka sudah ke kantin duluan. Katanya lapar.” jawab Junhong. Aku hanya mengangguk.

“Cih, ekskul-ekskul lain yang tidak berguna, harusnya tidak perlu dipasang di sini.” ucap Daehyun seraya merobek beberapa lembar brosur ekskul dari papan Mading.

“YA, biarkan saja.” ucapku dengan nada datar, namun tegas. Daehyun berhenti merobek dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.

“Kau menyuruh Daehyun Hyung berhenti, padahal kau sendiri juga merobeknya.” Jongup berkata sambil menunjuk brosur yang tadi dirobek olehku. Aku hanya bisa menghela napas dan berjalan lebih dulu. “Itu karena kalian mengkhianati kelompok ini, B.A.P.”

“Eiiii, kami tidak mengkhianati. Hanya saja hobi kami berdua berbeda dengan kalian, Hyung.” balas Junhong, mengikutiku yang sudah berjalan duluan.

“Terserahlah.”

Junhong kembali becanda dengan Jongup dan berjalan mendahului diriku dan Daehyun. Aku berjalan sejajar dengannya.

“Kira-kira, apakah banyak yang akan mendaftar? Bagaimana menurut Hyung?” Daehyun bertanya sambil tetap berjalan dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

“Tidak tahu. Berharap saja banyak yang akan mendaftar dan semuanya memiliki talenta, bukan sembarang orang.” jawabku seadanya.

Daehyun mengangguk-angguk. “Semoga saja.”

Kantin terlihat di depan mata dan sudah terlihat ramai. Dengan begini, kami harus mengantri. Ah, padahal perutku sudah bernyanyi-nyanyi ria meminta makanan. Aku dan Daehyun masuk dalam antrian. Selama mengantri, kusapu pandangan ke seluruh isi kantin. Secara tak sengaja, aku bertemu pandang dengannya, perempuan yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Ia dekat dengan kami, B.A.P. Ia tersenyum kepadaku dan aku pun membalasnya. Saat pandangannya tak lagi menatapku, melainkan manusia di sebelahku, aku dapat menyadari kepedihan yang terpancar dalam matanya. Kusenggol manusia di sebelahku ini.

“Wae, Hyung?”

“Bagaimana hubunganmu dengannya?”

Sepertinya lebih baik aku tidak usah membahas ini. Rona wajah Daehyun berubah seketika, tidak enak dipandang.

“Seperti yang kau tahu, begitu-begitu saja.”

“Kau tidak kasihan dengannya?” Itulah pertanyaan dalam otakku selama ini. Entah Daehyun memang bodoh atau tidak memiliki perasaan, tapi ia tega sekali. Ia memang terkenal dengan kekasarannya dan temperamen-nya yang tinggi. Hampir setiap hari ia selalu berkelahi. Tidak hanya dirinya sebetulnya, tapi B.A.P. Well, ya memang kami geng yang sering berkelahi dengan geng sekolah lain yang menjadi musuh bebuyutan kami. Tapi, Daehyun berbeda. Berkelahi telah menjadi hobinya.

“Bisakah kita tidak usah membahas hal ini?” ucap Daehyun, terdengar sedikit membentak. Bukan salahnya, ini salahku mengapa ia membentakku. Memang seharusnya aku tidak perlu membicarakan hal ini.

“Arraseo, arraseo.”

Antrian semakin berkurang dan tiba giliran kami untuk mengambil makanan. Nampanku penuh dengan semangkuk nasi, kuah ayam, dan juga kimchi. Daehyun berjalan lebih dulu meninggalkanku. Saat aku mengambil nampan tersebut dan hendak berjalan menuju meja dimana B.A.P sudah duduk, saat itu juga ada seseorang yang secara tidak sengaja menabrak Daehyun dan kuahnya menumpahi kemeja Daehyun.

“Sorry, aku tidak sengaja melakukannya.” ucap yang menabrak Daehyun. Perasaanku tidak enak ketika melihat Daehyun segera meletakkan nampan-nya ke salah satu meja dan menarik kerah orang tersebut.

“YA, KAU PUNYA MATA TIDAK? HATI-HATI KALAU JALAN!” Daehyun membentaknya di depan mata dan memelototinya juga.

Aku segera berjalan mendekatinya dan meletakkan nampanku di sebelah nampan Daehyun. Kejadian ini sudah menjadi tontonan seisi kantin. B.A.P mulai berjalan medekat untuk berusaha membantu agar tidak terjadi pertengkaran.

Sayang sekali, kali ini yang ditarik kerahnya bukan seseorang yang gampang untuk mengalah. Tidak terima ditarik kerah bajunya, ia mendorong Daehyun dengan kasarnya sehingga genggaman Daehyun dari kerah orang itu terlepas.

“YA, aku sudah minta maaf! Apa perlu kita selesaikan masalah ini dengan kekerasan?”

Gawat, kalau begini tidak akan ada yang mengalah. Aku dan Himchan menahan Daehyun agar tidak menyerang orang itu. Sulit, Daehyun meronta-ronta untuk dilepaskan. Tenaganya benar-benar besar sekali.

“YA, kau mau mati, hah? Berani-beraninya kau melawanku!”

“Memangnya kau siapa sampai aku perlu takut padamu?” Hah, ternyata ada juga manusia tidak waras yang berani melawan Daehyun! Kulihat kedua temannya yang berlari mendekati dirinya.

“Kau tidak takut padaku? Fine! Ayo kita cari tempat untuk berkelahi!” Daehyun memberontak sekali lagi sehingga aku dan Himchan butuh kekuatan lebih untuk menahannya.

“Tak perlu. Lagian kau bukan tandinganku.” Bukan hanya Daehyun yang kaget mendengar jawabannya, tapi aku, Himchan, dan ketiga member B.A.P lain, dan juga kedua temannya kaget mendengar jawabannya. Detik selanjutnya sudah di luar kendaliku dan Himchan. Daehyun benar-benar tidak bisa dicegah lagi, sehingga ia berhasil memukul orang itu dengan kepalan tangan kanannya. Alhasil, ia terjatuh dan menabrak meja yang ada di belakangnya.

“Jaga mulutmu sebelum berbicara!” Kali ini, Junhong ikut membantu menahan Daehyun. Baguslah, tenaga dia lumayan besar untuk menahan Daehyun bersama diriku dan Himchan. Saat-saat seperti ini memang tidak ada yang bisa mengehentikan Daehyun kecuali orang yang tidak waras tersebut berhenti mencari masalah dengan Daehyun.

Ia berdiri dibantu kedua temannya, dan setelah berhasil berdiri ia segera ingin menghajar Daehyun. Namun, kedua temannya menahannya. Untung saja! Kalau tidak perang dunia ketiga bisa saja terjadi!

“Sudahlah, tidak perlu dibalas. Tidak ada gunanya.” sahut temannya yang pertama.

“Lebih baik kita pergi dari sini sekarang juga.” sahut temannya yang kedua.

Orang itu menatap Daehyun sekilas dengan tatapan ingin membunuh sebelum akhirnya memutuskan untuk menuruti kedua temannya. Mereka membawa orang itu keluar dari kantin. Tapi, terhenti karena ucapan Daehyun.

“Ya, kau yang bernama Suga! Lihatlah, aku tidak akan melupakanmu! Kalau ada lain kesempatan, mari kita berkelahi.” Ia yang bernama Suga segera berbalik dan ingin kembali menghajar Daehyun, namun lagi-lagi ditahan oleh kedua temannya.

“Oke, siapa takut! Suatu saat nanti, kita lihat saja siapa yang akan menang.” Bekas pukulan Daehyun membekas di wajahnya, lebam di pipi kiri Suga.

Sekarang, mereka bertiga sudah benar-benar hilang dari kantin. Merasa aman, aku, Himchan dan Junhong melepaskan Daehyun. Kerumunan bubar dengan sendirinya, kembali ke aktivitas mereka masing-masing sambil sesekali melirik kami.

“Kaja, kita makan. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.” ucap Himchan.

“Kalian saja yang makan. Aku sudah kenyang.” Selesai mengucapkan kalimat yang singkat, padat, dan jelas itu, Daehyun meninggalkan kami dan seluruh isi kantin. Kami hanya bisa menghela napas secara bersamaan. Secara tak sengaja lagi, aku melihat dirinya yang kuanggap sebagai adikku sendiri, menatap kepergian Daehyun dengan tatapannya yang sulit kujelaskan.

“Biarkan saja Daehyun, nanti ia juga akan baik sendiri. Kaja!” Saat itupun, aku juga merasakan bahwa perutku sudah kenyang, tidak ada nafsu sama sekali. Padahal, beberapa menit yang lalu, perutku berteriak kelaparan.

TO BE CONTINUED

Advertisements

2 thoughts on “Skool Luv Affair : 1004 (Angel) [Chapter 2]”

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s