REINKARNASI~1

request-pc25-alana
CreditposterbyArinYeasy@PosterChannel

 

REINKARNASI ~1

by.Alana

Bang Yongguk and Park Jiyeon

.

.

 

 

 

Suara jam dinding membuat gelisah tidurnya. Berkali-kali dia terbangun hanya karena suara gemerisik angin atau tikus-tikus yang berburu makanan di loteng. Yongguk duduk di sampingnya, membelai rambutnya yang lembut. Jiyeon.

 

“Aku akan pastikan kau tidak akan meninggalkan rumah ini lagi. Kita akan bersama, selamanya.”  Yongguk menahan debar jantungnya. Dikecupnya lembut bahu Jiyeon yang terbuka.

 

Dingin.

 

Jiyeon meraba pundakknya. Dia merasakan kecupan itu. Begitu dingin. Matanya menyudut resah. Siapa ?

 

Bisikan itu seperti terdengar di dalam ruangan. Jiyeon menarik nafasnya dalam-dalam. Diperhatikannya sudut-sudut remang di sekelilingnya. Suara siapakah itu? Kenapa terdengar begitu jelas.

 

JIyeon bangkit dari tempat tidurnya, sementara Yongguk dalam dimensi yang berbeda mengikutinya.

 

“Polisi Moon !”  panggil Jiyeon ketika tiba di ruang tengah. Dia mencari sosok polisi yang katanya akan menjaganya. Namun dia sepertinya tidak ada atau mungkin tidur di tempat lain.

 

Kemana polisi itu? pikir Yongguk. Dia mencari keluar dan dia tidak melihat siapa-siapa. Dan malam yang dilihatnya terasa sangat mencekam, atau dia merasa karena Jiyeon sedang dalam bahaya. Diliriknya Jiyeon yang terlihat hilang. Parasnya tak bisa dijelaskan oleh sebuah kata. Pikirannya seperti sedang berada di suatu tempat. Jauh, atau mungkin dia sedang mencari sisi kenangan yang terhapus.

 

 

“Brengsek! kemana dia pergi. Kenapa tidak menjaga Jiyeonku !”

 

 

Yongguk menggeram kesal sambil menendang kursi didepannya. Jiyeon menoleh. Pucatlah dia.

 

“Siapa ?”  ujarnya menahan suara. Kedua tangannya menutup mulut. Sejenak Yongguk diam.

 

“Maafkan aku membuatmu takut. ” Bisik Yongguk.

 

“Apakah rumah ini berhantu ?” ujarnya ketika bola matanya menyapu ruangan gelap.

 

“Jangan takut !”  bisik Yongguk lirih. Mungkin dia tidak akan mendengarnya jika dia bicara pelan.

 

Diam. Dia hanya berdiri sambil menutup mulutnya. Wajahnya masih pucat. Alisnya terangkat dan tubuhnya gemetar.

 

“Sungguh ! jangan takut padaku!”  kali ini hanya diucapkan Yongguk tanpa suara. Dan dia  menoleh. Apakah dia masih mendengar Yongguk.

 

 

“Siapa di situ  ?”  tanyanya  dengan wajah pucat.

 

“Apa dia mendengarku. Tidak mungkin. ” Yongguk meragukannya. Dia bahkan tidak mengeluarkan suara.

 

 

“Siapa ?”  Jiyeon semakin panik. Dia bergerak mundur dan berusaha untuk kembali ke kamar. Tempat dimana dia paling tidak bisa merasa sedikit aman.

 

Yongguk membiarkannya. Toh, dia tidak akan ke mana-mana. Sementara Yongguk masih mencari sosok polisi tidak bertanggung jawab itu. Tiba-tiba Yongguk melihat bayangan di luar rumah. Dia melintas diantara pohon-pohon mahoni yang berjajar di tepi danau.

 

Siapa dia?

 

 

 

 

 

Yongguk,

 

Tubuhku melesat menjelajahi udara malam yang beraromakan asap dari kayu pembakaran. Tidak jauh dari sini memang terdapat tempat pembuatan tembikar. Mereka selalu melakukan pembakaran tembikar dengan tungku di malam hari untuk menghindari tekanan udara yang panas di siang hari.

 

Aku bergerak cepat menerobos semua belukar dan pepohonan. Kenapa dia menghilang begitu cepat. Mataku terfokus pada air danau yang tenang. Riaknya bergelombang dengan lembut. Angin malam ini sepertinya membawa begitu banyak cerita.

 

 

Beberapa tahun lalu, ketika menghabiskan malam bersamanya, Jiyeon. Danau masih sama seperti sekarang. Sepi , tenang dan aku bisa merasakan hatimu.  Lembut kulitnya kusentuhi dengan jemariku. Jiyeonku tersenyum, gelisah. Menanti cerita yang ingin kusampaikan selanjutnya.

 

“Kau terlihat seperti malaikat malam ini !”  ujarnya padaku.

 

“Malaikat penjagamu ”  balasku dengan senyum.

 

Bola matanya ditingkah sinar rembulan yang terpantul di riak danau. Seperti kilau permata yang mempesonaku. Dia tersenyum manja, bergayut di leherku mempermainkan gairahku.  Desah nafasnya seperti hembusan angin yang menerpa tubuh kami, diriku ,tubuhku yang tengah memeluknya dan tubuhnya yang rela dia berikan untukku sebagai persembahan. Cintanya, cintaku…hanyut.

 

 

Ada apa dengan parasnya?  kenapa aku  begitu menyukai keindahannya di saat dia menatapku, tersenyum dan merintih untukku. Harum tubuhnya seperti kelopak mawar yang merekah. Segar dan menentramkan.

 

Jiyeon ~

 

Lalu aku melihat lagi ke arah rumah itu, dan melihat ke dalam  kebisuannya yang menyimpan banyak cerita. Dan berangsur melenyapkan bagian dari kehidupanku. Seandainya aku bisa menyeruak dalam kehidupannya saat ini. Melebur di dalamnya, dan menghalau semua pedihnya.

 

Di sana masih sepi. Seperti duniaku yang sendiri…dan seperti dalam duniamu yang sendiri meski kau bersama dengan keramaian.

 

Kutinggalkan semua kejanggalan yang terjadi di luar sini, aku tidak tahu siapa manusia yang melintas sesaat tadi. Meski aku berusaha keras mencarinya, sepertinya dia sudah menghilang entah kemana. Ataukah dia hanya ingin memastikan Jiyeon, atau dia seseorang dari kepolisian yang sedang mengadakan pengintaian. Aku berharap demikian. Namun aku lebih memilih untuk bersama dengan Jiyeon.

 

Ya, Mungkin bayangan orang tadi adalah penduduk di sekitar sini yang sedang mencari musang. Bisa saja. Semoga bukan psikopat yang dikatakan polisi Moon.

 

 

 

Kujumpai Jiyeon~ku yang terbaring dengan ketakutan. Dia meringkuk dengan air mata yang menetes membasahi bantalnya.

 

 

Aku merasa sepi, asing, dan tersiksa. Kenapa semua ini kualami. Di mana semua orang yang kukenal. Appa. Eomma, mungkin juga kakak atau adik. Seperti apa mereka, dan siapa tunanganku. Bagaimana wajahnya ? apakah aku mencintainya . Kenapa semuanya harus meninggal. Dan siapa orang itu. Mantan kekasihku…apakah dia yang membunuh keluargaku ? kenapa dia harus melakukannya, apakah dia manusia? Lalu aku…siapa diriku, bagamana perasaanku? mengapa aku tidak merasakan kesedihan itu ?

 

Jiyeon~  panggilku ketika aku mendengar jerit hatinya. Kutumpukan lenganku di bantal, dan kubawa tubuhnya bersandar di dadaku. Kubelai rambut lembutnya dan kucoba untuk menenangkannya.

 

“Lebih baik kau tidak megingat apa-apa. Aku juga berharap kau tidak bersedih. Aku merasa beruntung kau tidak mengingat satupun dari mereka sehingga kau tidak harus measakan kepedihan itu…”  bisikku di telinganya.

 

“Kau siapa..?”  Bisik suaranya yang lemah.  Tanpa menoleh….aku mengerutkan dahiku.

 

“Apakah kau bisa mendengarku?”  tanyaku heran, terkejut mungkin. Jadi benar dia bisa mendengarku.

 

 

“Sejak pertama aku menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah menyadari tentang dirimu. Apakah kau tidak akan menyakitiku ?”

 

Dia bicara padaku dengan mata terpejam.

 

“Jiyeon .”  aku menyebut namanya.

 

“Apakah benar itu namaku ?”  tanyannya.

 

“Ya.” jawabku

 

“Lalu siapa namamu ?”

 

“Kau tidak harus tahu namaku.”

 

“Aku tahu namamu.”  sahutnya

 

 

Aku menatapnya. Benarkah yang dia katakan. Tubuhnya berbalik dan menatap ke arahku. Mungkin saja.Apakah dia bisa melihatku? aku bergeser, namun bola matanya tak bergerak. Dia tidak bisa melihatku.

 

“Apakah kau malaikat pelindungku ?”  Matanya penuh degan harapan. Aku tak kuasa untuk mengatakan bukan.

 

“Ya.”  ujarku ketika dia mengambil lenganku dan melingkarkan di badannya.

 

“Selamatkanlah aku dari manusia itu. Aku tidak tahu siapa dia, namun aku begitu ngeri jika harus mengingat lagi bahwa dia akan mati bersamaku. ”  Bicaranya seperti sebuah desahan, yang bergetar lembut melalui media angin dan menggelitik sukma lelakiku.

 

“Jangan terlalu memikirkan hal itu. Kau akan selamat bersamaku.”  Meski aku tidak tahu bagaimana aku bisa menolongmu.

 

“Tidurlah! Aku akan menjagamu. ” Bisikku. Dan aku memeluknya, memberi rasa tenang hingga terlelap.

 

“Aku ingin bermimpi tentang laki-laki itu lagi.”  ujarnya.

 

“Siapa..?”

 

“Dia yang memelukku ketika mentari bersinar. Wajahnya begitu damai dan dia mengatakan dia mencintaiku. Aku tidak tahu siapa dia, namun aku tahu dia sealalu ada untukku. Dan dia juga memaggilku Jiyeon. Sama sepertimu.”

 

Aku tersenyum. Mungkin itu diriku…

 

Meski tubuhnya gemetar, aku bisa merasakan dia mempercayaiku. Seperti inilah aku merindukan kekasihku. Mataku terpejam, ketika merasakan nafasnya berhembus semakin tenang.

 

 

 

Menuju pagi. Dan langkah kaki terdengar berat memasuki rumah dari pintu depan.  Yongguk melesat menerjang pintu dan mendapati polisi Moon berjalan sempoyongan menuju ruang tamu. Dan akhirnya menghempaskan dirinya di sofa. Mabuk. Bau alkohol memenuhi ruangan bercampur dengan bau keringat yang menusuk hidung.Semua atribut yang melekat di tubuhnya compang-camping berantakan. Kulit wajahnya turun dan semburat kemerahan merambah hingga daun telinganya. Mabuk berat. Keterlaluan.

 

Polisi ini mabuk saat bertugas.’Seharusnya dia mendapat sanksi atas semua yang dia lakukan. Kusiram wajahnya dengan segelas air.  Dia terkesiap. Seandainya aku bisa memukulnya dan membuat otaknya bekerja. Brengsek! dia meninggalkan Jiyeon-ku hanya untuk bermabuk-mabukkan. Matanya terbuka dan mungkin dia masih melihat aku. Otaknya masih coma saat hatinya bekerja.

 

“Kau siapa !”  tanyanya dengan intonasi nada tak beraturan. Sumbang. Pengap nafasnya membuatku muak. Aku menjauh.

 

“Hei..! Kamu siapa?”  dia berdiri mencoba melangkah namun tersungkur pada lantai kayu. Moon Jongup ! Aku akan membuat perhitungan denganmu di neraka jika terjadi sesuatu pada Jiyeonku!   Lalu dia terpejam lagi.  Huh!

 

Kakiku menuju ke arah kamar. Kembali pada Jiyeonku. Dan aku terpana…saat tiba pada pintu itu, aku melihatnya sedang melepaskan seluruh baju tidurnya. Lalu berjalan menuju ke arah lemari dengan hanya menggunakan pakaian dalamnya. Aku berpaling…resah dengan perasaanku sendiri.

 

Kulitnya begitu putih,indah dan lembut. Selembut sutra ketika aku menjamahi punggungnya.

 

Dia menoleh. Merasakan sentuhanku. Kulihat sorot matanya, sayu. Dia mungkin tidak bisa melihatku namun dia bisa merasakan hadirku, sentuhanku dan suaraku.

 

“Kau menyentuhku dengan indah.”

 

“Kau takut ?” tanyaku. Dia menggeleng. Benarkah?

 

“Kenapa tidak takut ?”  tanyaku lagi

 

“Kenapa harus takut ?”  tanyamu ganti. Aku tersenyum dan mengecup bahunya.

 

“Apakah kau akan menyakitiku ?”

 

“Tidak.” jawabku.

 

“Berarti aku tidak punya alasan untuk takut.”

 

Aku terdiam. Mengamatinya yang sedang mengganti pakaiannya.

 

“Apa kau bisa melihatku ?”  tanyaku.  Dan dia menggeleng.

 

“Kau tidak berpakaian di depanku. Aku laki-laki, meskipun aku mungkin mahluk tak jelas, namun aku masih bisa merasakan hasrat. Kau sungguh indah.”

 

Dia tersenyum. Wajahnya begitu ceria. Entahlah, mungkin dia sedang merasa tenang.

 

“Aku minta maaf. Mungkin karena kau tak terlihat maka aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Apa kau benar laki-laki ?”

 

“Jiyeon…”  panggilku.

 

“Kau memanggil namaku dengan suara seperti itu. Aku merasa sepertinya kita sudah saling mengenal sejak dulu.”

 

“Mungkin.”  jawabku.

 

Dia melangkah meninggalkan kamar. Mungkin ingin ke dapur. Dia pasti akan melihat Polisi Moon yang sedang tertidur mabuk di lantai. Aku berada di sisinya.

 

“Dia mabuk.”  ujarku padanya, ketika matanya nanar melihat polisi Moon tengah tertelungup di tengah ruangan.

 

“Jadi semalam dia tidak menjagaku. ”

 

“Ya. Dia pantas di hukum.”

 

“Biarkan saja. Mungkin dia bosan. Aku kasihan padanya, karena aku dia harus berada di sini, mengorbankan semua waktunya hanya untukku.”

 

“Itu sudah tugasnya. Pekerjaannya. Dia polisi. ”

 

“Dia juga manusia, mempunyai keinginan dan kebutuhan.”  jawabnya membela laki-laki tak berguna itu. Aku sedikit cemburu. Tentu saja, saat dia mengatakan kalau polisi itu adalah manusia dan mempunyai hasrat. Dan aku….mungkin aku hantu. Mahluk astral. Tak jelas, namun aku measih memiliki keinginan. Untuk bersama Jiyeonku, melindunginya dan mencintainya dan berharap bis selalu bersamaya…seandainya mungkin.

 

“Apakah ada sesuatu yang bisa aku makan ?”  ujarnya sambil membuka kulkas.

 

“Kau ingin makan apa ?”  tanyaku.

 

“Sepertinya aku harus membeli sesuatu. Persediaan ini tidak ada yang bisa aku olah.”

 

“Apa kau ingin ke kota ?” aku menjadi khawatir.

 

“Apa harus ke sana?”

 

“Ya. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menemukan grosery.”

 

“Bagaimana aku bisa ke sana ?”

 

“Andwee..kau tidak boleh ke sana. Terlalu berbahaya. Aku tidak setuju. Bahkan si brengsek itu tidak bisa mengawalmu! Tidak !”  aku berteriak.

 

“Tidak apa-apa. Ini siang hari. Banyak orang di sana. Aku tidak akan apa-apa.”

 

Dia berjalan keluar melewati pintu. Dan dia tertergun pada danau yang yang terpampang di depan matanya.

 

Aku mendekatinya, dan merasakan bahunya terguncang. Jiyeon… kuintip kemilau matanya yang resah. Ada apa?

 

“Yongguk…”  bisiknya.

 

“Kau tahu namaku ?”

 

“Apakah itu namamu.”

 

“Ya.”

 

“Apa kita pernah bersama ?”

 

“Apa kau merasakannya ?”

 

“Aku pernah memimpikanmu.”

 

“Lalu…”

 

“Aku tidak tahu…”

 

 

Aku mengangguk, memeluk tubuhnya dari belakang. Menenggelamka wajahku diantara rambutnya yang tergerai.

 

“Jangan terlalu dipikirkan. ”  bisikku lagi.

 

“Aku tidak pernah memikirkan hal itu, namun dia hadir sendiri di kepalaku. Apakah ada bagian dari driku yang tersisa dari masa lalu ?”

 

“Jiyeon…aku adalah malaikat penjagamu.”

 

Tangannya memeluk lenganku yang melingkar di pinggangnya. Lalu terasa seperti air menetes di sana. Ketika kusadari dia menangis , aku tak sanggub untuk melepaskannya.

 

“Apakah kita memiliki rasa ? Kenapa saat kau memelukku, sepertinya aku pernah merasakan perasaan seperti ini di masa lalu? Apakah kau tunanganku yang dibunuhnya?”

 

“kau tidak akan mengerti jika aku ceritakan.”  dan akupun tidak tahu apakah benar kau adalah dirinya. Wanita dari masa laluku. Manusia wanita yang sama, dengan nama dan wajah yang sama, dan cerita yang sama, semuanya mengarah padanya. Aku masih terjebak di sini, mungkin kau dulu mati. Atau kau adalah keturunannya..atau kau adalah reinkarnasi dari dirinya. Kau sama…jiwanya, semuanya…apakah cintanya juga ?

 

“Aku akan berjalan-jalan sebentar.”

 

“Aku akan menemanimu.”

 

Kakinya melangkah, dan geraknya seperti lantunan bait lagu. Terkadang cepat lalu lambat, lirih dan mengalun seirama dengan hembusan angin.

 

“Jalannya agak sepi.”

 

“Tidak apa-apa. Kau menemaniku. ” jawabnya tenang

 

“Kenapa kau bisa mendengarku ?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Apakah kau memiliki semacam kelebihan seperti indera ke enam?”

 

“Tidak tahu.” jawabnya sambil menggeleng.  “Apakah aneh jika aku seperti ini ?”  lanjutnya.

 

“Tidak. Aku harap tidak. ”

 

Kita menuruni jalan berbatu. Semak peredu di kiri kanan seperti sedang menceritakan kisah masa lalu. Dia memperhatikannya dengan teliti.

 

“Apa kau mengingat sesuatu ?”

 

Tidak ada jawaban. Dia bersenandung sambil melangkah pada jalanan berbatu. Satu-satu menghitung pesan-pesan yang disampaikan kerikil-kerikil yang diinjaknya.

 

Setiap waktu memiliki peristiwa, dan setiap peristiwa memiliki masa yang berbeda. Ceritanya dan ceritaku sama. Kita terhubung oleh peristiwa yang tak berujung. Lorong waktu , dan mungkin juga kesempatan agar aku bisa menyelamatkannya, dan menyelamatkan jiwaku, rohku dari lingkup waktu yang terhenti. Di sini, aku sendiri…

 

 

 

tbc.

 

 

a/n

 

Aku berusaha untuk update, sebenarnya aku lagi banyak tugas. Tapi ya, semoga ini bisa sedikit melegakan penantian.

 

Jangan terlalu banyak nanya ya…wkkw! lagi ga mood bikinnya, mudah2 an di awal2 ini bisa dinikmati dulu moment romance nya.

 

belum ada hal yang menegangkan…hm * nyengir*

 

 

oke, see you…

 

peace,alana

Advertisements

29 thoughts on “REINKARNASI~1”

    1. Makasih udah suka sama Reinkarnasi. Aku pikir ff ini ngebosenin banget. Ga byk yang minta. Ya selera pembaca beda2. Sukur kalo suka.
      Next chapter, minggu ini. Makasih ya..

      Like

    1. Karena, apa ya…jiyeon yg hidup di masa sekarng adalah reinkarnasi dari jiyeon di masa lalu, saat Yongguk masih hidup, dan keduanya sama-sama hidup. yongguk belum bereinkarnasi karena dia masih mempunyai permasalahan yg belum selesai. Seperti itulah. Terus dia bertemu lagi dgn sosok jiyeon yg sudah bereinkarnasi menjadi sosok jiyi yg skr. Pusing ga? Mudah2an tidak.

      Like

    1. Hm gimana ya, Jy kan hidup di masa skr, sementara yongguk itu arwah yg hidup di dalam rumah itu. Mereka dulu di kehidupan sebelumnya adalah suami istri. Begitu, di prolog ada…

      Like

  1. Deabak !!!
    Poko na kereen ,
    Di tunggu bgt enemy n no regret y
    (งˆ▽ˆ)ง
    Mw curhat ni, sempat sedih kmrn jiyeon na msk rmh skt,
    Tp syukur lh, td dy dh perform ϑi Dream Hallyu Concert,
    Qm fans na jiyeon Ĵΰƍa ???

    Like

    1. Iya..oke, enemy will be appears maybe in the three more days.
      Jinjja, Jiyi masuk rmh sakit! Aq ga ngikutin kegiatan dia. Setelah gw mengundurkan diri jd managernya aku dah tau lagi kegiatan dia.
      Tapi aku suka SUGAR FREE..!

      Like

      1. Hahahaaa bs aja y … Mk na jd ja g manajer na hehehee
        Kshn bgt dy kena mslh pencernaan akut,
        Sedih bgt (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)​
        Dokter blg dy hrs byk istrht, eh q kaget td trnyta dy malah perform..

        Like

      2. Iya namanya jg profesional, kalo ga gitu T-ara ga jalan do comeback stagenya. Itu rambut Jy cepet banget panjangnya ya, padahal kmren di never ever pendek. Sambungan x ya…/lho jd ngobrol/

        Like

  2. bingung jiyeon takut knp?? apa dia terlahir lagi di negara yg lg perang/gmn??? jongup polisi mabuk terus lama2 jd mabuk janda hahaha..yongguk malaikat penjaga jiyeon daebak next

    Like

    1. Hehehe…jgn marah! Bukan maksud ga boleh tny, aku takut kalian ga puas dengan ff yg ini, soalnya biasa, Yongguk kan asing buat Jiyeon. Cuma aku aja kali yg bikin Gukie Jiyi

      Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s