TOMORROW [ 2nd ]

IMG_20141114_112839

 

 

Tomorrow 2nd

By. alana

Bang Yongguk feat Park Jiyeon

Romance ||  Fluff  ||  Drama

PG.17 / M

 

Yongguk meninggalkan rumah Jiyeon tepat jam lima sore. Katanya dia ada jadwal praktek sekitar jam enam. Jiyeon tersenyum saat dokter bertampang preman itu berlalu dari rumahnya. Entahlah sepertinya dia masih belum ikhlas melihatnya pergi. 

 

Pertemuan tadi begitu berkesan untuk Jiyeon. Dia menghela nafas berkali-kali. Bahagiakah ? Ada yang sepertinya membuat hatinya begitu melambung, namun sekali lagi dia berusaha untuk menahannya. Tidak berani. Jangan! Jangan seorang Yongguk. Dia terlalu tinggi dan terlalu ekstrim.  Bukan karena penampilannya saja yang membuat Jiyeon berpikir dua kali, namun juga karena Yongguk mempunyai kredibilitas yang aneh sebagai seorang dokter. 

 

 

////

 

 

Yongguk berdiri di dalam ruang prakteknya ketika ada seorang laki-laki yang belum terlalu tua masuk dan langsung duduk di kursinya. Dia mengenakan pakaian yang begitu rapi, dengan potongan berkelas dan tentu saja terlihat begitu mahal. Wajahnya sama kerasnya dengan Yongguk, hanya saja dia terlihat jauh lebih tua dari sang dokter bertampang preman itu. 

 

“Appa ?”  sapa Yongguk sambil mengalungkan stestoskopnya. 

 

“Kau tadi dari mana ?”  tanyanya dengan suara yang tegas dan dalam.

 

“Memangnya ada apa?  Apakah ada hal penting ?”  Yongguk mencoba untuk bersikap sopan. Walau sebenarnya setiap hari dia selalu saja bersitegang dengan Appanya ini.  

 

Laki-laki itu menatap tajam. Alisnya yang tebal terlihat terangkat bersama dahinya yang berkerut. Apakah dia tahu apa yang dilakukan Yongguk. 

 

“Apa tadi Appa menyuruh orang untuk mengikutiku lagi ?”  Yongguk mendengus.

 

“Siapa dia ?”  tanya laki-laki itu langsung.

 

“Siapa ?” tanya Yongguk ganti. Dia melihat Appanya sambil menunduk. Namun dipikirannya, Yongguk sudah tahu betul siapa yang dimaksud Appanya. Pasti karena seorang Jiyeon.

 

“Wanita itu, yang mempunyai seorang anak laki-laki, berusia tiga tahun dan bekerja sebagai guru di taman kanak-kanak Matahari. Dan lagi nama anaknya itu Yongguk. Appa sangat kaget sekali ketika mendengar hal itu.”  ujar Sang Ayah panjang lebar.

 

Yongguk tersenyum dingin. Dia benar-benar kagum dengan Ayahnya ini. Walau dia sudah tua, namun dia tetap menarik dengan cara berpikirnya. Dia sungguh detail dan sangat sempurna menjelaskan siapa Jiyeon yang tadi ditemuinya.

 

“Appa, bukankah dia anak yang sangat tampan. ”  Yongguk menyudutkan senyumnya.

 

“Jangan katakan kalau dia adalah anakmu !”

 

 

“Dia anakku Appa. ” Ujar Yongguk santai.

 

“Yongguk !”  hardik sang Appa sambil berdiri dari tempatnya duduk. Dia hampir saja melepaskan kaca matanya sendiri ketika dengan lantang dia berteriak menyebut nama putranya yang begitu keras kepala menurutnya itu.

 

“Appa, kita di rumah sakit. Kalau Appa ingin membuat perhitungan denganku, sebaiknya nanti di rumah saja.”  Ujar Yongguk sambil mempermainkan penanya dengan santai.

 

Ayahnya mendengus kesal, dengan mata yang tajam. Dia mencoba untuk tetap menahan diri supaya emosinya tidak lepas seperti barusan. 

 

Seorang perawat melongok dari balik pintu, namun tidak jadi bicara ketika dia melihat tatapan yang menghujamnya dengan dasyat.

 

“Sepertinya pasienku sudah menunggu. ” 

 

Ayahnya berjalan dengan kesal keluar ruangan tanpa permisi. Sudah bisa dipastikan bahwa nanti akan ada pertikaian hebat di rumah, atau tidak sama sekali karena mungkin Yongguk tidak akan pulang. Untuk apa jika harus mengetahui akan ada pertikaian tidak penting . Orang idiot mana yang mau bertengkar untuk hal yang tidak perlu untuk di pertikaikan.

 

 

////

 

 

Yongguk dengan santai berjalan memasuki ruang kerja Ayahnya di lantai dua. Ruangan yang tidak terlalu luas, dengan banyak buku di setiap dindingnya, tersusun rapi dari atas hingga ke dasar lantai. Semua adalah koleksi yang bagus dan tidak jelas apakah semua buku itu pernah dibaca oleh pemiliknya atau hanya ingin menunjukkan harga diri dari si pemiliknya saja. 

 

Laki-laki itu sudah menunggu dengan posisi yang tegang, menumpangkan kedua lengannya di atas meja sambil terus memperhatikan kehadiran putranya dengan tatapan tajam.

 

“Malam Appa !”  sapa Yongguk. Kali ini dia tidak bergaya seperti biasanya. Dia terlihat sedikit lebih rapi walau dia tidak pernah meninggalkan antingnya. 

 

Ayahnya hanya mendengus. 

 

“Dia janda seorang tentara. Suaminya meninggal di Palestina. Kau yang membantunya melahirkan. Itu sebabnya dia memberikan namamu untuk anaknya. ” 

 

Yongguk hanya tersenyum. Dia bertepuk tangan untuk Ayahnya. Lalu apa lagi yang harus dijelaskannya. Dia lalu berdiri dari posisi duduknya dan berjalan keluar. Belum sempat dia menutup pintunya, Ayahnya sudah memberi peringatan.

 

“Jangan kau temui dia lagi, atau dia akan mendapat masalah.”

 

“Kalau Appa menyentuhnya, maka aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini. Appa bebas mencoretku dari daftar warisan dan mungkin mencoretku sebagai anak. Aku tidak perduli !”  ujar Yongguk dalam. Dia mendengus sebentar sebelum dia pergi.

 

Semua berawal dari keputusan Yongguk yang ingin mengambil kuliah seni, namun Ayahnya menghendaki dia menjadi seorang dokter atau pengacara. Bukan seorang pengusaha. Dia tidak mempunyai hasrat dengan ilmu kedokteran, namun pada akhirnya dia harus mengalah demi keinginan sang Ayah. 

 

Lalu setelah lulus, masih ada yang menjadi pe-er untuk dirinya. Menjadi seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama dengan rekomendasi dari Ayah seorang gadis yang nantinya akan dinikahinya. Ini sangat menarik, namun Yongguk sama sekali tidak tertarik. Dia memilih untuk menjadi dokter untuk kalangan miskin yang hidup di daerah kumuh dan jauh dari kata mewah. Dia selalu menjadi sahabat untuk anak-anak kecil dan dokter yang baik hati tanpa memungut upah sepeserpun dari mereka. 

 

Sebagian waktunya dihabiskan hanya di jalanan. Meski dia mempunyai jadwal praktek di rumah sakit, namun hal itu tidak mengikatnya untuk menjadi manusia yang sekedar bekerja untuk formalitas belaka. Dia merasa bahagia jika dia bisa membantu orang lain dengan perasaan ringan.

 

 

Ayahnya yang mati-matian mengusahakan Yongguk untuk mapan, justru dibuat kelimpungan karena putra bungsunya itu sama sekali tidak memperdulikannya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain bertikai dengan putranya itu setiap hari.

 

 

////

 

Entah kenapa langkah kakinya kembali ke depan rumah ini. Yongguk berdiri tanpa jelas mengetahui, atau karena dia hanya ingin mencari pelarian yang nyaman.  Diperhatikan pintu yang tertutup itu dengan tatapan nanar. Di dalam sebagian lampunya masih menyala. Juga didengarnya ada music yang mengalun dengan lembut. Apa yang sedang Jiyeon lakukan di dalam. 

 

Yongguk tidak berani untuk mengetuk pintunya, dia duduk pada bangku di teras rumah Jiyeon yang remang. Jantungnya berdegub dengan kencang. Kenapa dia bisa tiba di sini lagi. Pertanyaan itu berulang lagi.

 

Malam yang dia lihat seperti malam-malam yang sebelumnya, namun entahlah kenapa malam ini rasanya hatinya begitu penat. Perasaan sesak akibat pertikaian dengan Ayahnya akhir-akhir ini semakin membuatnya hampir depresi. Dia bisa saja berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan hidupnya, namun kenyataannya dia memikirkan betul-betul kemana arah hiupnya ini akan dia bawa.

 

Lalu tiba-tiba pintu terbuka. Cahaya lampu dari dalam menghadirkan bayangan yang panjang dari sosok wanita yang muncul dengan wajah bingung dan cemas. Dia menatap Yongguk tanpa kata-kata.

 

“Kau tau aku di sini ?”  tanya Yongguk dengan hanya menolehkan kepalanya sedikit.

 

“Ada tetangga yang meneleponku, katanya ada seorang laki-laki duduk di teras rumahku dengan sikap mencurigakan. Lalu aku mengintip dari jendela. Dan ternyata itu dirimu.”

 

jiyeon masih berdiri dipintu. Dia tidak berani mendekat, karena mungkin saja banyak mata yang memperhatikan dirinya dari balik tirai jendela rumah para tetangganya.

 

“Apa aku mengganggumu ?”  tanya Yongguk dengan suara yang berat.

 

“Tidak. Aku belum tidur.  Kenapa dengan dirimu ?”  Jiyeon tersenyum

 

“Tidak ada apa-apa, hanya tiba-tiba saja merasa aneh dengan pertemuan kita tadi.”

 

“Aneh ?”  Jiyeon tidak mengerti.

 

“Apa ada seseorang yang datang ke sini setelah aku pergi tadi ?”

 

“Hm, tidak.”  jawab Jiyeon.

 

Yongguk melirik Jiyeon sekali lagi. Dia menemukan wanita itu berdiri dengan posisi yang canggung. 

 

“Apa Yonggi sudah tidur ?” tanya Yongguk lagi

 

“Sudah. Maaf aku tidak mengajakmu masuk, karena kau tahu sendiri, aku ….”  Jiyeon tersenyum.

 

“Ya, aku mengerti. Lagipula aku tidak akan lama. ”  Sebenarnya Yongguk kecewa kenapa dia tidak diijinkan masuk. Padahal dia ingin sekali bicara lebih banyak dengan Jiyeon. 

 

“Berikan nomor ponselmu. Sepertinya aku akan sering menghubungimu !”  ujar Yongguk sambil menatap lekat-lekat ke mata Jiyeon. 

 

“Sebentar, aku ambil dulu ponselku. Aku tidak hapal nomorku sendiri.”  Jiyeon berusaha mencari alasan, padahal dia sungguh gemetar demi melihat tatapan itu. Yongguk terlalu kuat dengan daya tariknya. Dia menghela nafasnya sambil berjalan ke sana kemari. Lalu mengambil ponselnya dan berjalan keluar lagi. 

 

“Ini, ambilah sendiri !”  Jiyeon tidak tahu harus bagaimana menghadapi rasa gugubnya.

 

“Apa besok kau sibuk?”  tanya Yongguk sambil memencet nomernya sendiri dari ponsel Jiyeon.

 

“Besok ?”  

 

“Ya. Besok.” 

 

“Aku tidak tahu, aku tidak terbiasa membuat schedule untuk kegiata harianku. Kau tahu hidupku dan Yonggi sama sekali tidak berschedule. Semua kegiatanku adalah Yonggi. Jadi sepertinya random. Aku tidak mengkhususkan satu haripun untuk sibuk atau tidak sibuk. Seluruh waktuku berjalan seperti itulah Yonggi menjalani hidup. ”  Jiyeon menjelaskannya dengan bijaksana. Dia tidak mau Yongguk salah mengerti dengan dirinya.

 

“Jiyeon, aku mengerti. Kau tidak usah khawatir. Maksudku jika kau mempunyai waktu, aku akan mengajakmu dan Yonggi jalan-jalan. Aku tidak ada praktek untuk besok. Dan aku memutuskan untuk refreshing. “

 

“Yongguk, jika kau mengajak kami, kau tidak akan bisa refreshing. Yonggi sangat aktif, dia tidak mau diam, dia bisa sangat merepotkanmu.”  Jelas Jiyeon .

 

“Aku senang direpotkan Yonggi.”  Yongguk sudah mencoba untuk memberi isyarat pada Jiyeon, walau dia sendiri masih belum jelas dengan hatinya.

 

Jiyeon terdiam sambil menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Dia terus menatap Yongguk yang menatapnya. Beginikah dua manusia yang sudah dewasa dalam menerjemahkan perasaannya. Jiyeon melihat kalau Yongguk tertarik pada dirinya. Dia mungkin ingin memantabkan perasaannya dengan meminjam sedikit waktu lagi dari Jiyeon untuk menyatakan hatinya. 

 

“Yongguk, aku selalu ada waktu untukmu. ”  hanya itu yang Jiyeon katakan. Mewakili semua jawaban yang diinginkan.

 

“Terima kasih.”  Ujarnya sambil berdiri. Jiyeon sepertinya masih merasakan perasaan yang berat ketika melihat punggung Yongguk membelakanginya. Seperti tadi sore saat Yongguk meninggalkannya. Kenapa semuanya terasa hampa ketika dia pergi.

 

“Besok aku akan datang lagi.”  ujarnya dengan senyum yang khas. 

 

 

////

 

 

 

Jiyeon mempersiapkan bekal makanan untuk Yonggi. Dia sangat bersemangat sejak pagi. Dia tahu hari ini Yonggi pasti akan senang sekali. 

 

Jiyeon melirik ke arah putranya yang masih bermain di depan teve. Dia belum tahu kalau Yongguk akan mengajaknya pergi jalan-jalan. Apakah Yongguk akan menjadi sosok yang tepat untuk Yonggi ?

 

Jiyeon duduk di kursi dan mendadak terdiam. Dia tidak tahu apakah hal ini adalah benar. Perasaannya begitu ragu, namun dia tidak memungkiri jika hatinya behagia, hingga seluruh tubuhnya gemetar merasakannya. Sejak Himchan tidak ada dalam hidupnya, baru kali ini dia menemukan sosok seorang laki-laki yang membuatnya seperti ini. 

 

Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Jiyeon mengintip dari balik tirai. Itu Yongguk dengan jeep warna biru tua. Mobilnya seangker orangnya. Jiyeon tersenyum. Tidak lama kemudian pemiliknya keluar dari monil itu dan berjalan menuju ke depan pintu.

 

“Eomma, siapa ?” tanya Yonggi.

 

“Bukakan pintunya, Yonggi !”  perintah Eommanya

 

“Neh !”  Yonggi berdiri dan berlari untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian sudah berteriak senang. 

 

“Appa !”  

 

“Yonggi !”  sebut Yongguk. 

 

Jiyeon merasa serba salah ketika Yonggi selalu memanggil Appa pada Yongguk. 

 

“Maaf !”  ujar Jiyeon lagi.

 

“Maaf untuk apa ?”  tanya Yongguk.

 

“Panggilan itu, mungkin akan membuatmu risih.”

 

“Tidak masalah. ” Yongguk menatap Jiyeon dengan sorot yang lembut. Dia membawa Yonggi dalam pelukannya.

 

“Apa begini sudah tepat ?”  tanya Yongguk kemudian. Jiyeon mengernyit.

 

“Apa ?”

 

“Menggendong seorang anak ?”  

 

Jiyeon terpekur menatap hal itu. Sementara Yongguk masih menatapnya sambil menggendong Yonggi dengan hangat. Ada perasaan haru di hati Jiyeon. Dia bahagia, namun juga khawatir. Takut seandainya semua ini hanya sesaat saja, lalu Yonghi akan kecewa. 

 

“Jiyeon !”  panggil Yongguk. 

 

“Hm..?”

 

“Apa kita sudah siap untuk berangkat ?”

 

“Appa, kita mau kemana ?” tanya Yonggi.

 

“Kita ke kebun binatang, mau ?”  tawar Yongguk.

 

“Kebun Binatang ?”  ulang Yonggi senang

 

“Ya. Kita lihat harimau, gajah, beruang, ular…”

 

“Bulung, cinga..”  lanjut Yonggi.

 

“ikan raksasa…!”  ujar Yongguk dengan tatapan penuh arti pada Jiyeon. 

 

Hati Jiyeon berdebar.debar.  Apakah tatapan itu benar-benar untuknya. Ditariknya nafas dalam-dalam sambil merapikan bekal Yonggi kedalam tas.

 

“Ayo berangkat !”  ujar Jiyi  kemudian.

 

“Belangkat !”  teriak Yonggi senang.

 

Yongguk meletakkan Yonggi di jok belakang dan memasang sit beltnya. Jiyi tersenyum memperhatikan tingkah Yonggi yang merasa risih dengan semua hal itu. Dia mungkin merasa terpenjara dengan tali yang mengikat tubuhnya.

 

“Eomma !”  teriak Yonggi putus asa.

 

“Sabar, Sayang!  kau harus emakai itu supaya aman. Oke ! ” Jiyeon mengacungkan jempolnya.

 

“Hanya lima menit !” ujar Yongguk menenangkan. 

 

“lima menit itu begini ?”  ujar Yonggi sambil memamerkan lima jari tangannya pada Yongguk

 

“Wow, Yonggi pintar sekali ya ! Siapa yang mengajari ?”

 

“Eomma !”  teriak Yonggi dengan semangat.

 

 Gongguk melirik Jiyeon yang duduk di sisinya. Dengan tatapan itu Jiyeon tidak sanggub untuk bernafas tenang. Senyuman itu meluruhkan hatinya. Kalau saja Jiyeon bisa berteriak, pasti dia akan berteriak seperti orang bodoh sepanjang jalan. 

 

Joyeon hanya sanggub ,enunduk, dan menyimpan semua rasa nervousnya di dalam jemari tangannya yang dia remas-remas sendiri.

 

Perjalanan terasa begitu cepat. Atau karena Jiyeon terus berharap bisa berada di sisi Yongguk selama yang dia mau. Aigo !

 

Kenapa jarak kebun binatang dan rumahnya benar-benar hanya lima menit. Jiyeon mengeluh dalam hati. Dan ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat Yonggi tertidur. Bocah itu pasti merasa bosan sepanjang perjalanan tadi, sehingga dia bisa tertidur seperti itu.

 

“Apa kita harus bangunkan ?”  tanya Yongguk

 

“Kita tunggu hingga dia bangun. Moodnya jelek kalau bangunnya dipaksa. ” ujar Jiyeon sambil mengusap keringat di dahi Yonggi.  

 

Yongguk mengangguk. Lalu dia  melangkah mendekati Jiyeon.  Suasana yang tidak terlalu ramai membuat Jiyeon terlihat lebih lega. Dia sering merasa stress jika harus berada di tempat keramaian. Cukup baginya berada diantara anak-anak yang menjadi muridnya saja, dia pusing, jangan di tambah dengan kebisingan public. 

 

“Apa kau baik-baik saja ?”  tanya Yongguk.

 

“Ya. Lumayan.” jawab Jiyeon. Dia sedikit mendongak untuk menatap Yongguk. karena laki.laki itu cukup tinggi.

 

“Biasanya berapa lama Yonggi tidur ?”  tanya Yongguk penasaran.

 

“Hm, hanya dua jam-an.  Kenapa ? Apa kau merasa bosan seperti ini ?’ 

 

“Tidak. Sama sekali tidak. Aku berharap dia masih agak lama terlelap, supaya kita bisa lebih santai bicara. “

 

Jiyeon menunduk. Apa maksudnya dia bicara seperti itu. 

 

“Apa kau punya seseorang yang dekat denganmu ?”  tanya Yongguk tanpa memperhatikan Jiyeon. Dia hanya menatap lurus.

 

“Menurutmu ?”  

 

Yongguk menoleh.

 

“Bagaimana aku menurutmu ?”  tanya Yongguk lagi, tanpa memperdulikan jawaban Jiyeon. Dan pertanyaan itu membuat  kegugupan Jiyeon menjadi-jadi.

 

“Hm…hm…Secara fisik atau…”  

 

“Keduanya!”  tegas Yongguk dengan menatap lurus pada bening marble Jiyeon yang berkilauan ditimpa mentari.

 

“Secara fisik, kau sungguh Wow, orang tidak akan menganggabmu seorang dokter dengan penampilanmu yang seperti itu. “

 

“Apa aku tampan, menurutmu ?”  Yongguk melirik Jiyeon dengan malu-malu. Aduh, apa-apaan ini ? Apa dia sedang menguji Jiyeon dengan pertanyaan narsist itu ?

 

“Sedikit. ” jawab Jiyeon.

 

Yongguk tertawa ringan. 

 

“And how about my inside ?”  Yongguk menunggu dengan sesekali menahan nafasnya. Apakah jawaban dari seorang Jiyeon itu penting untuknya.

 

“Kau sangat luar biasa sempurna sebagai seorang laki-laki.  Apakah jawaban ini membuatmu puas ?”   Jiyeon tersenyum. Sepertinya dia bisa menguasai dirinya sendiri kini.

 

“Hm, mungkin.”  Yongguk menoleh.

 

“Kenapa tidak optimis ?”  Jiyeon merengut. Dia merasa Yongguk kurang puas dengan jawabannya.

 

“Apa kau menyukai diriku yang luar biasa sempurna ini sebagai seorang laki-laki ?”  tanyanya dengan lirikan yang syahdu. Jiyeon membelalakkan matanya. 

 

Baru saja dua hari dia bisa berkata seperti itu. Jiyeon menunduk. Dia tidak sanggub untuk menjawabnya. Terlalu gegabah jika dia mengatakan dia menyukai sosok Yongguk yang belum terlalu dikenalnya. 

 

“Sepertinya kau tidak menyukaiku.”  Yongguk menghela nafasnya.

 

“Tidak begitu. ”  Jiyeon menoleh, merasa tidak enak karena tidak memberi jawaban apa-apa.

 

“Aku mempunyai masalah dengan cara hidupku.”  Tiba-tiba Yongguk mengeluarkan rokok dari dalam saku kemejanya. Dia merokok ?  Jieon melihatnya heran.

 

“Tidak apa-apa kan kalau aku merokok ?” 

 

“Silahkan !”  ujar Jiyeon.

 

Lalu Yongguk berjalan agak menjauh. Dia tidak mau asap rokonya dihirup oleh Yonggi dan Jiyeon.

 

“Kupikir kau tidak merokok, karena kau seorang dokter.”

 

“Aku perokok, walaupun bukan perokok berat. “

 

“Apa kau tidak takut dijangkiti penyakit kronis ?”  

 

“Tidak. Toh, manusia tidak akan hidup sampai seratus tahun. ” jawabnya santai.

 

“Begitukah ?”

 

“Aku suka merokok, apalagi jika aku sedang banyak pikiran.”

 

“kau banyak pikiran sekarang ?” selidik Jiyeon, namun Yongguk hanya mendesah. 

 

Yongguk menghisap rokoknya, lalu mengotori udara dengan asapnya yang mengepul ke sana sini. Jiyeon membayangkan bibir itu jika menciumnya. Aroma tembako pasti membayang di sana. Digigitnya bibirnya sendiri. Lalu menahan nafas sebentar. Dia terlihat lebih menantang saat ini. Bukan saja dari segi fisiknya, namun juga cara dia mengekspresikan rasa penatnya dengan rokok. Sepertinya Jiyeon sudah terjebak dalam pesona seorang preman.

 

 

 

 

 

/tbc/

 

 

 

a/n

 

Maaf pendek aja, soalnya dibagi-bagi waktunya dengan epep yang lain. Next chapter dua kali lipat deh ! 

 

Di sini storynya fluff. Ga akan ada hal yang terlalu berat, meski Buuaapaknya Yongguk kliatan galak gitu. Tapi tetap ga akan mempengaruhi romantisme Jiyi n Yongguk nantinya. Oke, kita simak kelanjutannya di lain waktu.

 

See you !

Advertisements

40 thoughts on “TOMORROW [ 2nd ]”

  1. Waduh bapaknha sadis juga yaa, tapi ga usah khawatir jeng lana menjajikan bapaknya ga bakal ngaruhin romantisme yongguk jiyi, wkwkwkwk
    Walah si jiyi yadong juga ya sampe perhatiin bibir si yongguk dan berfantasi liar, heoollllll gila weh, wkwkwkw, semoga anaknya jiyi jangan dlu bangun biar emak nya bisa ehmmmmm sama appa nya yg baru, hahahah

    Liked by 1 person

  2. ceritanya makin seruuuuu!!!! tapi masih ada typo yang agak ngeganggu *maaffff* tapi keseluruhan bagus kok….

    jadi pengen tau sebenernya yongguk itu nyimpen apa di dalam hati /eak/ dan pengen tau jg gimana perasaan jiyeon ngeliat yongguk ngerokok…

    udah ada lanjutannya kah? o.O

    Liked by 1 person

  3. Jd aq sdh ketinggalan g bc ff km dan g bs komen d urutan awallll wuahhhhhh hahahahaa maaf apaaan sih aq ini,,,,alanaaaa ff km daebak lah sepeeti biasa gaya bhs yg tegas aq plng sk…..,, iya ituh appa yongguk detektibe ya tahu bgt si jiyi gmn…,ini ff yg menceritakan bgmn seorangjanda mengurus anaknya sendiri dan mengenai hub yg g d restui ya.,,,,,aduh kasihan jiyi nihhh

    Liked by 1 person

      1. No Regret juga ending nanti. Masih bingung Myung pa Dae.
        Kalo yg ini mulus, ga ada konflik berat.
        Winter dah ending. Satu2 kelar. Bentar lagi UAS. Wkwkw..

        Liked by 1 person

      2. Oalah bgtu,,,,okokkkk semangt deh menulis dan kuliah bkn hal mudah…….ehm kykny aq udh ketinggalan ff kmu byk bgt malming bakal aq baca and komen ,,,,,g sbr nunggu malminggg

        Liked by 1 person

      3. Itulah masalahnya. Kadang kalo pngn nulis, ga bisa ditahan. Aq juga pusing. Udah komitmen nulis di sana sini, jdnya ga enak ma admin nya. Moga mo hrs ngisi. Sebulan kan 2 kali.

        Kuliah em susah, apalagi jdwalku malm. Siang aq kerja. Waktu senggang pas kerja aq pake buat belajar n ngerjain tugas di kantor. Trus bikin epep, sambil jalan, pake tablet. Di bis, di mana aja. /curhat/
        Gasa maksain mbaca epep q, aq lagi galau skr! Ga nulis apa2!

        Liked by 1 person

      4. Iy alana gpp aq jd tempat curhatan kmu…..suka deh sm author yg hem akrab sm readers……bentar bentar km kerja apaan sih? Penasaran deh……ad hub sm buat ff?

        Like

    1. Dah sama-sama author jadi ga usah sungkan-sungkan!
      Nih couple fave.ku selain Krisyeon. Ichibang ,Yongguk n Jiyeon.
      Thank juga author Dewi.

      Like

  4. “Mobilnya seangker orangnya.” Cekakak~ sial! loe nistain suami sendiri jeng!
    yongguk yg karimatis :*
    ff loe tuh kyk ngegambarin loe yg pny sikap dewasa soal cinta dan hidup. cieee lana pengalaman yaaa ajarin boleh. Cekakak!
    Buuaapaknya,, jgn byk mengganggu ya lan…

    Liked by 1 person

    1. Weh sedewasa apa, sih aq sampe ada yg minta diajarin, dewasa sih tergantung sikap orang menyikapi hidup/.tsk/

      Aq begini karena aq idup sendiri Jeng di Jakarta. /curhat/
      Mo ga mo harus dewasa, kalo ga aq payah sendiro. Gada yang kasih uang aq! Cari sndri, apa-apa ndiri, mendingan kalo belum waktuna dewasa jgn dewasa. susah!

      Like

  5. Omo ada apa dgn to be continued.. when this ff will continue saengi? Kekekeke..
    Aigo appa yongguk seram amat dah udh kyk presiden.. sewa tim penyelidik pro drmn tuh.. kwwkwkkw.. sampe ms lalu yg utk bantu ngelahirin aja dy tau.. dpt saksi hidup drmn dia 😣 wkwkwkk
    Omo yongguk jiyi fighting ne.. kpn kalian mesra n ciuman mumpung yonggi sedang tidur loh.. kwwkk plak.. maafkan eonni ya.. saeng lanjut dong.. kwwkk..

    Liked by 1 person

  6. pantes penampilan yongguk seperti preman ternyata mau kuliah seni.pokoknya suka dg alurnya yg slow.kyay dasar ya pikiran jiyeon itu mencerminkan banget klau udah pengalaman ama himchan.prihatin ama hidup yongguk yg serba diatur appanya.smoga dg bersama jiyeon punya tujuan hidup yg mantap.

    Liked by 1 person

    1. Iya, nanti, next story ya! Aq blm mepikiran. oke nanti aq bikin stlah baca komentar qm. Khusus BAP aja yach! Ga pake Jiyeon…wkwkw…reader q banyakan dari Jiyeon’s lover sih ! Hahaha…jd apa-apa pake Jiyeon.

      Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s