TOMORROW [3rd]

CreditposterbyLadYOong @PosterChannel
CreditposterbyLadYOong @PosterChannel

Tomorrow 3

By. Alana

Park Jiyeon feat Bang Yongguk

This story is mine ! Cast belongs to unknown .

.

.

 

Yongguk menghisap rokoknya, lalu mengotori udara dengan asapnya yang mengepul ke sana sini. Jiyeon membayangkan bibir itu jika menciumnya. Aroma tembako pasti membayang di sana. Digigitnya bibirnya sendiri. Lalu menahan nafas sebentar. Dia terlihat lebih menantang saat ini. Bukan saja dari segi fisiknya, namun juga cara dia mengekspresikan rasa penatnya dengan rokok. Sepertinya Jiyeon sudah terjebak dalam pesona seorang preman.

////

Jiyeon masih memperhatikan kesibukan Yongguk dengan rokoknya. Sebatang rokok putih yang terlihat begitu beruntung berada di bibirnya. Sangat sexy dengan bentuknya yang slim , manis, dan rasa tembako yang terbakar itu kenapa sekarang menjadi semacam candu di benak Jiyeon.

“Kau suka melihatku merokok ?”  tanya Yongguk dengan sudut senyumnya yang menggoda.

“Hm,…?”  Jiyeon menunduk sebentar, menikmati rasa gugubnya.

“Kelihatannya baru kali ini kau terpesona melihat laki-laki merokok.”

“Ya.”  Jiyeon tersenyum. Dia sependapat dengan Yongguk. Tatap mata mereka bertemu.

“Karena rokoknya atau karena diriku ?”

“Keduanya.” jawab Jiyeon dengan malu-malu.

“Apa kau tidak berpikir kenapa aku secepat ini melakukan pendekatan padamu ?”

Jiyeon membelalakkan matanya. Pendekatan. Dia jujur sekali. Benar-benar spontan. Senyum Jiyeon berubah rancu. Hal itu hanya disikapi dengan senyum geli Yongguk yang menatapnya gemas.

“Ya. Kenapa ? Aku tidak saja heran namun juga curiga. ” ujar Jiyeon sambil melirik Yonggi yang sepertinya mulai terbangun.

Yongguk membuang rokoknya di tempat sampah sesudah mematikannya. Dia mendekat ke arah Yonggi.

“Apa dia bangun ?”  tanyanya dengan hati-hati. Dia berdiri di sisi Jiyeon .

“Sepertinya begitu.””Jiyeon mengusap keringat di kening Yonggi.

“Yonggi !”  Panggil Yongguk dengan menyanyikan nama bocah lucu itu. Yonggi menggerakkan tangannya sedikit, lalu mengerjab-ngerjabkan matanya. Dia mematutkan mulutnya bingung. Mungkin dia berpikir kenapa terbangun dengan tubuh terikat.

“Eomma, Yonggi mau pipis !”  teriaknya manja.

“Aigo !”  Yongguk segera melepaskan Yonggi dari sitbelt nya, dan menggendongnya.

“Mau ke mana ?”  teriak Jiyeon ketika melihat Yongguk menggendong Yonggi ke arah yang salah, karena toiletnya berada di sebelah kanan mobil mereka, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.  Yongguk berbalik dan tersenyum ke arah Jiyeon.

“Lain kali aku membutuhkanmu untuk membetulkan arah dari langkah hidupku !”  ujarnya ketika melewati Jiyeon. What ! Jiyeon mengerutkan dahinya. Apa arti dari kata-kata itu. Dia hanya tersenyum.

Tidak lama kemudian, Yongguk kembali bersama Yonggi dengan wajah ceria. Merek hergandengan dengan akrabnya. Semakin lama mereka bersama , semakin dalam saja ikatan yang terjalin. Yongguk tidak kesulitan sedikitpun mendapatkan perhatian Yonggi. Naguslah! Pikir Jiyeon.

“Yonggi mau lihat binatang apa dulu ?”  tanya Jiyeon.

“Bagaimana kalau aku berikan teka teki?”  Ujar Yongguk sambil melirik Yonggi.

“Teka teki apa ?” tanya Jiyeon.

“Dia punya badan yang besar, lalu kakinya pendek,….”

“Lehelnya panjang, kakinya pendek…”  serbu Yonggi kemudian. Dan Jiyeon tertawa geli.

“Binatang apa itu ?” tanya Jiyeon pura-pura bingung.

“Eomma, itu Golila !” sebut Yonggi.

“Gorila, lehernya panjang ?”  Yongguk tersenyum lucu.

“Golilanya sedang menggendong bebek !”  seru Yonggi dengan wajah cerianya yang polos. Jawabannya mengundang tawa.

“Baiklah, sekarang gorilanya menggendong bebek.”  Yongguk langsung mengangkat tubuh Yonggi . Dia berjalan sambil melirik Jiyeon yang terkekeh-kekeh. Dalam hati Yongguk sungguh terpesona dengan Eomma Bebek yang berjalan di sisinya ini. Gorila dan Bebek ?  Akhirnya Yongguk tertawa juga.

“Maaf, aku hanya bisa menggendong satu bebek saja. ”  senyumnya membuat Jiyeon meratap dalam hati. Aigo..! aliran darahnya berdesir hebat.

“Tidak apa-apa Eomma Bebek bisa berjalan sendiri.” jawab Jiyeon menimpali.

“Aku berjanji, akan menggendong Eomma Bebek lain kali !”  ujar Yongguk sambil mengukir senyum di bibirnya. Jiyeon hanya menunduk menyembunyikan paras malunya yang merona.

.

.

Udara siang ini memang agak panas. Fiuuh….!  Jiyeon menyeka peluhnya. Pikirannya merantau pada hari-hari yang dilaluinya ketika harus menghadapi kesendiriannya beberapa waktu ini. Tidak ada dalam pikirannya untuk membuat perjanjian dengan seorang namja manapun untuk melengkapi kehidupan Yonggi. Namun ketika dia bertemu dengan Yongguk, kenapa semua terasa begitu mendalam.  Apakah ini sudah takdir dari hidupnya.

Jiyeon senang melihat senyum Yonggi.Di bangga dengan kehadiran Yongguk untuk Yonggi. Ada keharuan yang dia rasakan, dan itu membuatnya memalingkan wajahnya ketika Yongguk menoleh ke arahnya.

.

.

.

“Apa ada hal yang kau pikirkan ?”  tanya Yongguk.  Ketika mereka berdiri di depan sebuah air mancur di kolam buatan. Airnya begitu jernih, dan ada pohon maple yang menaungi. Sekejab saja kesejukan mengalir di benak Jiyeon. Dia menggeleng menjawab pertanyaan Yongguk. Dia sibuk memegangi Yonggi yang bermain dengan ikan-ikan di dalam kolam.

” Aku hanya memikirkan beberapa pekerjaanku.”  jawabnya kemudian.

“Kita sedang refreshing. Sebaiknya urusan pekerjaan disingkirkan dulu.”  saran Yongguk bijak.

“Eomma, ikannya banyak sekali !” teriak Yonggi senang. Jiyeon tersenyum merespon teriakan Yonggi.

“Aku sudah berusaha. Tapi sepertinya aku memang tidak pernah lepas dari kesibukan.”  Jiyeon memegang tangan Yonggi. Bocah itu berada dalam pegangan Yongguk.

“Aku punya hal yang ingin kuceritakan padamu.”  ungkap Yongguk.

Lalu mereka saling menatap. Ada banyak hal yang disampaikan lewat tatapan itu. Dan sepertinya Jiyeon ingin mengetahui hal itu. Dia ingin mendengarkan Yongguk. Dia ingin memperhatikan dengan tulus apa yang ingin diungkapkan Yongguk padanya.

.

.

.

.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan tempat untuk beristirahat. Beberapa  binatang sudah mereka lihat. Mulai dari gajah, buaya, singa, unta lalu macam-macam reptil dan ular, dan yang terakhir adalah jerapah. Yonggi sangat terpukau melihat jerapah. Mungkin karena dia mempunyai badan yang cukup besar dengan leher yang begitu panjang.

.

.

.

.

“Yonggi, makan dulu ya !”  Jiyeon mengeluarkan beberapa makanan dari dalam tasnya. Dan Yongguk memperhatikannya dengan antusias.

“Food..!”  Ujarnya senang seperti anak kecil. Dan Jiyeon menatapnya geli.

“Kau senang sekali dengan makanan ?”

“Sudah aku bilang selera makanku sangat mengerikan.” ujar Yongguk dengan kerlingan matanya.

“Eomma, aku mau pisang !”  teriak Yonggi.

“Yonggi suka pisang ?” tanya Yongguk.

“Nde !”  jawabnya. Lalu Jiyeon mengupaskan kulitnya, dan menyerahkannya pada putranya.

“Aku juga mau !”  ujar Yongguk.  Dan Jiyeon pun melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Yonggi, yaitu mengupas kulitnya lalu menyerahkannya pada Yongguk. Namja itu menerimanya dengan tersenyum.

“Baru kali ini aku makan pisang yang sudah dikupaskan kulitnya.”  katanya lagi sambil menggigit dan mengunyah pisang itu. Jiyeon mengerutkan dahinya.

“Maaf, aku sudah kebiasaan melakukannya untuk Yonggi. Aku lupa kalau kau tidak perlu dikupaskan.”

“Tidak apa-apa, aku merasa sangat senang kau mau melakukan hal sederhana seperti itu.”

“Hm..?”  Jiyeon merenung bingung.

“Hal sederhana yang membuatku merasa diperhatikan. ” lanjut Yongguk

Jiyeon menunduk. Dia merasa senang dengan perkataan Yongguk. Dilihatnya Yonggi sedang asik memakan pisangnya, juga ketika dia melihat kembali dengan malu-malu ke arah Yongguk. Laki-laki itu sedang mencandai Yonggi. Apakah dia laki-laki yang tepat untuknya, juga untuk Yonggi.

.

.

.

.

“Lepaskan dulu jaketnya, Yonggi !”  ujar Jiyeon ketika mereka tiba kembali di rumah. Jiyeon membantu putranya melepas jaket, sementara Yongguk meletakkan keranjang makanan di dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil minuman dingin.

“Jiyeon, bolehkah aku mandi di sini ?”  Yongguk melepaskan jaketnya. Dia merasa sangat penat dengan kondisi tubuhnya yang berkeringat .

“Silahkan ! ”  Ujar Jiyeon.

Yongguk masuk ke dalam kamar mandi, sementara Jiyeon sibuk mencari handuk bersih.

Ketika Jiyeon mengetuk pintu kamar mandi untuk menyerahkan handuk bersih pada Yongguk, dia melihat Yonggi sedang asik bermain dengan mainannya di depan teve. Bocah berumur tiga setengah tahun itu begitu tenang. Hal itu jarang sekali terjadi, karena biasanya Yonggi tidak bisa diam. Dia bisa berkali-kali meloncati sofa dan berlari mengelilingi ruangan dengan pesawat mainannya, atau dengan gerakan melompat dia menirukan katak . Terkadang dia terjatuh, tapi dia jarang menangis.

“Yongguk !”  panggil Jiyeon sambil mengetuk pintu kamar mandi. Terdengar Yongguk mematikan kran air. Dia membuka pintu dan melongok dengan setengah badan.

Jiyeon memalingkan mukanya sambil menyodorkan handuk. Tangan Yongguk menerimanya. Dia tersenyum melihat tingkah Jiyeon .

“Thank you! ” jawab Yongguk.

“Aku menyiapkan pakaian bersih untukmu di dalam kamar. Mungkin bisa kau gunakan.” ujar Jiyeon lagi.

Yongguk melanjutkan mandinya. Dan beberapa menit kemudian keluar dengan hanya menggunakan handuk yang membalut pinggangnya. Jiyeon sempat melirik kondisi itu, namun semua pemikiran nakalnya di buangnya jauh-jauh. Dia sudah lama tidak melihat laki-laki di dalam rumah ini, apalagi dengan keadaan setengah telanjang. Di tatapnya gambar Himchan di dinding. Dia adalah laki-laki satu-satunya hingga kini. Lalu apakah Yongguk akan menjadi laki-laki yang kedua?

.

.

.

Yongguk berjalan memasuki kamar Jiyeon. Di sana dia melihat baju yang dimaksud Jiyeon tergeletak di atas kasur dengan kain seprei berwarna coklat muda berikut covernya yang bercorak garis-garis putih.  Dia tersenyum. Jiyeon sungguh rapi. Dia sangat detail menata ruang kamarnya. Di sisi pembaringannya masih terdapat foto suaminya. Juga foto pernikahan mereka dan Yonggi di dinding kamarnya.

Satu persatu dikenakannya pakaian itu di tubuhnya sambil menatap bayangan dirinya di depan cerminmeja rias sederhana yang diatasnya terdapat beberapa perlengkapan make up Jiyeon juga produk perawatan tubuhnya.

Lalu dia duduk di pembaringan, sambil meraba setiap jengkal permukaan kasurnya. Sangat lembut dan wangi. Yongguk meletakkan wajahnya di sana, berbaring sebentar dan merasakan betapa nyamannya tidur di sana bersama wanita yang dikasihinya.

Sejenak dia mendesah. Dan sedikit memikirkan permasalahannya dengan Ayahnya beberapa hari ini. Kenapa di dalam rumah ini dia merasa nyaman. Terutama ketika berada di sisi Jiyeon.

.

.

.

“Jiyeon, apakah baju ini dulu milik suamimu ?”  tanya Yongguk ketika keluar dengan kemeja putih bergaris lengan pendek, juga celana jeans yang sepertinya terlihat kekecilan.

“Yongguk, apakah itu kekecilan ?” tanya Jiyeon dengan mengernyitkan dahinya.

“Sedikit. Tapi tidak masalah.” Ujar Yongguk sambil duduk di sisi Jiyeon.

Wajahnya terlihat segar setelah mandi. Dan semua keindahan itu terlihat jelas di matanya. Jiyeon tidak bisa menenangkan hatinya ketika tangan Yongguk meraih jemarinya.

“Apa ada seseorang yang dekat denganmu saat ini ?”  tanya Yongguk tiba-tiba.

Jiyeon terdiam. Dia menggeleng lemah pada akhirnya.  Dan Yongguk tersenyum.

“Kenapa ?” tanya Jiyeon.

“Aku hanya memastikan tidak akan ada yang menendangku saat berduaan denganmu seperti ini.”   Ujar Yongguk senang.

“Kenapa kau menyukaiku ? Aku hanya seorang janda.”

yongguk menghela nafasnya. Sepertinya dia kecewa ketika Jiyeon mengatakan bahwa diri ya hanya seorang janda.

“Lalu apa kau meremehkan aku karena seleraku ? Jiyeon, semua ini tidak pernah aku rencanakan. Aku juga tidak tahu kenapa aku langsung menyukaimu. ”  Yongguk menatap Jiyeon penuh pengharapan.

“Apa yang membuatmu menyukaiku ?”  tanya Jiyeon.

“Kau sangat tangguh. ”  jawab Yongguk.

“Kau tidak menyukaiku karena aku cantik.”

“Kau cantik, namun kau mempunyai hal yang luar biasa di atas bentuk fisik itu. Cantik adalah hal yang indah, namun akan pudar seiring waktu. Namun hati yang cantik, akan terpancar selamanya. Mungkin itulah yang aku lihat darimu.”

Jiyeon menunduk.

“Kau membuatku merasa serba salah. ”  Jiyeon sedikit berbisik.

“Lalu apakah kita bisa meresmikan hal ini ?”  tanya Yongguk.

“Hal ini ?”  Jiyeon masih ragu.

“Apakah kau ingin aku menemui orangtuamu ?”  Yongguk memberi contoh khasus.

“Ya, itu pasti. Kau harus menemui orang tuamu. Tapi tidak sekarang.”

“Besok ?”  tanya Yongguk. Dan Jiyeon hanya tersenyum.

“Tidak secepat itu juga. Kapan-kapan saja.”

Sebenarnya Jiyeon ingin menanyakan tentang orang tua Yongguk, namun dia tidak berani. Mungkin Yongguk berasal dari keluarga terpandang hingga bisa menyekolahkan Yongguk hingga lulus dari fakultas kedokteran. Dan juga materi yang dimiliki Yongguk, dilibat dari kendaraan yang dia bawa, juga pakaian yang dia kenakan. Semua bedlabel import.

.

.

.

.

////

Seorang ajuma membawa bocah perempuan dalam gendongannya. Dia sedikit kewalahan dan panik ketika meletakkan di atas tempat tidur pasien di ruang kerja Yongguk. Kali ini Yongguk tidak berada di rumah sakit. Dia hanya berada di sebuah bilik kecil, sebuah rumah petak yang dia sewa di pemukiman padat penduduk di pinggiran kota. Di mana dia sengaja melakukan hal itu untuk menolong para penduduk yang sakit dan tidak mempunyai biaya untuk memeriksakan penyakitnya.

“Kenapa ?” tanya Yongguk sambil memeriksa kondisi bocah berusia sekitar delapan tahun itu. Wajah bocah perempuan itu pucat.

“Sudah dua hari ini dia panas. Aku sudah membawanya ke sini kemarin, tapi dokter tidak praktek, jadi aku membawanya pulang. ”  Yongguk tercengang. Dia merasa bersalah mendengar penjelasan ajuma itu.

“Buka mulutnya ?”  Yongguk menyuruh bocah perempuan itu untuk membuka mulutnya. Dan Yongguk menyinari bagian dalam rongga mulut hingga ke saluran kerongkongannya.

“Siapa namanya , Ajuma?”  tanya Yongguk sambil menyingkap kaos si bocah untuk memeriksa perutnya.

“Areum.” jawab Ajuma itu.

“Apakah dia putrimu ?” tanya Yongguk lagi. Kali ini dia menepuk-nepuk perut bocah bernama Areum itu.

“Bukan. Dia cucuku. Orang tuanya sudah meninggal dalam kecelakaan mobil dua tahun lalu. ”  jawab Ajuma itu. Yongguk melirik wanita yang berusia sekitar lima puiluh tahun itu. Dalam hatinya dia begitu malu. Kenapa dia harus bertemu lagi dengan satu wanita tangguh yang membuatnya kagum. Hanya saja kali ini bentuk kekaguman itu berbeda.

“Apakah sakit di bagian sini ?” tanya Yongguk pada Areum. Areum menggeleng.

Lalu Yongguk menepuk-nepuk lagi perut bagian kanan Areum. Dan Areum merintih kesakitan. Sepanjang usus besarnya dia merasakan sakit. Yongguk mengangguk. Dia mengerti.

“Apakah sakitnya sering atau hanya sekali-sekali saja ?” tanya Yongguk.

Areum menggeleng.

“Setiap kali makan dia pasti merasa kesakitan. ” ujar sang nenek menjelaskan.

“Apakah dia sering muntah ?”

“Ya.”

“Bagaimana asupan minumannya ?”

“Dia tidak ada masalah dengan minum.”

“Apa yang dia makan sebelum dia merasakan sakit seperti ini ?”  Yongguk merapikan kembali baju Areum dan mengajak sang nenek untuk duduk.

“Tidak. Kau tiduran saja di situ !” ujar Yongguk pada Areum. Dan Areum menuruti perkataan Yongguk.

“Apakah dia terkena penyakit parah ?”  tanya sang nenek khawatir.

“Dia mengalami infeksi usus besar. Bisa disembuhkan, tapi ada beberapa makanan yang harus dia pantang. ”  ujar Yongguk sambil mengambil beberapa obat dari lemarinya.

“Tapi sebentar lagi hari raya , dokter !” keluh Areum dari atas pembaringannya.

“Itu sebabnya kau harus cepat sembuh supaya bisa ikut merayakan hari raya dengan nenekmu. ”  sekali lagi Yongguk menegaskan.

“Apa saja yang tidak boleh dia makan ?”  tanya nenek itu.

“Hanya beberapa makanan asam dan keras. Untuk sementara ini dia hanya diperbolehkan makan bubur tawar, tanpa garam. Karna asam dan garam akan mengikis lapisan epitel usus yang sedang luka, itu akan membuat kondisi Areum bertambah parah.”  sang nenek mengangguk-angguk mengerti.

“Juga buah-buahan yang mengandung rasa asam.”

“Sebanyak itu ?”  Areum kembali mengeluh.

“Kau harus menuruti perkataan dr. Yongguk supaya kau cepat sembuh, Areum. Kalau tidak, Nenek tidak akan mengantarmu pergi ke karnaval di hari raya nanti.”  Sepertinya Areum mendengarkan ancaman neneknya. Yongguk tersenyum

“Ini obat yang harus dia minum. Hanya untuk meredakan demamnya, dan beberapa lacto basilus untuk kesehatan pencernaannya. Areum boleh minum susu, tapi jangan terlalu banyak. Dan usahakan jangan meremehkan segala bentuk penyakit. Akan fatal jika menyepelekan penyakit apapun. Mengerti Areum !”

Areum mengangguk sempurna, mengukir kelegaan di benak Yongguk. Apakah seperti ini rasanya menyembuhkan orang sakit. Sebenarnya dia merasa bersyukur atas title dokter yang disandangnya. Ya, dengan menyembuhkan penyakit orang, dia juga menyembuhkan penyakit ditubuhnya. Ada makna berharga yang dia petik dari menyembuhkan orang, yaitu ketika melihat mereka sembuh, maka Yongguk pun merasa batinnya terobati.

.

.

.

Yongguk melihat di luar langit sudah gelap. Dia merasakan sesuatu yang gersang di hatinya. Mengetuk-ngetuk meja sambil memikirkan Eommanya yang pergi meninggalkan dirinya sejak kecil. Perasaan rindu di benaknya membuatnya teringat pada Jiyeon. Sisi wanita yang ingin direngkuhnya. Entahlah, mungkin karena Jiyeon begitu lembut dan penyayang dan sangat sabar terhadap Yonggi yang membuat Yongguk ingin selalu berada di dekat Jiyeon.

“Jiyeon….” sapa Yongguk di ponselnya.

“Ada apa ?”  tanya Jiyeon lembut.

“Bolehkah malam ini aku pulang ke rumahmu ?”  tanya Yongguk.

Tidak ada jawaban….

Yongguk menantinya.

Lalu terdengar desah nafas yang begitu cepat. Mungkin Jiyeon gugub. Pikir Yongguk.

“Jiyeon…”

“Datanglah.” jawab Jiyeon. Dan wajah Yongguk bersinar bahagia.

.

.

.

.

.tbc

Advertisements

22 thoughts on “TOMORROW [3rd]”

  1. Nginep ? Yg bener nih ?
    Ngapain hayoooo ?
    Ahhh kan ada anaknha jiyi, hahahah ughhhh so sweet dah kalian, belum pacaran atau udah ni ? Tadi ga jelas ga di kasih jawaban juga si jiyi nya, pacaran aja lah, hehehe

    Liked by 1 person

  2. inih aroma kehidupan nyatanya terasa sekali… bagaimana janda yg sering di pandang sblh mata apalagi kalau bujangan yg suka. heol,, wong kan wong ya jeng. asal janda baik2 ya gpp juga to
    next part berduaan >.< ayee!

    oh horat! hai jeng….. aku lupa mau ucapin salam kangen dulu, asli aku kangen berat ama kamu wkwk. aku kembali muncul, pertama2 mau komen ff postan lama yg udah aku simpen dan baca, disimpen dulu juga komennya di note sampe berjamur. sampe puncaknya kemarin aku beli kuota perkara kangen bgt ama lu dan epep lu…. sueerrr. aghhhhh, akhirnya lega sekaleeee bs isi kuota. Cekaka!

    Liked by 1 person

    1. Aq terharu membaca kerinduanmu padaku…aq ga ngerti dimana letak istimewanya epep q, perasaan sama saja dengan yg lainnya. Malah ada yang jauh lebih bagus. jeng Aya, aq jadi besar kepala nanti. Tapi aq seneng kalo kamu penampakan kayak gini. Btw, I miss you too! Apa sudah beredar juga di fb ? Aq jarang ke sana lagi.

      Like

  3. ternyata udah ada lanjutannya duh lama ga berkunjung jadi kudet gini ://

    makin makin aja nih jiyeon sama yongguk. gatau sebenernya yongguk deketin jiyeon karna emang sayang atau karena dia mirip ibunya kan ntar rasanya jadi beda. kasian juga jiyeonnya *oke skip*

    ceritanya makin seru aja lanjut cepetan ya lan *sok kenal dikit lah* xD

    Liked by 1 person

  4. Daebak.. jiyi akan berduaan dgn yongguk malam ini.. saeng apa nextnya bakal hot? Wow.. plak.. kwkwwkwk.. saeng next dong.. n mdh2an itu bakal hot.. kwkwkw abaikan.. mdh2an appa yongguk ntix akan sadar ya.. kasian jiyi klo di anggap remeh hanya krn statusx yg janda.. hikzz..

    Like

  5. Jadi jiyeon jg mulai membuka hatinya buat yonggul nih
    Mmmm sebenernya rada khawatir juga sih klo nanti appa yongguk tau hmmm kyk nya bakal ada badai nihh
    Semoga semua nya dpt terlewatkan

    Update soon

    Liked by 1 person

  6. suka banget ni sikap youngguk yg langsung to the poin.dewasa betul.langsung menuju kepastian.tentang hubungan mereka..preman tapi dokter.woow kerennnn..

    Like

  7. yeiiiii,,, aq komen pertama kah???

    hahahhaa
    Naguslah itu harusnya baguslah ya??

    hehehe

    alana ya, dlm ff ini seperti yg udah tergambarkan menceritakan jiyi si cew janda yg kuat dan harus kuat menerima semuanya……. mungkin setelah ini bakalan ad badai besar alias keluarga yongguk yg menerkm jiyi ???? tpidi satu sisi jiyi jg masih bingung bklan terima yongguk ato engga…..

    di sini lgi galau ya…….. tpi ji ayo semangat yongguk bnr2 mencintai kmu kok…….

    Liked by 1 person

    1. Haha..galau lagi. Sedikit, soalnya belum tau latar belakang Yongguk dgn pasti. Tapi akan beres di next chapter.

      Ga berat kan! Paling cuma berantem dikit sama Appanya, tapi ya..mau gimana lagi. Hehe..

      Aq ngepost ff tiga hari ini. Ah, agak balas dendam sama …tau deh! Masih kesel aja nih tiap mampir ke sono!

      Liked by 1 person

      1. Hahaa alana lumayan pendendam yaw heheee……. aq brusan kelar uasnya hahaaaa…. bsk bkl bc wp kmu deh sm komen,,, yg km protect kmren jg bkl aq komen panjang hahahaaa

        Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s