RAINS SOUND

CreditPosterByBekey
CreditPosterByBekey

Title ||  Rain Sound

Cast || Park Jiyeon as Yeoja

                Kim Himchan

Genre ||  Surrealism/angst/tragic

Length ||  Ficlet

Rated ||  General


Poster ini persembahan seorang BEKEY.

Aku menganggabnya KERAMAT. Okey, Bekey! FF ini khusus buat kamu!


Jendelanya berembun. Buram dan sepi. Jika menunggu itu seperti melihat kabut, maka hampa rasanya perasaan menanti. Jendela yang kosong, juga kabut, dan suara hujan. Kenapa sepertinya begitu menyedihkan. Seharusnya tidak. Mungkin sedikit memikirkan tentang jatuhnya langit mendung. Atau deskripsi yang teramat panjang dengan alur berliku-liku di dalamnya. Tentang sekumpulan udara yang saling berpelukan, lalu dia tunduk pada sentuhan kehangatan, berembun lalu terjatuh menghadirkan perasaan ngilu.

Ada harum yang menerobos penciuman. Cerita ketika derai air mata itu menghujam pada tanah retak-retak. Lalu meresap dan menghadirkan sisi yang lembut. Lalu meberikan kesan keras dipermukaan. Tidak seharusnya laki-laki menangis. Namun dia menambatkan berbagai kisah pada lukisan masa lalu yang sempat terlintas. Langkah-langkah kaki menari dan kecemburuan sang daun ketika dia melihat kemesraan ranting bercengkrama dengan hembusan angin. Dia bersenandung untuk hujan sore ini.

Himchan. Ya, seorang Kim Himchan dengan wajah seputih pualam. Dia tampan, atau mungkin kesan nan mempesona itu tidak terwakilkan oleh sosok apapun yang bisa membuat perbandingan nyata dengannya. Dia yang duduk di depan buram jendela kaca. Menatap tak jelas sambil bergumam.

Sudah hampir setahun dia berdiam di sini. Mungkin ruangan ini adalah saksi penting dalam kehidupan seorang Himchan. Merengkuh kata abadi. Bukan. Immortality sudah berlalu. Dan petikan gitar sepertinya menjadi pengantar sang mentari menjatuhkan diri pada selimut malam.

Lalu gelap itu masuk dalam pengelihatan matanya. Terkadang dia mengusapnya seiring rasa kantuk yang datang kebih awal. Merapatkan sweater tebalnya. Mencoba melindungi tubuh berharganya dari desah dan rintihan hujan di luar sana.  Lalu menghadapi sebuah bingkai tua. Dia sedang berpetualang kembali dengan kisah yang tertambat di sana. Wajah yang manis dengan senyum ceria.

Kim Himchan. Detak jarum jam sudah membuatnya sedikit mengingatkan tantang waktu untuk mengisi perutnya. Ya, hari ini hanya satu nampan nasi dengan sayur dan sedikit telur, juga buah yang dipotong kecil-kecil.  Menu hari ini sungguh istimewa. Namun mulutnya terasa hampa mengunyah nustrisi yang tidak terlalu sempurna itu. Mungkin dia hanya menganyangkan sisi perut sebelah kirinya. Lalu jiwa sebelah kanannya terasa terangkat. Ya, timpang. Makanan itu bukan untuk jiwa.

Dia tersenyum. Kembali menatap pada sebentuk wajah yang diyakini sebagai kekasihnya. Atau bukan. Dia sudah lupa. Mungkin bertahun-tahun lalu. Ketika saat itu waktu dia masih sering mengunjunginya. Dia seperti malaikat cantik dengan sayap-sayap putih berkilauan menghampiri dan membelainya. Betapa waktu cepat sekali berlalu.

“Daun pintu berwarna hijau. Seharusnya coklat. ”  keluh sang yeoja dengan mata yang bening dan tersenyum dengan wajah masam. Apa artinya itu. Hanya mengeluh tentang warna yang tidak disukainya. Padahal tempat ini bukan miliknya.

“Katakan dimana salahnya.” Tegas Kim Himchan dengan raut mempertontonkan egoisnya. Ya, harga dirinya seperti bermain di antara gumaman lembut itu.

“Kenapa kau marah ?”  tanya yeoja itu sambil mengusap lembut wajah kekasihnya.

Kekasih. Kata yang manis. Himchan menelusuri kelembutan yeoja dengan senyum menawan namun penuh kesunyian. Apakah dia terluka ketika menghadapi kekecewaan Himchan atas kata-katanya.

“Sayangku, di dunia ini begitu banyak hal yang tak kau mengerti.”

“Lalu kenapa kau tidak memberikan pengertian.”

“Aku malu pada kesibukanmu selama ini.”

“Kalau kau malu kenapa tidak bersembunyi dariku.”

Himchan mencoba untuk merangkum wajah itu dengan tangannya. Dia sanat sedih demgan perkataan itu.

“Apa kau menghinaku ?”  tanya Himchan.

“Sayangku, ada banyak hal di dunia ini yang membuatku kecewa. Ketika hal yang kita inginkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tentang sesuatu yang membuat  hati kita sedih dan terluka. Namun bukan untuk sebuah kata hina. Kecewaku tidak mencapai pengertian hina.”

Dan sepertinya ketika suaranya berlalu, Himchan melihat awan yang menggantungkan sepinya bertamu. Dia memberikan khabar yang tidak semestinya.

Kembali dia terbaring pada pembaringan. Malam ini dia sepertinya mendengar langkah-langkah kaki itu menari diantara genangan air di luar sana. Hanya sesekali dia mendengar desah angin. Dia menelusupkan kebekuan yang mengalir hingga ke jantungnya. Degub yang kian melemah. Raut senjanya memberikan sapaan tentang jalan yang berliku.

“Himchan…!”  ketukan di jendela kaca itu begitu riuh. Dia memanggil-manggil namanya berkali-kali.

“Himchan…!”

“Himchan…!”

Namun sepertinya, Himchan telah tertidur. Rambut putihnya sebagian menutupi kelopak matanya yang terpejam. Dia melayang pada langit mimpi lapis sembilan. Menapaki butiran-butiran embun dan tersenyum pada wajah yang pernah meninggalkannya.

Hujannya telah berhenti.  Dan Himchan berdiam diri pada sebuah kelembutan. Ini bukan sebuah ruangan yang biasa dia huni.

“Himchan, di sini…kau harus duduk di sini ?”  ujar sang kekasih.

“Apakah aku harus duduk di situ, bersamamu ?”  tanya Himchan.

“Ya. Aku sudah menunggumu. “

“Kau menungguku ?”

“Apa kau tidak tahu kalau aku menunggumu ?”

“Tidak.”

“Himchan, apa kau masih membenciku ?”

“Apa di sini kebencian itu diijinkan ?”

Yaoja itu, kekasihnya. Dia sebenarnya telah pergi meninggalkan Himchan sebelumnya. Dia yang selalu mengatakan kata sebaliknya, dia yang selalu menjadi konotasi dalam definisi praktis seorang Himchan, telah berlalu ketika sebuah badai menghempaskannya ke jurang.

“Himchan, kita akan melintasi pelangi.”

“Benarkah ?”

“Lihatlah,hujannya berhenti !”

Himchan mengintip pada sebuah gelombang warna ang terbentuk dari embun-embun air. Dia begitu cantik.

“Kita akan ke mana ?” tanya Himchan.

“Kita akan menyaksikan hujan di tempat lain.” jawabnya.

“Baiklah. Apa kau akan bersamaku ?”

“Tentu saja.”

Senyum. Semuanya tersenyum. Kini tidak ada penantian dalam kamar sepi dan hampa. Himchan menatap pada kekasihnya. Ya, semua terlihat jelas dan nyata. Bukan tatapan yang terhalang kabut atau jendela buram. Dan ratapan suara hujan sepertinya terdengar di tempat lain. Begitu jauh.

end

a/n

Kalau lagi kumat gilanya, aku bikin ff yang ga bisa dicerna . Oke, ini semua aneh. Kalau ada yang bisa mengerti, please katakan padaku, apa yang aku maksud dengan semua kata-kata di atas.  Sebenarnya sederhana aja.

Ada apa dengan Posternya ?

Aq harus berpikir untuk bingkai foto itu. juga wajah muram Himchan.  Sebenernya aq ingin sesuatu yang special buat my super amazing Himchan. Tapi kasihan di ff ini dia harus tunduk pada penantian. So, inilah Himchanku…hiks–hiks..harusnya dia bahagia,kan!

i miss you Himchan ! BAP…FIGHTING !!!

Advertisements

23 thoughts on “RAINS SOUND”

  1. duh baru baca ffnya dan ngomentarin. padahal udah stay di browser kesayangan hape berhari-hari /plak/ /abaikan/

    awalnya mikir ini ff kayaknya tentang himchan yang ga bisa move on. apalagi pas lagi hujan gini pasti tambah kangen sama mantan. ehh ternyata….

    plotruiner/? banget ini duh.. tapi seru sih jiyeon jadi malaikat dan himchan juga ikutan. mana pake kencan di atas pelangi. kayak judul lagu /plok/

    udalah ditunggu edisi bulan madu diatas pelanginya…. xD

    Liked by 1 person

    1. Yak, 100 nilainya! Sukur deh jadi ga harus jelasin. Sebenernya aq pengen bikin verai rain sound yg happy, ga sesih kayak gini. Pasaran banget judulnya. Btw, thank u udah yempetin baca

      Like

  2. Saeeeeengg sumpah pakai banget eon susah nebakx.. ini jiyi udh meninggal ya? Trs himchanx berkhayal trs ktmu jiyi akhirx dy meninggal n ktmu sm jiyi di alam sna? Apa gmna? Apa jiyi msh ada sm dy cm mrk larut dlm dunia khayalan mrka? Maafkan eonni yg ga bs ngerti alurx.. br kali ini loh eon ktmu ff yg susah di tebak alurx.. daebak.. ff km mmg jjang!! Tp jgn sering2 gni dong ntar kthuan klo eon pabo lg.. kwkwk plak.. saeng saeng ff krisyeon udh end ya? Hhohhoho atau myungyeon? Ga ada couple mrk lg? Yuhuuu.. plak plak plak.. kabooorr..

    Liked by 1 person

    1. Senelumnya makasih sangat eonie, udah mau baca ff q yang aneh ini. Iya. Maksudnya memang begitu. Jadi Himchannya nyusulin jiyeon yg sudah meninggal. Dan mereka bahagia di alam sana. Krisyeon yg perfect night. Haha iya, udahan. Aq males lanjutin. Tapi nanti aq mau keluarin Evanesce, bts jiyeon NC. Belum kelar. Tunggu aja.

      Like

      1. Omo hrsx eonni yg brtrm ksh km slalu post f ff jiyi klo ga eon ga tau mesti bc dmna.. udh gt ff km keren2 lg.. huaaa senengx.. wkkwwk mls di lanjutin ya? Ywdah eon tgu yg br deh.. kwkwwk yg punishment jg udh end tuh saeng?

        Liked by 1 person

      2. Punishment emang masih ngambang tapi nanti aq pikirin eon untuk kelanjutannya, abisnya banyak yg belum selesai. Abracadabra juga belum. Hehe…nanti setelah ini aq mau keluarin Mr. bang, Evanesce, Between, tomorrow, Honey trus ff lepas Baekhyun. Begitu !

        Like

      3. Waaah banyak amat saeng ditunggu ditunggu kcuali ff baekhyun *plak.. ditendang dari wp ini.. wkwkwk.. omo.. klo ada yg pake password jgn lp kirimin ke eonni ya saeng kirim pake tiko atau jne jg boleh kok passx.. klwkwkwk plak.. titip sm burung merpati burung merak jg boleh.. (mian obat eon hbs) smngt ya nulisx saeng.. fighting.. aja.. aja..

        Liked by 1 person

  3. Ehhh agak susah dicerna ya kkkk
    Jadi jiyeon itu udh meninggal ya, trus himchan hidup dlm bayang2 jiyeon gt??
    Trus maksd menyaksikan hujan di tempat lain bersama, maksd nya himchan juga meninggal??

    Liked by 1 person

    1. Kamu pinter banget. Yap seperti itu. Ini bukan maksud aku bikin orang bingung. Tapi ya aq memnag lagi galau dengan hujan. /lho apa ini/ tau ndiri kalo udah hujan urusannya linting sana linting sini…banjiiiiiirrr!
      Persis. Cuma masalahnya dalam penantian itu himchan dalam kondisi depresi. Dia banyak bergumam, ngomong sendiri , dan membayangkan jiyeon masih ada. Tapi kemudian dia meninggal di dalam tidurnya. Memang sangat aneh. Dia meninggal karena apa coba…aneh kan. Emang dasar. Makasih baget udah mau baca padahal i i aneh. Banget.

      Like

  4. q gak ngerti alana,jiyeonnya mati atau pergi?ah perasaan tiap himchan jdi namjanya pasti gak bahagia,kalau gak jdi figuran trus mati.pasti gak bersatu ama jiyeon.hahahaha q tahu kamu pasti gak relakan himchan buat yeoja lain maunya dg kamukan alana????????kwkwkwkw ya direlain deh himchan buat kamu dri pada galauuuu…

    Liked by 1 person

    1. Duh, Djeany sebenernya gw pengen happy di sini,..muehehe..iya, gw ga rela Himchan buat Jieyon…buat gw aja selamanya, gw karungin ! Wkwkw…

      Nih di sini ceritanya Himchan sakit jiwa. /what?/ dia kehilangan Jiyeon tuh depresi. Masuk rs.jiwa trus dia meninggal dalam kesepian. Tapi kemudian setelah dia meninggal, ternyata dia ketemu sama Jiyeon. Ternyata Jiyeon yg semula dianggab pergi ninggalin dia tuh sudah meninggal. Mereka bertemu dan melintasi pelangi bersama. Samar-samar denger rtapan suara hujan, itu adalah orang2 yg menangisi kepergian Himchan. Seperti itulah. Mereka berastu kok, tp di surga. Tapi sedih. Iya.

      Like

  5. coba himcan sukanya sama q dia nggak usah menunggu gitu 😀 :D.. dilema berat tuh himchan menunggu yg nggak pasti…sebenarnya sedikit bingung tapi ngeh pas di kalimat akhir nelangsanya kau himchan (puk puk..cup..cup..jangan mewek)

    Liked by 1 person

    1. Nih di sini ceritanya Himchan sakit jiwa. /what?/ dia kehilangan Jiyeon tuh depresi. Masuk rs.jiwa trus dia meninggal dalam kesepian.

      Kasihan amat Himchanku..wkwkw

      Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s