Skool Luv Affair : 1004 (Angel) [Chapter 3]

pr-by-rosa-elfin-redoTitle : Skool Luv Affair : 1004 (Angel) || Author : Hanhyera || Genre : Friendship, School Life, Romance, Angst || Main Cast :  Jang Eunmi (OC), Jung Daehyun (B.A.P), J-Hope (BTS), Kim Yunhee (OC), Kim Seokjin (BTS), Bang Yongguk (B.A.P)

~1~2~

Note : Maap kalau author baru bisa update lagi sekarang, dikarenakan sibuk kuliah 🙂 tapi semoga author bisa rajin update yah :))

Seokjin’s POV

Satu jam pelajaran sudah sejak kejadian di kantin tadi berlangsung dan tak hentinya Suga masih mengoceh tentang Daehyun.

“Persetan orang itu! Dia kira aku takut? Cih, jangan sok jagoan!” atau “Argh, sayang sekali aku tidak menghajarnya sekali saja. Biar wajahnya yang tampan itu menjadi buruk rupa.” atau “YA neo, kalian berdua, lain kali kalau aku mau menghajarnya, jangan pernah berusaha untuk menghalangiku! Atau wajah kalian yang akan jadi buruk rupa, arraseo?”

Namjoon yang ada di sebelahnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan Suga sambil tetap mengerjakan soal Kimia yang diberi oleh Mr.Lee. Aku sendiri yang duduk tepat di belakang Suga, membiarkan perkataannya masuk ke telinga kananku dan keluar lewat telinga kiri. Tidak ada bedanya, ia dan Daehyun, sama-sama pendendam dan mudah emosi.

“Lagipula, ini juga salahmu. Untuk apa kau melawannya? Jadinya seperti ini ‘kan!” ucap perempuan yang duduk di sebelahku, teman semejaku, Jang Eunmi.

“Hei, hei, kau lebih membelanya daripada temanmu sendiri? Jeongmal!” jawab Suga, tak terima.

Aku tahu dengan pasti apa jawaban yang akan dilontarkan Eunmi. Namun, ternyata ia lebih memilih untuk bungkam. Kulihat dirinya malah menunduk dan terkesan menghindari pertanyaan Suga. Kasihan aku melihatnya.

“Shit, gara-gara luka ini, ketampananku berkurang. Argh, si brengsek itu! Harus kubalas berkali lipat suatu saat nanti, lihat saja!”

“YA, bisakah kau berhenti bicara? Mulutmu itu terlalu bawel seperti wanita! Kalau kau benar-benar seorang pria, diamlah! Baru luka sedikit saja kau sudah merengek seperti anak bayi.” ucap Namjoon dengan kesalnya.

“Mwo? Kau bilang aku seperti wanita dan juga anak bayi?” Suga memelototi Namjoon, tidak terima dikatakan seperti itu.

“Benar, kenapa? Aku berbicara sesuai fakta.” Sudah tidak dapat menahan kekesalannya, Namjoon melempar pulpen yang digunakannya untuk mengerjakan soal ke atas meja.

Aku tidak tahu kejadian selanjutnya, karena aku sudah meninggalkan kelas terlebih dahulu sebelum dapat melihat mereka bertengkar. Kepalaku rasanya ingin pecah. Lebih baik aku pergi ke suatu tempat sebelum aku benar-benar menjadi gila dan masuk rumah sakit jiwa.

“Kau mau kemana?” Suara Eunmi terdengar dari arah belakangku. Kubalikkan badanku dan menjawab, “Entah, kemanapun asal tidak di sekolah.”

Ia mengangguk mendengar jawabanku. Rambutnya sedikit terurai karena hembusan angin yang menerpa tiba-tiba.

“Kau sendiri, kenapa kau keluar dari kelas?” tanyaku.

“Alasannya tak beda jauh darimu. Aku seperti berada di suatu sauna yang penuh dengan wanita-wanita tua yang sibuk berceloteh. Jadi, aku memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar sekolah.”

Pernyataan yang mengesankan, membuatku tak dapat menahan diriku untuk tersenyum. Ia perempuan yang sangat manis, baik, dan juga cantik. Sayangnya, Eunmi terlalu baik untuk menjadi miliknya. Tak sepatutnya dia menjadi milik Eunmi, karena yang kutahu, ia sudah tidak lagi memperlakukan Eunmi layaknya seorang kekasih. Perempuan seperti Eunmi harusnya diperlakukan lebih dari seorang perempuan biasa.

“Kalau begitu, aku duluan, ne?” ucapnya pamit untuk pergi.

“Ne. Annyeong!” Ia membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Begitu juga denganku, kubalikkan badanku dan melangkah menuju lapangan parkir. Seketika itu juga, aku jadi ingin pergi ke tempat itu. Aku rindu padanya. Kulangkahkan kakiku menuju mobilku yang kuparkir tidak jauh dari gedung sekolah, kunyalakan mesinnya, dan mobilku mulai melaju menuju tempat itu. Aku akan bertemu dengannya sebentar lagi.

***

Eunmi’s POV

Tak kuat mendengar ocehan Suga dan Namjoon, aku memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sekolah. Sembari berjalan, ingatanku kembali pada saat terjadi perkelahian di kantin tadi. Perkelahian antara Daehyun dan Suga. Sampai sekarang aku belum mengerti, mengapa Daehyun berubah menjadi orang yang mudah emosi? Tidak, dari SMP memang ia sudah mudah emosi. Hanya saja tidak separah sekarang.

Aku dan B.A.P sudah satu sekolah sejak SMP. Jadi, setidaknya aku mengerti sifat-sifat mereka. Kuhentikan langkahku saat melihat Mading sekolah. Penuh dengan brosur-brosur mengenai pembukaan pendaftaran ekskul. Kuamati satu per satu. Mataku berhenti pada salah satu brosur dan tanpa sadar, aku meraba kertas brosur tersebut.

Satu per satu kenangan terputar dalam otakku. Semuanya, antara diriku dan dirinya. Kugelengkan kepalaku agar kenangan itu dapat hilang. Kenangan pahit yang hanya dapat membuat hatiku semakin sakit. Kuputuskan untuk kembali berjalan, menjauh dari Mading tersebut.

Melewati beberapa ruangan, aku sampai di depan sebuah ruangan yang biasanya kugunakan. Ruangan ini juga penuh dengan kenangan yang tak harusnya kuingat. Namun, entah kenapa, aku juga rindu akan ruangan ini. Aku berdiri di depan ruangan tersebut dan menatap walau hanya sebuah pintu yang kutatap.

Perlahan, jarak antara diriku dan pintu ini semakin dekat. Rasanya, aku seperti sedang bernostalgia. Tapi, seketika itu juga aku tidak meneruskan nostalgia-ku, karena aku mendengar sesuatu dari balik pintu ini. Di dalam ruangan ini, pasti sedang terjadi sesuatu. Suara erangan, suara tendangan, suara menahan sakit. Kubelalakkan kedua mataku saat mulai mengenali suara siapa itu.

Tanpa perlu pikir panjang, aku membuka pintu itu, dan begitu pintu itu menjeblak terbuka, sungguh aku tidak menyangka bahwa sekarang ia berubah menjadi seperti monster.

“Hentikan, Jung Daehyun!” teriakku.

Ia memang berhenti melanjutkan aksinya. Namun, detik selanjutnya, ingin rasanya aku lenyap dari dunia ini ketika ia menatapku dengan tatapan penuh kebencian.

***

Daehyun’s POV

Kupetik senar gitar secara asal dan membuat suara yang sedikit memekakkan telinga. Bosan, kesal, frustasi, semua bercampur jadi satu.

“Berapa lama lagi kita harus di sini?” tanyaku kepada mereka bertiga. Pasti mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan.

Youngjae mengecek jam tangannya yang mahal, yang dia akui dibeli di Paris. “Mungkin sekitar satu jam. Kita tunggu saja, siapa tahu ada talenta bagus yang datang.”

Kuhelakan napasku kesal. Sial! Kami berempat sudah berada di sini sejak jam 12. Banyak yang mengikuti audisi ini, memang. Tapi, dari semua itu, sama sekali tidak ada yang berkualitas. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kalau mereka memang tidak pandai menyanyi ataupun bermain alat musik, untuk apa mereka mengikuti audisi? Mempermalukan diri sendiri saja!

“Sebenarnya, yang sangat penting sekarang adalah mencari vokalis untuk Band ini. Kita tidak mungkin bermain alat musik sambil bernyanyi.” ucap Himchan seraya menekan beberapa tuts piano.

“Kenapa tidak? Jongup dan Junhong saja dapat bernyanyi sambil menari. Kita tidak boleh kalah.” jawab Youngjae.

“Ah, ngomong-ngomong tentang mereka, bagaimana klub dance yang mereka urus? Apa banyak yang mendaftar?” tanya Himchan.

“Ya, aku dengar begitu. Malah, banyak sekali talenta yang bagus, sehingga aku rasa masa depan klub dance itu akan cerah.” jawab Youngjae.

Mendengar percakapan mereka membuat emosiku kembali memuncak. Ingin rasanya aku memukul sesuatu untuk melampiaskan kemarahanku. Niatku terhambat karena mendengar suara pintu terbuka. Kulihat siapa yang membuka pintu tersebut dan betapa kagetnya aku begitu melihat dirinya.

“Wow! Kau anak yang terlambat itu, bukan?” tanya Himchan. Dari ekspresi mukanya, tampaknya ia juga kaget saat mengetahui bahwa kami adalah anggota-anggota Band tersebut.

“Kau ingin mengikuti audisi? Apa talenta yang ingin kau tunjukkan pada kami?” tanya Yongguk.

Ia melangkah hingga tengah ruangan dan berdiri di sana. Menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab,

“Menyanyi.”

Himchan dan Youngjae tersentak kaget dan sedikit tertawa mendengar jawabannya. Berbeda denganku dan Yongguk, kami berdua hanya diam sambil menatap dirinya. Kalau tidak salah, namanya J-Hope.

“Baiklah, coba kau tunjukkan pada kami.”

Ia berdeham untuk membenarkan suaranya sebelum akhirnya ia mengeluarkan suaranya dan mulai bernyanyi. Boleh juga, suaranya lumayan. Punya ciri khas tersendiri. Tidak hanya aku, yang lain juga tampak setuju.

“Suaramu bagus. Aku tidak menyangka bahwa kau akan memiliki suara sebagus itu.” puji Youngjae.

“Tapi, suara bagus bukan modal utama untuk kau bisa diterima di Band ini. Kau juga harus mempunyai pengetahuan dasar tentang nada.” Wajah senangnya berubah seketika saat mendengar ucapanku.

“Oke, jadi ini hanya akan menjadi sebuah tes kecil. Kalau kau berhasil menjawabnya, maka kau akan lulus audisi.”
Ketegangan menjalari seluruh tubuhnya, aku tahu itu. Kupetik beberapa senar gitar menjadi beberapa nada. “So, nada apa saja itu?”

Ia berpikir keras. Aku dapat mendengar suara gemertak giginya. “Mi do re fa la?”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Salah dua. Yang benar mi re mi fa la. Nice try!”

“Mohon maaf kalau begitu, kau tidak diterima.” ucap Himchan sangat disayangkan.

Kulihat tangannya kembali terkepal. Oh, please, aku paling tidak suka melihat orang yang menahan kesal seperti itu.

“Apakah penting untuk seorang vokalis mengetahui pengetahuan membaca atau mendengar atau mengkomposisi nada? Suara bagus adalah yang terpenting.” ucapnya dengan nada yang sedikit ditinggikan. Bisakah ini disebut sebagai perlawanan? Biasanya, jika ada seseorang yang melawan kami, maka orang itu akan kami lawan balik. Tapi sayangnya tidak ada yang berniat untuk memberinya pelajaran dari mereka bertiga. Baiklah, kalau begitu aku yang akan bertindak.
Kuletakkan gitarku sebelum bangkit berdiri. “Kau tahu, untuk apa seseorang mempunyai suara bagus tapi buta akan nada? Itu tidak ada gunanya.”

“Aku bisa belajar kalau kalian mau. Menjadi penyanyi sudah menjadi impianku sejak kecil.”

Aku berjalan mendekati dirinya hingga jarakku hanya berjarak beberapa sentimeter. “Kalau saja kau berkata seperti itu dari awal, mungkin aku bisa mempertimbangkannya. Sayangnya, kau berkata seperti itu setelah kau melawan kami. Kau tidak tahu kami siapa, hah?” Kulayangkan tendangan yang tidak terlalu berarti ke pahanya.

Tidak tahu apakah dia lemah atau tendanganku sudah melebihi batas wajar, ia terjatuh dan meringis kesakitan.

“Hentikanlah, Dae! Tidak sepatutnya kau menghajar setiap orang yang membuatmu kesal.” Peduli apa aku pada ucapan Yongguk, aku tidak mendengarnya dan kembali menendang J-Hope, kali ini di bagian perutnya.

“Kau mengerti respek, kan? Kami ini senior-mu!” Satu pukulan kulayangkan ke wajahnya.

Baru beberapa tendangan dan pukulan, ia sudah merintih kesakitan. Tampaknya, anak ini tidak pandai berkelahi. Kutarik rambutnya ke belakang dan ingin berbicara sesuatu. Saat itu juga pintu menjeblak terbuka dan suaranya memenuhi ruangan band ini.

“Hentikan, Jung Daehyun!”

Dia lagi, dia lagi. Kulepaskan tarikan pada rambutnya dan berdiri. Kutatap dirinya yang sudah mengganggu acaraku lagi.

“Untuk apa kau kemari?”

“Untuk apa kau menghajarnya?”

“Itu urusanku!” jawabku, tidak senang karena ia selalu mencampuri urusanku.

“Kau! Setan apa yang merasuki tubuhmu sehingga kau berubah menjadi seperti ini?”

Aku menatapnya tak percaya. Dia mengataiku kerasukan setan? Benar-benar! Untung saja dia perempuan, kalau tidak, sudah kuhabisi dirinya.

“Kau ingin menolongnya, bukan? Sana, tolonglah dirinya! Aku sudah muak dan ingin pulang saja.” Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, berjalan melewati dirinya sambil menabrak bahunya. Menyebalkan, membuatku kesal saja.

TO BE CONTINUED

Advertisements

2 thoughts on “Skool Luv Affair : 1004 (Angel) [Chapter 3]”

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s