Jealousy

Jealousy 

-Busan Girl’s Storyline-

Romance, Friendship, School Life | Vignette [3500+ Words] | Rating: G

Casts:

Bang Yongguk [B.A.P]

Shim Jenny [as You]

Choi Junhong [B.A.P]

Kang Minjoo [OC] as your best friend

Jung Daehyun [B.A.P]

Moon Jongup [B.A.P]

 Lee Hi

Based on my own imagination

DO NOT RETAKE OR CLAIM THIS FANFICTION AS YOURS. PLAGIARISM IS PHORHIBITED!!!

Covernya thanks banget buat kak adira Bisa request, klik namanya aja nnti nyambung ke Cafeposterart ~^^~

Udah lama banget gak post disini :’D Maaf ya soalnya aku lagi ada writers block.. ini aja sequel dari ‘Noona Look at Me!’ di web lain yang aku anggap fail, tapi aku ttp gk takut buat publish Sekuel ini hoho >.< Oke oke.. baca aja yuk?

Posted before in bacafanfic.wordpress.com

Matahari pada siang hari itu sangat terik. Membuat sedikit kehangatan di musim dingin awal ini. Sesekali angin berhembus, membuat beberapa orang yang tengah berjalan merapatkan jaket mereka. Mencoba untuk menghilangkan cela cela, tak membiarkan sedikit anginpun menerpa.

“Yah! Kang Minjoo” Dari pinggir lapangan, seorang gadis berambut panjang coklat itu melambaikan tanganya. Ia berharap sahabatnya yang tengah duduk di kursi penonton menoleh setelah mendengar suara teriakanya.

Benar saja, tak berapa lama gadis yang dipanggil Minjoo sudah menoleh. Bahkan  gadis itu terlihat meninggalkan tempatnya dan beranjak untuk menghampiri orang yang memanggilnya. “Anyeong Jenny” Sapanya tersenyum manis. Jenny membalas senyuman Minjoo. Mereka pun memutuskan untuk berbicara di taman. Keduanya tengah menikmati angin semilir angin yang memainkan rambut mereka, sesekali rambut mereka diselipkan di belakang telinga. Namun usaha mereka selalu gagal setelah angin nakal kembali berhembus.

“Minjoo-a, kau sudah dengar belum? Kemarin Junhong-ie bilang ia dan Jongup-ie akan mengikuti lomba dance sekolah. Kau tertarik?” Jenny mulai mengayun ayunanya pelan, ia melirik temanya yang sedang memikirkan ucapanya. Minjoo mengangguk, ia menatap Jenny dan cengiran terpasang di wajahnya.

“Tentu! Aku tidak keberatan, lagipula sepertinya kita punya banyak waktu luang. Tidak ada salahnya bukan?”

“Eum.. kau benar, kau ingin ajak yang lain? Sepertinya Hanna dan Jieun juga tertarik”

“Geurae! Ajak saja, kalau kita ber-4, artinya kita bisa cover Girls day atau Miss A” Mendengar usulan Minjoo, Jenny nampak mengangguk semangat. Ia mulai mengayun ayunanya lebih kencang, berlawanan arah dengan Minjoo. Suara tawa dua orang gadis menghiasi sore pada hari itu. Bersamaan dengan terbangnya burung burung dan matahari yang mulai bergerak kearah barat.

**

Bel makan siang baru saja berdering. Jenny nampak melangkahkan kakinya ke kantin. Gadis itu duduk di tempat biasanya setelah mengambil makanan sekolah. “Noona!” Panggil seseorang. Jenny mengangkat kepalanya dan mendapati Junhong duduk didepanya dengan makananya. Wajahnya terlihat tak senang, bahkan terlihat kesal.

“Ada apa Junhong? Kau terlihat ada masalah” Tanya Jenny mulai memakan bulgoginya. Helaan nafas terdengar sangat jelas dari mulut pria jakung itu. Ia menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Bukanya ia tidak mau menceritakan, hanya saja ia bingung harus mulai dari mana.

“Noona.. belakangan ini ada seorang anak mengikutiku terus. Kata teman temanku ia menyukaiku dari SMP, dan baru ingin mendekatiku sekarang sebelum lulus. Aku tidak suka denganya”

“Ani, wae? Bukankah kau seharusnya senang? Nuguya? Namja yeoja?” Bertubi tubi pertanyaan dilayangkan oleh Jenny setelah ia mendapati dirinya tertarik dengan topik pembicaraan Junhong. Yang ditanya malah mengalihkan wajahnya, ia menatap sekitar berharap tidak ada yang mendengar ucapan Jenny. Namun sayangnya irisnya bertemu dengan iris gadis berambut pirang panjang. Dengan cepat ia membuang muka dan kembali menatap Jenny.

“Noona, gadis berambut pirang yang duduk diujung itu. Namanya Lee Hayi dan ia seumur denganku! Aku merasa risih, ia menempeliku terus seperti aku surat dan ia perangko!” Jenny terkekeh kecil. Ia mengacak rambut Junhong, tak tahan dengan sifat polosnya itu.

Dari ujung, muncul dua orang berlari lari kearah mereka dan membanting bokong tepat di tempat kosong. Minjoo terlihat merangkul Jenny setelah ia duduk dan Daehyun tersenyum tipis membalas tanggapan Junhong yang duduk di sampingnya.

“Yah. Jadi bagaimana? Girls day atau Miss A? Aku membawa Dae oppa untuk memintanya pendapat” ujar Minjoo. Daehyun menggaruk kepalanya dan menyarankan mereka untuk meng-cover dance Girls day. Bukan Miss A.

“Waeyo Daehyun sunbaenim? Mengapa Girls Day?” Jenny terlihat meminta alasan. Bukanya ia menolak saran Daehyun, hanya saja ia ingin tahu alasanya agar ia bisa mempertimbangkan semua pendapat teman temanya.

“A-ahahahaha.. Menurutku Girls day.. Ya! Girls day sekarang sedang naik daun. Jadi kalian harus mengcover Girls day” Pria bermata tajam itu menyengir, ia terlihat sedikit gugup dan bahkan cara menjawabanya terlihat tidak meyakinkan. Tapi kalau Jenny pikir pikir, perkataan Daehyun tidak sepenuhnya salah.

“Junhongie? Menurutmu?” Kali ini Jenny meminta saran anak SMP itu.

“Aku? Menurutku keduanya, Girls day maupun Miss A sama bagusnya noona!” Junhong menjawab dengan polosnya. Setelah mendengarkan usul kedua pria yang duduk di depanya, Jenny menangguk kecil.

“Baiklah, Girls Day”

**

Siapa tahu dari belakang tembok seorang pria tengah menyandarkan punggungnya. Mendengarkan semua percakapanya dengan kesal. Wajah pria itu tampak sangat garang, tanganya sedikit mengepal dan hembusan nafasnya terdengar begitu kencang.

Bang Yongguk merasa kesal entah kenapa. Ia tidak tahu alasan ia berjalan ke kantin untuk menemui Jenny. Bahkan setelah melihat gadis itu tengah berduaan dengan laki laki yang pernah menyukainya, Yongguk menghentikan langkahnya dan memilih untuk mendengarkan percakapan mereka.

Menurutnya satu tahun ini, ia tidak dapat mengontrol dirinya. Tubuhnya selalu berjalan berlawanan dengan perintah otaknya. Bagaikan magnet, kakinya selalu membawanya ke tempat dimana Gadis manis itu berada.

“Yah! Bagaimana? Girls day atau Miss A?” Telinga Yongguk menangkap suara itu dengan cepat. Sejenak ia menyatukan alis, suara ini bukan suara Jenny.

“Tentu saja Girls Day!” Lalu siapa pemilik suara nyaring laki laki ini? Yang ia tahu suaranya tidak secempreng Junhong. Dengan hati hati ia mulai mengintip dari balik tembok. Mendapati meja tersebut sudah diisi dengan empat orang, ada sedikit perasaan lega dari lubuk hatinya.

“A-ahahahaha.. Menurutku Girls day.. Ya! Girls day sekarang sedang naik daun. Jadi kalian harus mengcover Girls day” Yongguk menggelengkan kepalanya. Ia mendengar alasan teman baiknya itu. Lebih tepatnya adik kelas yang juga member dari club basket sekolahnya.

“Junhongie? Menurutmu?” Yongguk terperanjat kaget mendengar nama yang ia kesali keluar dari bibir Jenny. Telinganya selalu tajam seperti pisau apabila Jenny menyebut nama bocah yang menurutnya tengil itu. Ada rasa membakar melilit hatinya. “Baiklah, Girls Day”

Sabar.. Girls Day? Batin Yongguk. Pria itu menguras otak, ia menepuk dahi dan menghela nafas setelah mengingat sesuatu. Kakinya lagi lagi membawa dirinya ke hadapan Jenny.

“Ani! Tidak! Tidak boleh Girls Day!” Sambar Yongguk. Sekejap mereka berlima dikelilingi keheningan. Yongguk terkejut dengan dirinya sendiri yang begitu lancang masuk ke percakapan orang lain. Bahkan sepertinya ke empat mahluk itu sedang berperang dengan pikiranya mengenai keberadaanya yang tiba tiba.

“Ani hyung! Waeyo?” Hening tersebut pecah setelah pekikan Daehyun yang tidak terima terdengar sangat jelas di telinga Yongguk. Tampak pria itu berdiri dan bercekak pinggang, menolak keras pendapat Yongguk.

Yongguk terlihat panik. Pertanyaan Daehyun membuat lidahnya kelu. Empat pasang mata itu terlihat sedang menatapnya, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. “Eum.. Nah itu dia! Justru karena girls day sedang naik daun, pasti banyak orang yang akan berlomba menggunakan lagu mereka” jawab Yongguk asal. Dalam hati ia bersorak senang, setidaknya ke empat orang ini percaya dengan ucapanya.

Kedua gadis itu nampak mengangguk angguk mengerti. Junhong terlihat tak begitu peduli sementara pria yang menolak usulnya itu sedang menghela nafas kasar. Memangnya ada yang salah kalau ia memberikan pendapat yang beda?

“Geurae oppa. Gomawo saranya.. Aku dan Minjoo akan mempertimbangkanya lagi” Pembahasan itu berakhir setelah suara bel menggema di seluruh kantin. Semua murid segera berhambur ke kelas masing masing.

**

Yongguk berjalan keluar kelas dengan pelan. Ia baru saja memasukan buku bukunya kedalam loker setelah pelajaran terakhir selesai. Begitu banyak murid berlalu lalang di lorong sekolah, ada yang tengah tertawa, ada pula yang terlihat bermesraan.

Matanya menangkap sosok dua orang familiar yang tengah bermesraan di dekat loker. Daehyun menarik pinggang Minjoo dan membisiki sesuatu di telinganya, setelah itu senyum malu mengembang di wajah gadis berambut hitam itu. Dengan cepat ia menarik pria tersebut dan membawanya keluar dari gedung sekolah.

“Yah Jung Daehyun!!” Omel Yongguk lalu melanjutkan puisinya. Puas berceloteh panjang yang dibalas lawanan Daehyun. Ia segera meninggalkan pria itu sendiri. Meskipun pada akhirnya mereka berdebat dan saling menyimpan rasa kesal karena perbedaan pendapat, mereka tidak saling bermusuhan.

Yongguk melanjutkan langkahnya, matanya melihat sekeliling, menatap matahari yang ternyata sudah berada di bagian barat. Lalu melirik jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya. Pukul 4 sore. Mengingat ia tidak ada tugas, Yongguk memilih untuk menjernihkan pikiranya di bangku taman belakang sekolah.

Bagaikan hipnotis, Yongguk tidak bisa mengalihkan pandanganya dari seorang gadis yang tengah berjalan sambil membaca. Ia tersenyum simpul. Bagaimana kalau gadis itu justru akan menabrak sesuatu karena ia tidak memperhatikan langkahnya?

“Shim-“ “Jenny Noona!” Omongan Yongguk terputus. Seseorang sudah mendahuluinya terlebih dahulu dan berhasil mengalihkan pandangan Jenny dari bukunya. Yongguk mengatupkan giginya, merasa pemandanganya tidak sedap iapun memutuskan untuk segera pulang.

“Noona! Mengapa kau berjalan sambil membaca? Kau tidak takut akan menabrak tiang listrik?” Tanya Zelo, ia lalu berjalan berdampingan.

“Tiang listrik? Maksudmu kau sendiri ya? Hahaha.. tentu saja tidak! Sebelum aku menabrak tiang listrik, tiang tersebut sudah menegurku”

“Tentu tidak noona! Orang yang ingin menabrak tiang listrik itu terlalu pendek. Sampai sampai sih tiang listrik tidak bisa menangkap keberadaan mahluk kecil itu. Yang tiang listrik itu tahu, ada sesuatu menubruk tubuh bagian bawahnya” Balasnya sambil terkekeh kecil. Jenny mendengus kesal, bersamaan dengan itu ia melayangkan sikutnya ke perut Junhong. Membuat pemuda itu meringis dan memegangi perutnya kesakitan.

“Appo noona! Kau jahat!”

“Pabo Choi Junhong. Urusi saja urusanmu dengan Lee Hayi!” Seru Jenny menjelerkan lidah. Gadis itu kemudian berlari sambil tertawa. “Mwo? Yah noona!” bersamaan dengan itu, Junhong mengejar.

Dibalik tawa mereka, Yongguk ternyata masih ada disana memerhatikan semuanya untuk kedua kali. Keputusanya untuk pulang terkalahkan oleh rasa penasaranya, sehingga kakinya tidak bergerak dan memilih untuk tetap duduk di tempatnya.

Pandangan Jenny dan Junhong sudah menghilang dari irisnya. Yongguk menghela nafas kembali untuk kesekian kalinya, kali ini benar benar membulatkan tekad untuk pulang.

Setelah mandi, ia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Rambutnya yang ia biarkan basah dan berantakan menambah sedikit kesan maskulin pada pria bersuara rendah itu. Yongguk menatap langit langit kamarnya kosong, tidak memiliki inisiatif untuk mengeringkan rambutnya.

Merasa sesuatu terselip di otaknya, Yongguk bangkit dari tempatnya dan masuk ke kamar mandi. Ia kembali membasuh wajahnya dengan air keran sekalipun ia baru selesai mandi. Yongguk menatap pantulan dirinya di cermin.

Ia menatap dirinya sendiri. Dirinya yang kembali memikirkan gadis itu.

**

Jenny baru saja selesai dengan latihan dance pertama. Minjoo berjalan disampingnya. “Yah. Aku lelah, bagaimana kalau kita beli ice cream?” tawar Minjoo, ia menyeka keringatnya. Matanya yang sudah sipit tertutup rapat begitu ia mencoba menatap matahari yang terpajang dengan terik di langit.

“Paboya, musim dingin ingin makan eskrim!” Jitakan melayang dan mendarat tepat di kepala Minjoo, menyebabkan gadis itu menggosok gosok kepalanya pelan. Jenny tertawa kecil, gadis di sampingnya juga berstatus sebagai monster makanan seperti pasanganya.

Tahu tahu Jenny melihat sosok Daehyun yang entah dari kapan berdiri di belakang Minjoo. Jenny tahu kalau pria over protective ini muncul bagaikan pangeran yang ingin menjemput putrinya, artinya ia tidak bisa bermain dengan sahabatnya karena pasti gadis itu ditarik pergi terlebih dahulu. Bagaikan tokoh antagonis di sebuah cerita yang ingin menculik putri, Jenny memutuskan untuk membawa Minjoo menjauh dari Daehyun.

“Yah, Wae irae? Kau mau kemana?” Minjoo tidak melawan, ia membiarkan sahabatnya menarik tangan kananya tanpa tujuan. Yang ia tahu selanjutnya, sesuatu menahan tangan kirinya, membuat temanya berhenti berlari dan menoleh kebelakang. “Mianhae, Shim Jenny. Sahabatmu ini harus ku sita terlebih dahulu!”

“Yah!” Seru Minjoo tidak terima, dengan itu sebuah tendangan mendarat di tulang kering Daehyun. Pria itu membungkuk untuk memegangi kakinya yang kesakitan. “Sita? Oppa! Jangan menganggapku sebagai barang!”

“Kau menendangku? Kau tidak merindukanku atau memikirkanku? Kalau begitu kau harus menerima hukuman dari pangeran tampan sepertiku!”

“Pangeran tampan? Cih! Makan saja kata katamu, tikus raksasa!”

“Masih melawan eoh?! Kau juga tukang makan seperti ku!”

Jenny tertawa melihat nasib Minjoo memberontak karena dipeluk secara paksa oleh Daehyun. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Minjoo dan memutuskan untuk pergi meninggalkan dua mahluk itu sendiri.

Sedikit rasa iri terbesit di hatinya. Ia juga ingin memiliki kekasih, seperti Minjoo. Setiap hari ditemani dan begitu banyak perhatian diberikan sekalipun hubungan mereka jauh lebih mirip kucing anjing.

Tidak, ia tidak mau pacar jahil dan sedikit mesum seperti seorang Jung Daehyun. Senyum sumringah terpajang jelas di wajah Jenny. Ralat. Jenny kali ini mengerucutkan bibirnya dan mengacak rambutnya frustasi. Ia baru saja membayangkan Bang Yongguk pacarnya. Gila.. menurut Jenny.

BRUK!! Tubuh Jenny terpental kebelakang, ia menutup matanya dengan rapat setelah merasa tubuhnya terhuyung huyung tak seimbang, menunggu rasa sakit itu tiba. Tapi aneh, ia merasa sesuatu menyangga di pinggangnya dan punggungnya. Dengan hati hati dan perlahan Jenny membuka matanya.

Waktu terasa sangat lama, iris kecoklatanya bertemu dengan manik di depanya. Keduanya saling melempar tatap tanpa berkata kata, mengagumi setiap lekuk wajah di depanya.

Merasa sesuatu jatuh, baik Jenny maupun orang di depanya menoleh kearah tas milik Jenny. Keduanya segera berdiri dengan tegak. Jenny mengalihkan pandanganya dari sosok namja itu, ia tahu pipinya yang memanas pasti sudah memerah. Sementara itu Pria yang ternyata adalah Bang Yongguk berdeham kecil, mencoba untuk menghilangkan suasana canggung yang tiba tiba hadir menyambut keduanya.

“Mi-mianhae! Aku tidak berma-“ “A-ah! Gwenchana” potong Jenny cepat. Keduanya kembali hening.  Sibuk bergulat dengan pikiran masing masing.

“Ehm.. jadi kau darimana?” Tanya Yongguk seraya memungut tas terjatuh milik Jenny. Melihat tingkah Yongguk, Jenny juga membungkukkan badanya, mencoba mengambil brosur milik Yongguk yang terjatuh. Kelihatanya tadi pria itu terlalu sibuk berkutat dengan kertas yang terlihat elegan itu sampai sampai ia menabrak Jenny.

“Ah itu..” gumam Yongguk menatap brosur yang Jenny pegang. Keduanya kembali terdiam, Jenny menatap brosur dan Yongguk bergantian. Sementara pria itu terlihat ingin berbicara, namun tidak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.

“Ah! Mianhae, aku terlalu lancang membacanya. I-ini” Jenny dengan cepat menyerahkan brosur tersebut.

“Maukah kau ikut denganku?” Tawar Yongguk. Pria itu merutuki dirinya setelah kalimat itu dengan lancar keluar dari mulutnya. Jenny terperanjat kaget. “M-maksudmu oppa.. itukan acara kelulusan kelas dua belas dan sembilan. Aku-“

“Ah! Gwenchana, memang spotlight acara itu di tunjukan untuk anak anak kelas dua belas meskipun pestanya untuk kedua angkatan. K-kau ikut saja. Panitia mengijinkan kami untuk membawa murid yang bahkan dari sekolah lain” Dari saku celana, Yongguk menunjukan dua tiket bertulisan ‘The Walts’yang akan dilaksanakan 1 minggu sebelum lomba dance.

Gadis itu mengangguk, kemudian menunduk malu mencoba menyembunyikan pipinya yang lagi lagi memerah. Yongguk, pria itu merasa bahagia yang teramat.

**

Jenny lari terbirit birit mengingat dirinya sedikit telat karena ia terlalu sibuk memerhatikan penampilanya di depan kaca rumah. Gadis itu dibaluti gaun putih diatas lutut, roknya sedikit mengembang. Sebuah jepitan kupu kupu terpasang di sela sela rambut berombaknya itu. Sementara ia mengenakan flat shoes berpita yang membuatnya terlihat cantik malam itu.

“Hei..” Panggil seseorang. Tubuh Jenny membeku seketika, seseorang baru saja menepuk pundaknya yang terbuka karena model gaunya. Suara itu. Jenny merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, darahnya mengalir bagaikan aliran sungai yang semakin dekat dengan air terjun. Perlahan ia memberanikan diri untuk membalik tubuhnya.

Yongguk tersenyum. Ia terlihat sangat sangat tampan. Tuxedo hitamnya terlihat sangat pas di tubuhnya. Jenny terperangah melihat Yongguk, matanya seolah tak bisa berkedip. Bibirnya kelu, tidak bisa mengatakan apapun.

“Kau.. cantik” gumam Yongguk. Pria itu belum mengalihkan pandanganya dari manik mata Jenny yang menghindari tatapanya. “G-gomawo.. oppa juga” Sahutnya, menunduk malu.

“M-maksudku tampan!” Lanjut Jenny. Yongguk tersenyum kecil, ia mengulurkan tanganya dan di sambut oleh Jenny dengan baik. Dengan itu mereka melangkah masuk kedalam area pesta kelulusan anak kelas Sembilan dan dua belas.

Jenny menatap sekeliling, benar benar ramai. Ruanganya tentu sangat besar hingga dapat menampung sekitar 500 orang yang lebih banyak murid di bandingkan orangtua dan guru. Yang membuat Jenny lebih kagum, masih ada sebuah pintu khusus untuk acara anak anak dua belas dan pasanganya. Tentu saja sekolah tidak memperbolehkan anak anak kelas Sembilan mengikuti acara the walts, sehingga mereka tidak akan diperbolehkan untuk masuk ke ruangan khusus dan dipisahkan nantinya.

“Noona!” Jenny menoleh, melihat Junhong yang berjalan menghampirinya bersama Jongup, ia tersenyum. Yongguk terlihat risih, tanpa ia sadari ia menggenggam tangan Jenny lebih erat. Seolah olah merasa ada bahaya dari para hyena untuk kelinci di sampingnya ini.

“Yongguk hyung anyeong” sapa Jongup yang tidak dibalas. Pada akhirnya mereka berempat duduk disebuah meja bundar yang membuat Jenny duduk di samping Junhong dan Yongguk, di depanya ada Jongup.

“Noona! Untung kau ada disini, kalau tidak Hayi pasti ribut ingin duduk denganku” Protes Junhong. Pemuda itu mulai sibuk menceritakan tentang penderitaanya yang diikuti Lee Hayi. Sesekali Jongup menambahkan dan menceritakan hal lain yang lucu.

3 orang itu sibuk berbicara dan tertawa. Membuat Yongguk sedikit merasa terabaikan. Ada rasa kecewa dan emosi yang ia pendam dalam hati. Pria itu mendesah pelan, ada pemikiran untuk pulang dan tidak ikut acara malam ini.

“Lalu lalu?” Tanya Jenny antusias. Junhong mencoba menutup mulut Jongup yang mencoba menceritakan detail dari kejadian beberapa hari yang lalu.

“Hayi duduk di kursi Junhong. Ia mencoba untuk duduk berdua dikursi untuk satu orang. Mereka berdempet dempetan loh! Hayi mencoba duduk sementara Junhong mendorong Hayi dengan pinggulnya agar ia terjatuh!” lanjut Jongup. Junhong menepuk dahinya kesal, kalau saja ia tidak kecepatan sekolah ia tidak akan bertemu Hayi. Dan kalau saja ia sebaya dengan Jongup ia bisa memastikan keesokan harinya Jongup akan diam setelah di tempel lakban.

“Aigoo.. lihatlah! Kalian sangat lucu. Junhong, harusnya kau jadian dengan Hayi” usul Jenny mengambil kesimpulan.

“Ah iya noona! Bagaimana dengan kompetisi lombanya beberapa hari lagi? Kau sudah siap? Aku dan Jongup melakukan matrix dance seperti di MV B.A.P 1004 loh!” Junhong mengganti topik. Ia menepuk dadanya pertanda ia bangga berhasil menari dengan keren.

“Pengumuman untuk anak anak kelas 12, pintu ruangan untuk acara ‘The waltz’ akan dibuka sebentar lagi. Acara akan dimulai kurang lebih setengah jam”

Omongan Jenny tertimpuk suara pengumuman yang besar itu. Jenny menoleh kesamping, matanya membesar panik. Dimana Yongguk? Gadis itu merasa bersalah, ia mengabaikanya. Pasti pria itu sudah pulang.

“Yongguk hyung sepertinya ke atap, aku melihatnya naik tangga belakang” kata Jongup merasa gadis itu mencari cari Yongguk. Bagaikan kilat gadis itu segera berlari sesuai dengan perkataan Jongup. Ia segera naik keatas, melewati dua tiga anak tangga sekaligus.

Tepat ketika ia membuka pintu keluar, angin malam berhembus dengan kencang. Merepa kulitnya dari cela cela pakaianya. Gadis itu menggigil kedinginan. Tapi itu tidak membuanya menyerah mencari keberadaan Yongguk.  Ia melangkahkan kakinya keluar, menelusuri setiap sudut dari tempat itu.

Jenny menghela nafas kecil, menyebabkan gumpalan asap putih terlihat, cukup jelas untuk menandakan kalau cuaca pada malam itu sangat dingin. Lagi lagi tubuhnya menggigil untuk kesekian kalinya.

Disaat itu ia merasa hangat ketika sesuatu yang berat menutupi pundaknya, gadis itu menoleh cepat. Yongguk terlihat memakaikan jasnya pada Jenny. “Malam ini dingin, mengapa kau tidak di bawah saja?”

“aku mencarimu oppa..” kata kata itu tidak bisa keluar dari bibir Jenny. Semuanya terasa sangat berat diujung lidahnya.

“Kau bukanya sedang berbicara dengan Junhong?”

“O-oppa.. mianhae. A-aku tahu aku salah”

“Mianhae? Hanya itu? Tidak lebih? Yah Shim Jenny!” Jenny lompat beberapa langkah setelah mendengar Yongguk meninggikan suaranya. Ia merasa gelisah, pria itu sepertinya marah.

“Aku menunggumu dan kau hanya mengatakan maaf? Aku sudah gila! Dan ini semua karena kau! Kau tahu itu? Karena kau aku tidak bisa mengatur diriku sendiri! Karena kau juga aku sering marah sendiri!” Yongguk merasa dirinya salah, seharusnya ia tidak marah. Karenanya gadis itu kini tengah menangis tanpa suara. Dengan cepat Yongguk memeluk tubuh kecil didepanya.

“Mianhae.. Aku tidak bermaksud membentakmu. Jenny.. sebenarnya aku..” Yongguk menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskanya perlahan. “a-aku.. menyukaimu” Isak tangis itu berhenti setelah Jenny mendengar kata maut itu dari mulut Yongguk. Ia melepaskan pelukan Yongguk dan menatap pria itu dengan lekat.

“Aku menyukaimu! Karena itu aku.. aku tidak suka kau menghabiskan waktumu dengan Junhong!” Lanjut Yongguk. Pria itu mengalihkan pandangan dari Jenny yang perlahan mulai tersenyum. Sedikit perasaan gelisah muncul di seluk beluk hatinya, ia takut kalau perasaanya hanya sepihak.

“Bang Yongguk pabo.. begitu caranya kau menyatakan cinta? Kalau begitu aku tidak yakin gadis itu akan membalas perasaanmu.” Jantung Yongguk hampir berhenti berdetak. Namun Jenny melanjutkan kalimatnya “Tapi sepertinya aku salah, karena aku juga menyukaimu.. oppa” Senyum bahagia terpancar dari kedua nisan tersebut. Yongguk kembali memeluk gadis didepanya. Tidak ingin melepaskan sosok Jenny yang baru saja berstatus sebagai pacarnya itu.

“Tapi oppa.. jujur aku tidak percaya dengan alasanmu menolak girls day kemarin” ujar Jenny disela sela pelukanya. Yongguk merasa malu, kejadian dimana ia mengomeli Daehyun kembali teringat diotaknya.

“Jung Daehyun!”

“Waeyo hyung? Kau mengganggu acaraku dan Minjoo!” balas Daehyun tidak terima.

“Yah! Kau lebih bodoh, membiarkan mereka mengcover dance Girls day” Daehyun menyatukan alisnya heran. “Hyung? Kau marah karena itu? Yah! Aku tidak mengerti denganmu, aku kan laki laki”

“Ya! Kau laki laki yang sedikit mesum dan aku tidak! Aku tidak sudi melihat mereka mengenakan pakaian seksi seperti penampilan Girls Day. T-I-D-A-K” Yongguk menggelengkan kepalanya kuat, ia mengeja kata terakhir. Daehyun terlihat tidak peduli, bahkan sepertinya pria itu mencibir kepada Yongguk. Pada akhirnya debat tersebut melanjut.

“Ah itu.. lupakan saja. Yang penting kau tidak boleh mengenakan pakaian seksi” Jawab Yongguk. Ia meletakan dagunya diatas puncak kepala Jenny yang mengangguk dan tersenyum tipis. Dengan itu Yongguk tersenyum puas.

Tiba tiba Yongguk teringat sesuatu.. acara itu! Acara utama hari ini baru saja ia lewati!

Jenny menerjapkan matanya berkali kali setelah Yongguk melepas pelukan mereka dengan paksa. Pria itu terlihat merongoh saku celananya. “Jam 7 pintu sudah ditutup” jelas Yongguk. Pria itu melirik jam tanganya sekilas, 7.03. Ia telat sengit.

“Oppa waeyo? Kita telat?” Tanya Jenny. Yongguk berfikir sejenak, lalu menggeleng cepat. “Ani, tidak telat kalau kau ingin menari disini” Jenny tersenyum malu. Yongguk mengulurkan tanganya, setelah Jenny membalas ia menarik gadis itu agar lebih dekat denganya. Tangan yang satunya ia letakan di pinggang ramping gadis tersebut.

Kaki mereka berjalan seiring, seirama dengan detak jantung mereka masing masing. Maju, mundur, kanan, kiri dan berputar. Kontak mata mereka tidak kunjung putus, mereka menatap satu sama lain dalam senyum seperti waktu Yongguk menabrak Jenny.

Keduanya sibuk mengaggumi orang di depanya dengan senyum yang terpajang di wajah mereka. Mereka tidak peduli akan cuaca dingin yang mengelilingi mereka, karena ada rasa hangat dari lubuk hati mereka masing masing.

Yongguk berhenti melangkah. Membuat gadis yang ia pimpin langkahnya ikut berhenti. Tatapan tersebut masih tersambung. Perlahan Yongguk mendekatkan wajahnya. Keduanya mulai menutup mata setelah hembusan nafas masing masing menerpa di pipi mereka. Debaran jantung mereka tidak beraturan, dan ada sedikit rasa geli dari perut mereka seiring dengan jarak sedikit demi sedikit terus mendekat.

Bulan purnama pun terpajang jelas diatas langit yang hitam pekat. Awan seolah olah pergi agar bintang bintang bisa terlihat. Salju turun dengan perlahan. Membuat malam tersebut malam terindah bagi keduanya.

-End-

WAKAKAKAKAKA ENDING GANTUNG! NO KISS SCENE!! 😀

Oh iyaaa. baca ya sequelnya/side storynya B.A.B.Y POV Yongguk hoho :3

Aku sengaja buat FFnya menggantung :’) Karena.. karena.. SUSAH BAYANGIN TEMEN AKU CIUMAN SAMA YONGGUK! XD /Digebuk Readers lain/  Yah,, awalnya aku pengen bikin Kiss scene yang gimana tapi.. gak berani dan aneh sekali lagi mengingat teman ku yang baca /Digebukin lagi.

Jadi intinya yah.. Endingnya Bebas buat kalian ^^ Mau French kiss (?) Mau kalian gak jadi kiss dan dongkak keatas liat salju bareng bareng, atau mungkin kalian pelukan.. B-E-B-A-S! Yang jelas plot nya di atap pas lagi malem bersalju :’)

Gomawo banget buat para Readers readers yang baca, trutama yng udah leave comment di Noona, Look at Me! I Respect you ^^

Sekali lagi,

Mind Review? :3

Advertisements

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s