[Vignette] Coffee Romance

Coffe Romance-alana

Title || Coffee Romance

Cast || Choi Zelo and Jiyeon

Genre || Romance

Length || Vignette

Rated || PG-15

Disclaimer ||  I Own Nothing but the Story

.

.

” Nunna, How can I say about my feeling for you ?”

.

.

Aku meramu semua cairan hitam ini dalam sebuah teko kecilyang terbuat dari alumuniym berlapis kuningan. Lalu menambahkan caramel gel dengan sebuah senyuman mengambang di bibirku. Hatiku diliputi oleh kabut kebahagiaan. Sudah hampir tiga bulan ini aku menemukan sesuatu yang berbeda dari sosok menakjubkan di sudut ruangan sana. Namanya Jiyeon. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Seni Rupa yang sedang bekerja paruh waktu membantuku.

Nunna, kau cantik. Bisikku dalam hati.

Usianya lebih tua dariku 4 tahun. Itu sebabnya aku memanggilnya Nunna. Matanya melirik simetri dari sudut pandangnya yang indah. Warna hitam maskara dengan pulasan pastel di kelopak matanya menambah keindahan senja ini berpindah ke lekuk kerlingnya. Bagaimana aku bisa senakal ini mengartikan perasaaanku.

Semua terlihat seperti sebuah percikan api yang menyulut hasrat ke dalam hatiku. Aku bukan bocah kemarin sore lagi. Aku sudah mengenal bagaimana hatiku dijangkiti virus mematikan yang bisa membunuh akal sehatku ini.  Aku menyadari aku kadang tidak berdaya saat dia melemparkan senyumnya. Dan aku jatuh cinta pada wanita itu. Park Jiyeon.

Bianglala kepenatan yang membayang di raut pengunjung seperti sebuah berkah bagiku. Mereka sedang mengharapkan mendapat sedikit penyegaran dari tempat ini.

Hanya kedai kopi.

Aku menganggabnya begitu. Dan aku bersama seorang wanita cantik yang selalu memanggilku dengan ‘ Laki-lak bermarga Choi!’  Ya, itu aku. Choi Junhong. Namaku. Usiaku 18 tahun. Dan aku baru saja lulus dari sekolah menengah atasku dan masih sibuk dengan bisnis yang diwariskan Ayahku.

Aku kembali tersenyum diam-diam. Sambil membersihkan counter dimana aku biasa meracik kopi untuk para pelangganku. Mereka selalu menyukai kelicahan tanganku ketika bercengkrama dengan cangkir dan sebagainya. Dan aku menyukai senyum mereka yang menatapku ceria.

“Laki-laki bermarga Choi !”  panggll Jiyeon sambil melambai dengan sebuah kain serbet di tangannya. Aku mengangkat wajahku. Jiyeon memberi kode khusus untuk menyiapkan secangkir capuchino . Dan aku membalasnya ‘Oke’ dengan jariku.

Bukankah menyenangkan bekerja sama seperti ini. Menurutku saat-saat seperti ini sangat romantis. Maklum aku tidak bisa berharap banyak dari hal ini. Aku hanya bocah kecil di matanya. Meski aku bukan anak kecil. Tubuhku jauh lebih tinggi darinya, dan seluruh organ tubuhku berkembang dan tumbuh dengan sempurna.

Lalu dia berjalan ke arahku. Melihat apakah aku sudah menyiapkan capuchino yang dia pesankan untuk seorang namja berkemeja coklat yang tadi sempat berbicara dengannya. Aku merasa sedikit merana. Belum kusimpulkan cemburu, karena aku masih tidak ingin mengekang hatiku untuk kata sepahit kopi itu.

“Sebentar lagi !” jawabku ketika menyambut tanya di matanya yang menyerbuku dengan dramatis. Dia mengamatiku dengan senyum.

“Ehm, apa kau nanti ada waktu ?” tanya Jiyeon padaku.

“Waktu ?”  aku berusaha untuk menyembunyikan perasaan aneh yang timbul karena pertanyaan itu. Waktu .

“Aku ingin kau menemaniku.” Lalu kau menatapku kembali. Kali ini dengan hati-hati. Sepertinya kau sedang menyelidiki bagaimana responku atas permintaanmu padaku. Lalu aku berpura-pura sibuk dengan kegiatanku meramu capuchinoku.

“Laki-laki bermarga Choi !” panggilnya merdu.

Aku melirik.

“Jam berapa ? Aku mungkin masih akan sibuk nanti. ” tanyaku dengan menyembunyikan semua raut senangku. Aku hanya menghela nafasku. Lalu aku seperti melihat kecewa di sana. Di wajahnya. Apa aku salah bicara ?

Ya. Yernyata aku salah bicara. Dan aku terlambat meralatnya.

“Tidak apa-apa, kalau tidak bisa. Aku akan pergi sendiri.”  ujarnya sambil meraih capuchino yang aku berikan bersama nampan kecil ke arahnya. Dan dia melangkah ke arah laki-laki yang sudah menantinya dengan senyum.

Seharusnya aku bisa bersikap lebih hangat padanya.  Aku gugub.

.

.

.

Lalu keesokan harinya dia tidak datang. Aku seperti merasa terhukum. Mungkin dia memang sedang sibuk dengan kuliahnya, namun entah kenapa aku merasa dia sedang mengabaikan aku.

Sore ini aku bekerja hanya dengan seorang Youngjae. Dia benar-benar kewalahan menghadapi pelanggan. Sebingga sebentar-sebentar dia mematutkan bibirnya yang sexy itu di depanku.

“Boss macam apa dirimu ?” protesnya.

“Ada apa Hyung ?” tanyaku.

“Ke mana Jiyeon Nunna ?” tanyanya.

“Dia mungkin sedang sibuk.”

“Tidak. Dia marah padamu !” kejarnya.

Aku merasa Youngjae mengetahui sesuatu yang tidak aku tahu. Dia melirikku sinis.  Mungkin dia begitu karena membela Jiyeon,dan menghakimiku dengan tidak adil.

Aku hanya diam saja.

.

.

.

Dan untuk beberapa hari dia tidak datang. Aku terbebani dengan perasaan bersalah. Walau tidak mutlak bukan kesalahanku. Mungkin saja dia mempunyai alasan sendiri untuk ketidak hadirannya.

Aku sedang berjalan menuju jalan setapak sempit yang menanjak. Menurut Youngjae, ini adalah jalan menuju ke rumahnya. Jiueon tinggal sendiri. Dan dia sangat mandiri. Pribadi yang sangat menarik.

Pintu rumahnya terbuka. Aku masih ragu untuk mendekati rumah mungil sederhana itu. Sepertinya aku merasa tertancap di tempatku. Sulit bergerak hingga ada sebuah tepukan tangan di belakangku. Aku menoleh dan mendapati senyumnya.

“Laki-laki bermarga Choi ! Kau ke sini ? Ada apa ?” tanyanya ceria. Aku menunduk dan sedikit bergeser ke samping. Aku melihat dia terkejut dan menatapku tak percaya.

“Kau tidak datang. Youngjae kewalahan. ” ujarku

“Sebelum ada aku, Youngjae bekerja sendiri,kan. Kenapa bisa begitu?”

“Sejak ada dirimu kedai kopi kita menjadi ramai. Mereka menyukaimu.”

“Duduklah !”  Jiyeon menarik tanganku.

Aku duduk pada sebuah bangku sederhana di depan rumahnya. Mataku masih sibuk menatap bola matanya.

“Aku sedang sibuk dengan tugas akhirku. Maaf!”  ujarnya. Dan aku menghela nafasku berat

“Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya, tidak menuntutmu untuk bekerja padaku lagi.”

Tangan Jiyeon menumpang di bahuku, meremasnya sebentar dan tersenyum. Helai rambutnya seperti sedang memberi penghiburan padaku. Aku sedikit kecewa, mungkin dalam beberapa waktu ke depan aku jarang bertemu dengannya. Dia sudah akan lulus dari perguruan tinggi, dan aku baru saja akan memulai kuliahku.

“Apa kau rindu padaku ?” tiba-tiba pertanyaan itu membuatku tersentak. Aku melihatnya dengan bibir menganga.

“Hahaha…!” hanya tawanya saja yang mengisi suasana. Jantungku masih menuntut banyak pejelasan dari spontanitas ekpresinya yang lepas.

“Laki-laki bermarga Choi !”

“Kenapa kau tidak memanggilku Junhong saja. Kau membuatku pusing dengan panggilan seperti itu. Sekarang semua pelangganku memanggilku begitu.”  ujarku sambil merapatkan hoodyku. Sedikit dingin di sini.

“Junhong? Tidak seru. Aku lebih senang dengan panggilan adventure yang melelahkan.”

“Baiklah. Terserah kau saja.”

Lalu terdiam. Jeda waktu yang terhitung hingga menit ke lima terasa seperti satu putaran jarum jam yang menjemukan.

“Jadi kau akan kuliah?”  Jiyeon menanyakannya sembari menjejakkan kakinya padaku.

“Ya.” jawabku singkat

“Mungkin aku akan segera meninggalkan kota ini setelah menyelesikan kuliahku. Ada seorang teman yang mengajakku ke Canada. “

Aku langsung menoleh ke arahnya. Berita ini membuatku sesak nafas. Apa yang akan terjadi jika dia pergi?  Maksudnya dengan perasaanku. Telapak tanganku mendadak berkeringat. Dan senyumanku menjadi hambar. Kenapa wajah malam ini terasa begitu pucat, ataukah aku memang sedang merasakan nelangsa.

“Berapa lama kau di sana ?”

“Mungkin cukup lama. Aku belum bisa memastikan. “

“Baguslah !” jawabku resah. Aku masih menahan perasaan sedihku. Apakah dia bisa melihat raut wajahku yang sedang berharap dia tidak pergi.

“Laki-laki bermarga Choi ?”  Dia memanggil namaku dengan segumpal pertanyaan bingung.

“Aku …”

“Kau sangat mengangumkan. Masih muda sudah bisa mengelola bisnis keluarga. Kau sungguh hebat !” pujinya.

“Aku masih belajar.”

“Kau akan kuliah di mana ?”

“Entahlah. Aku ingin mendalami dunia bisnis keluargaku. Mungkin aku akan berada di Perancis. Atau mungkin Italia. “

“Kita akan sangat berjauhan.”  ujarnya dalam nada menyenangkan. Lalu terdiam dan saling menatap.

“Laki-laki bermarga Choi, apakah kau tidak mau mengajakku makan malam ?”

Aku tersenyum menanggapi pernyataannya. Dia menyentuh jemariku. Aku sedikit bingung, walau aku cukup mengerti dengan keinginannya. Mungkin makan malam terakhir. Seperti sebuah perpisahan.

Dan aku mengangguk.

“Makan malamlah bersamaku, Nunna! “

“Kedengarannya bagus. Apa kau punya menu khusus untuk hari ini ?”  tanya Jiyeon sambil mengamati lagi wajahku yang nervous.

“Aku belajar membuat croisant. Aku tidak tahu apakah adonan pastry yang aku buat terasa lembut di lidahmu atau tidak. Namun aku melihat tidak ada pelanggan yang protes dengan croisant buatanku.”

“Aku akan mencobanya.” jawabnya tegas.

Lalu aku berdiri. Mengajaknya berjalan. Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Jiyeon mengikutiku. Dia terlihat senang.

.

.

.

Aku mengajaknya duduk di balkon. Di atas kedai kopi ‘Romance’. Ini lebih dari sekedar luar biasa, ketika langit terlihat begitu briliant menampilkan kebahagiaannya. Tidak perlu cahaya lain. Semua bintang itu sudah seperti cahaya gemerlapan yang menghiasi suasana.

Jiyeon duduk berhadapan denganku. Hanya segelas coffelatte dan sepiring kecil croisant hangat yang baru aku panggang dalam oven. Harum kejunya menambah manis suasana.

“Aku minta maaf atas waktu itu. Ketika aku tidak menyediakan waktu saat kau mengajakku.”  ujarku.

“Tidak apa-apa . Aku tau kau sibuk.”

“Tidak sesibuk itu. Waktu itu aku gugub.”

Jiyeon mengernyitkan dahinya. Dia meninggalkan kesan curiga. Mungkin dengan perasaanku. Dia curiga aku memendam sesuatu. Memang benar. Aku …

“Laki-laki bermarga Choi…”

“Hm..?”  aku menunduk dengan senyuman, setiap kali dia memanggilku seperti itu.

“Apa kita akan bertemu lagi nanti ?” tanyanya.

“Kapan? Maksudku jika kita punya kesempatan, mungkin akan aku sempatkan menemuimu.”

“Jika kau selesai dengan pendidikanmu….apakah kita bisa seperti ini lagi ?” tanyanya.

Bola matanya seperti berharap. Seharusnya aku bahagia. Namun entahlah, sepertinya aku telah dipukul telak dengan rencana kepergiannya ke Canada, sehingga aku tidak terlalu antusias dengan apa yang terlihat di matanya.

“Nunna,…jika kau kembali, tolong kabari aku !” ujarku dengan maksud terselubung. Dan dia tersenyum.

“Baiklah. Aku akan sangat senang sekali menghubungimu.”

“Apa kau masih menganggabku sebagai anak kecil lagi saat nanti kita bertemu lagi ?”

“Laki-laki bermarga Choi, aku tidak akan mengajakmu makan malam seperti ini jika aku menganggabmu sebagai anak kecil.”

Dan aku tertegun. Jiyeon tersenyum manis.

“Nunna…”

“Hm ?”

“Nothing !”  sahutku.

Bangaimana aku mengungkapkan perasaan yang kumiliki untuknya? Dia memakan croisantnya dan terlihat behagia. Jiyeon menyukai croisant buatanku.

“Hontoni oishi !” ujarnya sambil menerjemahkan rasa enak itu xengan memejamkan matanya. Lidahnya sempurna menyapu bibirnya ketika ada remah pastry yang tersisa di sana. Indah sekali.

“Laki-laki bermarga Choi !  Sepertinya aku akan sangat merindukan saat saat seperti ini.”

Berkali-kali aku sepertinya melihat sebuah signal khusus yang dia sampaikan padaku, tapi entah kenapa aku masih belum bisa mengutarakan isi hatiku. Aku merasa tidak percaya diri dengan jenjang usia ini.

“Laki-laki bermarga Choi ! Aku sudah selesai. Bisakah kau mengantarku pulang lagi ?” tanyannya.

Dia mengulurkan tangannya. Mengajakku berdiri. Lalu aku menyambutnya.

“Kelak saat kita bertemu lagi, aku ingin kau yang duluan mengulurkan tanganmu seperti ini.”  Jiyeon tersenyum ketika melihat aku gugub.

“Kecuali jika kau tidak menyukai hal ini, kau tidak perlu melakukannya.”  Sekali lagi dia melirikku, memastikan jawaban apa yang akan kuberi. Aku tidak bisa menahan debar hatiku.

“Aku akan melakukannya ….a…aku pasti melakukannya. Aku berjanji !”  akhirnya aku mengatakannya.

“Baguslah ! ”  sambutnya sambil mengangguk tenang.

“Laki.laki bermarga Choi !” panggil Jiyeon lagi.

Aku melirik. Dia seperti sedang menanamkan harapan padaku. Dia mungkin sedikit ragu dengan diriku. Sama seperti aku yang ragu pada dirinya.

“Nunna, aku tidak tahu bagaimana aku mengatakannya …”

“Tidak usah kau katakan. Nanti saja saat kita bertemu lagi. Aku takut aku tidak bisa menahan rinduku.”

Aku tercekat mendengar bicaranya. Kudekatkan diriku padanya. Sedikit demi sedikit meraih tubuhnya dan memeluk pinggangnya. Meski aku gugub, aku sungguh ingin melakukannya, terlebih kini aku merasa bahwa aku ingin menjadi laki-laki bermarga Choi untuknya.

Jiyeon mengalungkan lengannya pada leherku. Cukup membuatku menunduk karena ternyata aku memang cukup tinggi untuknya. Dan merasakan desah nafasnya menyapa di wajahku.

“Laki-laki bermarga Choi !”  panggilnya.

“Hm..?”

“Maukah kau yang lebih dulu melakukannya untukku ?”  tanyanya lembut. Matanya tertambat di dalam debar jantungku.

Aku tidak perlu menunggu waktu agak lama. Saat tangannya semakin menarik wajahku, aku sudah meyakinkan diriku untuk menjadi jantan di depannya. Sebuah ciuman bukan hal yang vulgar. Aku melakukannya karena aku mencintainya. Terlebih aku benar-benar merasa telah menjadi laki-laki bermarga Choi yang diinginkannya.

.

fin.

.

Advertisements

30 thoughts on “[Vignette] Coffee Romance”

  1. hahaha. panggilannya belibet gua aja pasti agak males buat ngetiknya! XDD
    aghh~ tapi sweet endes lah! cara mereka bicara mengungkapan perasaan suka satu sama lain tanpa ungkapan yg gamblang itu unik…
    walaupun aku sedikit gak setuju sama ungkapan “Aku menciumnya karena aku mencintainya” keke. kalo cinta, biarkanlah si wanita tetap suci sampai saatnya nnt telah menjadi halal untukmu dong. ceilehhh

    Like

  2. Ahh ..so sweeeet banget.ternyata jiyeon juga nyimpan perasaan yang sama sama laki” bermarga choi.. Semoga nanti pas ketemu makin romantis hihihi…

    Liked by 1 person

  3. Hua demi apa ini keren.. sumpah bgs saeng.. omo apa nti ada lnjtnx ya? Kekeke lirik lana.. kode keras.. plak.. kwkwk
    Eon sbnrx udh ngtk bngt maksa bc trnyta bs bkn eon seger.. capek seharian ngestalk instax jiyi.. kwkwkkwk..

    Liked by 1 person

    1. Eonie, makasih! Iya, ini akan ada lanjutannya, semacam sequel pertemuan mereka nanti. Tapi bukan bersambung.
      Semi NC mungkin nanti aku bikinnya. Hahaha…geregetan sama maknae ini.. Dia kan udah gede . gapapa kan dikasih dikit sayang sayangan, belai belaian, grepeh-grepehan..pangku-pangkuan…dan akhirnya…hehehe… Oke eonie, thanks yow!

      Like

    1. Iya, Jiyeon suma kasih kode, kalo dia punya oerasaan yg sama kayak zelo, jd biar zelo yg tentuin sendiri… Dan akhirnya begitu. Makasih ya!

      Like

  4. Ternyata jiyeon jg suka sama laki laki bermarga choi …tp knp junhong ga nyadar yah kalo ternyata jiyeon jg memiliki perasa’an yg sama
    Tapi knp harus ada perpisahan???

    Liked by 1 person

  5. yaahh agak nanggung nih unn, kira2 ada sequelnya gak yaaaaaa…. cute panggilannya jiyeon ke zelo hohoho, semoga mereka dipertemukan lagi deh nanti

    Liked by 1 person

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s