[Twoshot] Black Styling Good

black styling good

Black Styling Good

Bang Yongguk feat Park Jiyeon

Romance Comedy

Twoshot

General

Surendder by a cuteness

.

.

 

Ruangan ini terasa lebih pengap. Ada seorang laki-laki berkemeja putih dengan kondisi berantakan. Beberapa kancingnya lolos dengan sebagian dada bidangnya terekspose polos. Dia seseorang bermarga Moon, sedang menatap cemas ke arah sosok berjaket hitam yang tengah memunggunginya. Dua orang laki-laki lainnya tengah berdiri di sebelahnya, menatap dengan tatapan bengis seakan ingin mengorek-ngorek tubuh Moon dengan sorot setajam belati, di sudut bibir mereka tersumpal rokok dari merk mahal yang bungkusnya tergeletak di atas meja yang memisahkan laki-laki berkemeja putih itu dengan manusia berbaju  hitam yang masih enggan menampakkan wajahnya.

Ternyata siang ini benar-benar membuat kepala mereka dipenuhi kepulan asap tebal. Emosi mereka terdefinisi secara berbeda. Ada emosi dari seorang kapitalis yang sedang merongrong budak sandraannya, dan ada juga emosi dari hati yang ciut seorang sandra yang tengah menunggu dakwaan untuknya.

Beberapa kali didengarnya suara detak jarum jam seperti sedang menertawakan kegugupan pria yang tengah menanti nasibnya itu dengan tangan mengepal kaku. Wajahnya masih terlihat muda. Dia tampan dengan rahang yang tegas, dan yang lebih megenaskan lagi, dia seorang guru di sebuah sekolah swasta di Seoul

Tidak ada sejarah yang jelas kenapa tiba-tiba seorang Bang Yongguk menjadi momok kapitalis di dalam sekolah swasta di mana laki-laki ini mengajar. Mungkin ada orang berpengaruh yang berdiri di belakangnya. Itu cerita lain yang cukup membuat prihatin saudara-saudara.

Dibelakang semua tingkah anarkhisnya yang selama ini meresahkan banyak orang, Bang  lebih terlihat dingin dengan temperamen kaku. Sepak terjangnya selalu membuat mahluk lemah yang selama ini ditindasnya, hanya sanggup membungkam.

“Bukankah kau sudah berjanji untuk mengurusnya!”  gumam Bang pada Moon

“Tapi ini tidak mudah.”  Jawab pria berkemeja putih dengan suara parau. Keringatnya menetes di kening dan mengalir ke sekujur wajahnya. “Aku sudah berusaha untuk membicarakannya dengan orang itu, tapi sepertinya..”

BRAKH!

Bang  menendang kursi di sebelahnya kemudian menengadah dengan kepulan asap rokok yang semakin menambah substansi racun nikotin di dalam ruangan berada dalam level tinggi— sesak.

“Tn. Bang, biarkan saya yang mengurus semuanya!”   laki-laki di sebelah pria berjaket hitam itu menoleh dan memberikan dukungan. Bibir tebalnya sempat membuat seringaian yang semakin menambah lutut seorang Moon gemetar. Tapi laki-laki yang dipanggil Bang itu hanya menggeleng. Tangannya terangkat kemudian mengepal spontan. Dia melempar rokok di tangan lainnya ke lantai dan menginjak dengan ujung sol sepatunya— pupus.

“Aku masih memberinya kesempatan hingga besok. Jika dia tidak segera memberikan hasil yang memuaskan, maka dia harus menghadapi konsekuensinya.”

Moon mengangguk dengan bola mata berbinar. Dia cukup lega karena Bang masih memberinya kesempatan. Akhirnya dengan sekali menjura dia bisa angkat kaki dari ruangan tanpa hambatan.

Mereka, tiga orang pria lain yang tadi seolah-olah inign menelannya hidup-hidup hanya menatap Moon pergi meninggalkan ruangan pengap ini dengan langkah tergesa.

“Ini tidak biasanya kau memberikan kelonggaran pada target kita.”  Helaan kecewa dari laki-laki berkulit seputih pualam di sisi kanannya. Dia merapikan poni dengan sangat manis, mengundang decakan seorang Bang tercetus berat.

“Kau semakin melemah belakangan ini.”  Gerutu pria lainnya sambil berjalan ke arah fridge untuk mencari sebentuk cake favoritnya.

Bang menunduk dan memperhatikan layar ponselnya tanpa mengindahkan gerutu para anak buahnya. Dia hanya menghela napas dan menepuk pundak laki-laki di sebelahnya yang sejak tadi sibuk melembabkan bibir sensualnya dengan lipgloss

“Bagaimana jika besok dia tidak melakukannya?”

“Aku akan menyeretnya keluar dari gedung sekolah itu dan menghajarnya sendiri!”  tukas Bang dengan nada feodal. Darah penindas mengalir di tubuh tegapnya yang selalu terbalut jaket hitam yang selama ini menjadi cirikhasnya. Siapa yang tidak mengenal Bang Yongguk, laki-laki 25 tahun yang dikenal sebagai ketua kelompok aliran garis keras di wilayah di mana sekolah-sekolah dengan reputasi baik berada di bawah kekuasaannya.

Sejak dua tahun lalu, Bang tidak bisa menghentikan kegiatannya membuli beberapa orang yang tidak menyukai keberadaannya. Ayahnya adalah seorang pejabat tinggi yang mempunyai kekuatan politik maksimal dan tangguh, sehingga tidak mudah untuk melengserkan pengaruhnya dari dokrin yang keburu mendarah daging pada semua lapisan fanatiknya. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah, kakak laki-lakinya yang notabene adalah saudara kembarnya, adalah orang yang berpengaruh di sebuah organisai rahasia pemerintahan di Korea. Itu sebabnya Bang tidak pernah takut pada siapapun, dia merasa bahwa dia bisa melakukan apapun yang dianggapnya tidak sejalan dengan pola pikirnya.

Si kotak ramping itu bergetar di tangannya dan wajahnya berubah menjadi lembut. Sebuah senyum kecil bahkan membuat ruangan pengap ini terasa lebih segar.

“Kim, tolong buka jendelanya!” dia menyuruh Kim untuk membuka jendela di dekatnya.

Kim hanya bersungut, karena posisinya yang tengah terbaring harus terganggu dengan perintah mutlak Bossnya. Dia hanya bisa menerima semua itu dengan hati dongkol meski semua ini dikerjakan dengan wajah cemberut.

Jendela itu terbuka lebar seiring senyum Bang  saat mengundang hembusan angin segar musim panas  itu masuk ke dalam ruangan.

Dia menatap sebentar pada dua anak buahnya yang sudah meluruskan kaki mereka di atas meja bersiap untuk menggelar aksi tidur siang mereka,

“MWOH?” tanya Jung bingung, memindai sorot tajam mata Bang yang seakan-akan menghentikan waktu mereka.

“GET OUT! Aku mau bicara dengan pacarku.” Tegas Bang dengan menampilkan deretan giginya.

Kim dan Jung saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya membawa pantat mereka pergi dari ruangan, meninggalkan alis tebal Bossnya yang masih terangkat tinggi.

Bang meyeringai sebentar sebelum akhirnya menjatuhkan tatapan lembutnya pada  layar ponselnya. Pacarnya masih memanggilnya.

“Yes Dear!” sambutnya

Dia melirik ke arah luar untuk melegakan hatinya.

“Aku masih sibuk. Jam berapa kau minta di jemput?”

Bang mengangguk dan mempermainkan jemarinya di atas meja. Ketukan-ketukan jari itu menghadirkan ritme di dalam otaknya, membangun sebuah komposisi musik untuk penggalan-penggalan kalimat lirik rap.

Ara, aku akan menjemputmu jam empat.”  Bang berdiri mengambil kunci mobilnya. Sejalan dengan laju kakinya dia, bercermin sebentar untuk merapikan penampilannya. Dia adalah Bang, Bang Yongguk. Senyumnya mengembang demi meyakini bahwa pesonanya begitu kuat dan tegas. Kekasihnya itu selalu memujanya setinggi langit kekuatan aura seorang Bang.

Kim dan Jung memperhatikan Bang yang berjalan menghampiri mereka di ujung lorong. Pertanda bahwa pekerjaan mereka hari ini belum selesai lagi, dan apa gerangan yang membuat Bossnya ini memasang senyum sumringah. Gummy smile yang sangat cute.

“Boss!” sebut Jung bingung

“Kita akan menjemput pacarku dulu, setelah itu baru kita menyelesaikan tugas kita.” Ajaknya dengan melempar kunci pada pria blonde itu.

“Pacar Boss…..?” Kim masih belum mengerti

“Ya, pacarku. Kita harus menjemputnya.”

“Siapa dia Boss?” tanya Jung

“Perempuan.” Jawab Bang sambil menaruh pantatnya di jok belakang mobilnya. Jung dan Kim saling memandang dan mengangguk mendengar jawaban bossnya.

“Aku sudah menduganya, Jung kalau pacarnya itu perempuan!” ujar Kim dengan cengiran aneh.

“Ya, aku juga. “  Sambut Jung dengan anggukkan, kemudian melirik bossnya yang masih tersenyum tanpa sebab ke arah bayangan pepohonan. Bossnya sedang kasmaran,

Akhir kata, mereka melajukan kendaraan menuju TKP.

.

.

.

Perjalanan mereka terhenti di depan sebuah bangunan sekolah yang sudah terlihat sepi, tapi masih ada beberapa siswa yang sedang bercengkrama di halamannya. Mereka asik memperhatikan team basket sekolah mereka sedang berlatih. Bang turun dari mobil dan berjalan ke arah pagar, mengintip sebentar untuk mencari sosok yang dicarinya.

“Jadi pacar Boss guru di sekolah ini?” tanya Kim mendekati Bossnya.

Bang melirik tanpa simpati.

“Kenapa kau tidak menunggu saja di mobil!” jawabnya sengit

Kim tersnyum menampilkan gigi kelincinya.

“Baik Boss!”

Laki-laki brunet itu menghela napas sebentar sebelum berjalan masuk dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Dia masih mencari sosok yang selama hampir tiga bulan ini selalu membuatnya tidur dengan mimpi indah. Entah bagaimana kejadiaanya sampai dia bisa terlibat dengan perempuan itu, tapi yang jelas Bang tidak bisa berkata ‘tidak’ padanya, karena perasaan cinta yang hadir dihatinya itu begitu bertubi tubi.

BRUGH

Bang menabrak seseorang yang berpapasan dengannya. Langkahnya terhenti begitu saja, melirik pada sosok yang entah sengaja atau tidak menyentuh tubuhnya.

Mereka berhadapan dengan tatap mata menyala. Sejak kapan ada yang berani melawan Bang. Secepat itu tangan kekar Bang mendorong kasar tubuh laki-laki itu hingga mundur beberapa langkah. Tidak sampai tersungkur, tapi cukup mengundang perhatian. Suasana mendadak terlihat genting, beberpa pasang mata yang menyaksikan terlihat fokus dan mendekat termasuk Kim dan Jung yang paham betul dengan tabiat bossnya yang luar biasa temperamental itu.

“Kau sengaja mencari masalah denganku!Apa kau bosan hidup?” gertak Bang dengan muka kaku. Dia menghunus telunjuknya dan menyerang laki-laki berpostur tinggi itu dengan emosi membabi buta. Tangannya menerjang dan mencengkram kerah seragam bocah yang masih terihat menantangnya itu sebagai aksi lanjutan.

“Boss!” Kim terlihat cemas dengan meremas jemari lentiknya.

“Bagaimana ini?” Jung pun bingung. Dia ingin melerai, tapi Bossnya tidak akan suka. Mereka berada di dalam lingkungan sekolah, kecuali jika mereka berada satu centimeter di luar pagar.

“Memangnya kau siapa?” tanya laki-laki itu tanpa rasa takut dan gentar.

“Kalau kau tidak tahu siapa aku, tanyakan pada mereka siapa aku?”  ujar Bang sambil melempar tubuh itu ke tanah, dan menendangnya. Semua berteriak, terutama siswa perempuan. Membuat Bang semakin kesal. Dia bersiap menendangkan kakinya lagi pada tubuh bocah itu namun sebuah teriakan memenjarakan aksinya, kakinya seketika terhenti tepat di depan perut bocah yang terkapar di tanah.

Oppa!”  Bang menoleh pada suara melengking itu.

Seorang gadis  berdiri di belakangnya dengan muka bersungut tapi tetap imut.

“Apa yang kau lakukan, Oppa?” tanyanya sambil mendekati Bang, tapi dia melewatinya dan langsung menolong laki-laki yang tadi dianiaya sosok feodal itu.

O come on, Jiyeon dia itu sudah berani menyenggolku!”  gerutu Bang keberatan karena gadis itu justru memperhatikan orang lain.

“Aku tidak suka Oppa bersikap kasar seperti ini!” teriaknya ketus,  “Kau tidak apa-apa Junhong?”  tanya Jiyeon pada bocah jangkung yang dihajar Bang tadi.

Bang menggaruk kepalanya sambil memperhatikan sekelilingnya, termasuk Kim dan Jung yang merasa bingung.

“Aku akan memutuskan hubungan kita kalau kau masih bersikap kasar seperti ini!”

Suara gunjingan terdengar bergemuruh, membuat muka Bang memerah.

“O please, Baby!” merajuk dengan suara berat dan mata redup.

Kim berpegangan pada lengan Jung karena syok melihat dan mendengar Bossnya begitu luluh oleh gadis itu.

“Jadi pacar Boss kita ini abg imut.”  Bisik Kim pada Jung

Jung membalas tatapan Kim dengan keterkejutan yang sama.

“Bagaimana bisa kita tidak tahu kalau pacar Boss kita anak di bawah umur.”  Gumam Kim lagi

“Kenapa dia tidak berkutik di depan pacarnya yang masih SMA itu?”

Berbagai pertanyaan meluncur dari bibir mereka dengan gamang. Fenomena aneh ini sungguh mencengangkan.

Mereka menahan tawa, sedangkan harga diri dan reputasi seorang Bang Yongguk hancur berantakan ketika Jiyeon berjalan mendekat dengan tatapan garang.  Bang berdiri serba salah melihat sikap Jiyeon yang akan memarahinya. Ini sudah kesekian kalinya Jiyeon memarahinya karena kepergok membuli orang, dan ancaman yang dia katakan selalu sama, yaitu memutuskan hubungan.

“Jangan bersikap seperti ini padaku, Sayang!”

“Aku tidak perduli Oppa, kau sudah membuatku kecewa.”

“Dia menyenggolku!” Bang masih membela diri sambil memegangi lengannyayang tadi disenggol Junhong.

“Apa salahnya saling bersenggolan? Aku juga bisa menyenggolmu. Apa kau akan menghajarku jika aku menyenggolmu Oppa? HAH?”  Jiyeon menyenggolkan tubuhnya pada pacarnya yang galak ini berkali-kali tapi Bang tak bereaksi, malah tersenyum aneh.

“Please, hentikan Sayang! Kau membuatku malu.”

Bang menggeleng resah sambil melirik sekitarnya. Dia berdecak dan memelototi mereka satu persatu.

“Kenapa kalian masih di sini? PERGIIIIIII! Kim Jung, usir mereka!” perintahnya pada anak buahnya.

Kim dan Jung menghalau kerumunan bocah SMA itu.

“Apa yang sudah kau lakukan pada sepupuku?”  pertanyaan itu mendadak membuat kening Bang berkerut.

Sepupunya?

“Jadih Junhong itu sepupummu?”  tanya Bang hati-hati

“BUKAAAN!” jawab Jiyeon dengan teriakan histeris, dan pacarnya berusaha menenangkan.

“Ash, Baby!  Jangan marah-marah begini.”  Dia mengusap kepala Jiyeon sebentar. “Baiklah, siapa sepupumu yang aku aniaya itu?”

“Moon Jongup. Tadi siang kau menculiknya. Kau apakan dia? Memangnya apa yang telah dia lakukan?”  kejar Jiyeon sengit sambil mendorong dada Bang dengan gencar. Bang terpojok mundur. Dia tidak bisa melawan Jiyeon, ataupun bersikap kasar padanya karena dia sangat menyayangi gadis ini setengah mati, meski sikap dan perangainya bertentangan dengannya.

“Moon sepupumu?”

“YA!”

“Dia guru.” Tegas Bang lagi,

“YA! YA!  YA!” jawab Jiyeon lantang. Bang memejamkan matanya mendegar teriakan nyaring itu. Sedangkan Kim dan Jung di dekat mobil terpingkal-pingkal melihat Bossnya tak berkutik di depan pacarnya yang cuma bocah SMA itu. Seorang Bang Yongguk tunduk di bawah teriakan gadis ABG—

Benar-benar sesuatu.

Please Dear, jangan marah-marah seperti ini. Aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi.”  Bang berusaha untuk meraih tubuh kekasihnya, tapi Jiyeon berkelit.

“Aku ingin kau meminta maaf padanya di depanku, baru aku akan memaafkanmu.”

Bang mendengus keras

“BAIKLAH! Aku akan minta maaf padanya, tapi kumohon biarkan aku memelukmu dulu! I miss you so much!”

Jiyeon mundur ketika Bang mendekatinya.

“Aku tidak mau kau sentuh, jika kau belum mengatakan maaf pada Moon dan Junhong.”

“Hhh! Okay, aku akan minta maaf sekarang. Mana Junhong?”  matanya mencari sosok yang tadi di hajarnya tapi tidak ditemukan,akhirnya dia melambai pada Jung dan Kim untuk mendekat.

Dua pengikut setianya itu mendekat dengan sekali lompatan.

“Ada apa Boss?” tanya Kim

“Cari bocah tadi!”

“Bocah apa, yang mana?”  Jung berpikir keras.

“Yang tadi aku hajar.”

“Kelihatannya dia sudah naik bus.” Jawab Kim

Bang melirik Jiyeon dengan cengiran, itu artinya dia tidak bisa memeluk pacarnya malam ini.

“Tidak bisakah aku memelukmu dulu?” tanya Bang dengan wajah memohon, tapi Jiyeon menggeleng.

“Aku akan pulang dengan bus. Kalau kau belum meminta maaf, kau tahu konsekuensinya.”

Jiyeon berjalan menjauh,

“Chagiya!” Bang berusaha mengejar, tapi lirikan tajam Jiyeon menghentikan geraknya.

Bang mengumpat dalam hati dengan kesialan ini. Jiyeon sudah berjalan menjauh dan tidak mau didekati. Ini BENCANA!

“Kalian kenapa diam saja?” Bang menumpahkan kekesalannya pada Jung dan Kim.

“Boss, aku tidak mengira kalau pacar Boss masih SMA.”

Bang mengangguk, dia tidak marah dan justru terlihat lemas ketika memikirkan Jiyeon yang tidak mau didekatinya.

“Dia gadis yang sangat cantik dan manis.” Tegas Bang lirih

“Tapi dia masih di bawah umur Boss.”

“Kenapa Boss tidak mencari wanita lain saja? Tinggalkan saja dia, Boss!”

BUG

Sebuah bogem mentah menerjang lengan Jung dengan kuat. Laki-laki itu meringis sambil memegangi lengannya.

“Tidak ada perempuan lain. Bagiku, Jiyeon itu sempurna.”

“Tapi dia membuat Boss tak berkutik.”

Bang menghela napas. “Apa salahnya aku tunduk padanya, aku mencintainya, tidak ingin membuatnya kecewa. Hanya dia yang bisa membuat hidupku berwarna, Kim.”

Dua anak buahnya itu tidak bisa berkata-kata. Ocehan mereka hanya terdengar seperti recehan bagi seorang laki-laki yang tengah di mabuk cinta.  Ya, apa salahnya memacari gadis SMA.

.

.

.

“O Baby, tidak bisakah kita bertemu malam ini? Aku ingin sekali memelukmu.”  Bujuk Bang di sambungan ponselnya. Dia berada di dalam mobilnya tepat di depan pagar rumah Jiyeon.

“Tidak bisa.”

“Apa kau tidak merindukan bibirku, Sayang?”

“Mmmh…”

“Aku tau kau pasti merindukanku, jadi kumohon ijinkan aku menemuimu malam ini.”  Masih mengemis, dan membuat bulu kuduk Kim meremang. Tidak biasanya dia mendengar Bossnya ini menjatuhkan harga dirinya seperti itu. Tapi demi kepalanya, dia diam. Bossnya ini bisa memenggalnya jika teralu banyak vocal.

“Kau di mana?”

“Di depan rumahmu.”

“Aku tidak ada di rumah. Malam ini aku ada janji bertemu dengan temanku. “

“Siapa? Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

“Siapa dia?”

“Hanya teman, Oppa.”

“Katakan kau di mana, aku akan segera menyusul.”

“Itu bagus, karena mungkin kau bisa meminta maaf padanya.”

Bang memutar otaknya. Apakah laki-laki itu Junhong.

“Jadi kau menemui Junhong hanya untuk ini.”

Tuuuuutttt

Mendadak ponselnya terputus. Bang mengernyit demi mendengar bunyi dengung panjang itu memekakkan kupingnya.

“Kenapa dia memutus pembicaraan seperti ini?”

Dengan cepat dia menekan nomor Jiyeon kembali, tapi ponselnya tidak aktive. Aneh. Apakah batereinya habis.

Mungkin saja.

Tapi, tidak biasanya dia memutus pembicaraan sebelum memberikan ciuman jarak jauhnya yang selalu membuat hati Bang terbang ke awang awang.

Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi lagi,

“HALO!” bentak Bang lepas kontrol

“Kau Bang?” tanya suara asing itu

“YA!”

“Kalau kau masih ingin pacarmu yang imut ini selamat, kau harus datang menemuiku!”

Mata bulat Bang langsung terbelalak sambil mencengkam lengan Kim dengan kuat. Namja di depannya itu meringis menahan perih ketika kuku kuku jemari Bang menancap di kulit mulusnya.

“A…a…ada apa Boss?” tanya Kim

“Pacarku diculik.”  Dengan nada lemah.  “PACARKU DICULIK! MY CUTE BABY di culiiiiiiiiik!”   teriaknya histeris

.

.

.tbc.

.

.

Hi gais!

Ini belum sepenuhnya cambek,  karena masih liburan dan nothing to do, so akhirnya bikin ff ini. Udah lama ga nulis buat Daddy Bang. mudah mudahan suka, ini emang agak nyeleneh Bang nya. minta diapain cobak! ya sudahah semoga suka, lanjutannya seperti biasa , S A B A R….

 

Advertisements

20 thoughts on “[Twoshot] Black Styling Good”

  1. Disini bbang hampir mirip sosok lupin kurasa, penjahat kelas kakap dengan kelemahan wanita…
    Aku shock sendiri ngebayangin bbang yg biasanya cool jadi… yeah, you na mean. Ngakak sumpah… ada-ada aja…
    Next ya, ditunggu lanjutannya… fighting!

    Like

  2. Wkwkwkw kocak 😄😄
    Bang yg sangar ternyata ga bisa berkutik sama jiyeon
    Btw jiyeon beneran diculik apa cuma akal2an biar bang dtg trus minta maaf sama junhong n jongup???

    Ditunggu lanjutannya lan

    Like

  3. itu mr.bang bikin ngakak , kelakuan nya yg bikin org takut dan gk berani ngelawan malah takut ma pacar nya yg abg .. haha
    gmana cara jiyeon nundukin mr.bang tu yahh
    itu beneran jiyeon diculik? siapa yg berani ? parahhh

    Like

  4. Cute bang,,,, hahaha
    Sangar tpi kalau ketemu pacar jadi kalem,, itu jiyi kenapa,,, di gangguin siapa,, atau cuma mau kerjain bang aja

    Like

  5. Sesosok bang yongguk paling d’takutin dan nyeremin klo sifat temperalmentalnya kumat tp hati hello kitty klo udh berhadapan dengan pacarnya jiyeon lgsg luluh n nggak bisa berkutik klo jiyeon udh marah2 sama yongguk, , kasian bgt tuh c’kim dapet cengkramannya yongguk yg sabar aja buat kim 😀 c’yongguk lucu bgt klo udh berhadapan dengan jiyeon sikapnya berubah manis n manja, , next chapter thor jgn lama kelanjutannya fighting 🙂

    Liked by 1 person

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s