[Freelance] 1 Minute – (Oneshot)

1 Minute

1 Minute

Adios Wipe

Jung Daehyun || Yoo Youngjae

Friendship, Mistery

Oneshot

Keheningan malam telah menyapa. Menyimpan lelah yang diraup sepanjang siang dalam balutan selimut tebal. Suara binatang malam seakan menjadi nyanyian yang mengantar lelap. Detak jarum jam yang beraturan mengiringi perjalanan detik demi detik yang berlalu tanpa lelah. Menjadi saksi bisu peradaban yang terus berubah.

Suara derit pintu terdengar nyaring. Diiringi derap ringan alas sepatu yang bertubrukan dengan lantai kayu. Menarik sosok letih yang berjalan dari kegelapan. Bunyi bedebum diiringi helaan nafas berat kembali memecah kehingan. Sorot sayu dari wajah lelah itu memandang pada sisi lain ruangan. Menatap seorang pria yang masih memandang keluar dengan menerawang.

“belum ada kemajuan?” sosok itu bergeming. Tak berniat meninggalkan titik nyamannya memandang keluar. Hingga suara gesekan kemeja dengan sofa sedikit mengusik ketenangannya. Pria bersurai cokelat itu menatap sosok yang terbaring diatas sofa sambil menutup matanya dengan lengan kanannya. Penampilannya berantakan. Balutan kemeja yang tak terlihat serapi biasanya, juga surai sewarna jelaga yang terlihat sama kacaunya.

“pergilah ke kamar. Badanmu akan sakit jika kau tidur seperti itu.” pria itu bangkit dari tidurnya. Mengandarkan punggung lelahnya pada sandaran sofa. Sinar matanya yang redup balas memandang lawan bicaranya yang masih duduk bersandar di jendela.

“yak! Daejung! Apa kau barusaja mengusirku?” pria itu menatap sinis pria yang dibalut sweater abu-abu itu.

“entahlah, aku hanya memberi saran. Dan sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu? itu terdengar aneh”

“kenapa? Aku menyukainya. Lagipula dimana masalahnya? Itu memang namamu, kan? Daejung, Daehyun Jung. Kurasa tak ada masalah” Daehyun hanya berdecih. Saat temannya itu kembali mendeskripsikan panggilan kesayangannya.

“aish! Panggilan itu sama dengan nama letnan Park, bodoh. Dia akan salah paham jika mendengarnya.” Wajah kesal Daehyun dan intonasi suaranya yang meninggi dibalas tawa riang orang di seberang sana. Alih-alih meminta maaf, ia malah mentertawakan raut kesal Daehyun. Menurutnya wajah kesal Daehyun terlihat sangat lucu.

“biar saja. Sepertinya itu lucu. Aku akan mencoba memanggil kalian berdua, nanti”

yak! Yoo Youngjae” youngjae semakin tergelak saat Daehyun berdiri mengancam sambil mengacungkan buku tebal yang baru saja diraihnya dari atas meja. Daehyun mendengus kasar, dan melempar kembali bukunya ke tempat semula. Percuma saja memukul Youngjae, toh itu juga tidak memberi efek jera.

arata. Mian” Youngjae berselu pelan saat tawanya mulai mereda. Daehyun tak menjawab. Ia telah kembali larut dalam lamunannya yang sempat tetunda.

“kau masih memikirkannya? Kurasa memang belum ada kemajuan terhadap kasusmu. Tapi kusarankan kau jangan membuang waktu. Kau tak akan menemukan jalan keluar jika hanya melamun saja.”

Daehyun memijit pelipisnya. Kepalanya terasa begitu pening. Kembali mengingat masalahnya yang masih belum memecahkan kasus yang ditanganinya benar-benar membuatnya frustasi.

“tidak ada jawaban. Aku tidak menemukannya.” Daehyun berjalan mengitari meja. Menghempaskan tubuhnya pada sofa lainnya di sebelah kanan Youngjae.

“bukan. Kau hanya belum menemukannya. Cobalah kembali. Aku mendapatkan beberapa informasi dari kepolisian” Youngjae menyerahkan kamera digitalnya. Tanpa banyak bicara, Daehyun mengambil alih kameranya.

Jemari Daehyun dengan lincah menekan tombol camera digital itu. manic tajamnya menatap dengan seksama gambar-gambar yang ada disana.

“untuk sementara kameramu aku pinjam.” Youngjae mengangguk. Ia mengamati Daehyun yang meletakan kameranya di atas meja. Membuat Youngjae mengernyit heran.

“kau tak langsung mengolahnya?” terdengan helaan nafas Daehyun, pria itu menutup matanya sebentar. Tak langsung menjawab pertanyaan Youngjae.

“aku akan melakukannya nanti.” Youngjae mendengus saat jawaban itu terlontar ringan dari mulut Daehyun. ‘Nanti’ bukanlah jawaban yang diingingkan Youngjae. Pria itu menendang kaki Daehyun dengan kesal. Membuat sang empunya memekik tertahan dengan mata yang menatap nyalang.

“apa yang kau lakukan, huh?” Daehyun berteriak kesal. Tangan kanannya mengelus tulang kering sebelah kirinya dengan pelan. mencoba mengurangi rasa sakit akibat tendangan Youngjae.

“kerjakan pekerjaanmu sekarang bodoh! Mau sampai kapan kau menundanya? Sudah terlalu banyak waktu yang kau buang hanya untuk melamun.” Youngjae balas berteriak. Daehyun tertawa mengejek. Ini sudah hampir tengah malah dan dia benar-benar lelah. Tidak bisakah ia beristirahat barang sebentar? Daehyun paham. Youngjae memang tipikal orang yang disiplin, tapi yang perlu digaris bawahi adalah Daehyun bukanlah Youngjae. Mungkin mereka sudah lama bersama. Sejak tingkat 2 SMA hingga kini bekerja di tempat yang sama. Berbagi masalah bersama, dan menemukan penyelesaiannya bersama, namun mereka juga memiliki cara tersendiri untuk menemukannya.

“youngjae-ah! Aku juga butuh istirahat. Beri aku waktu setidaknya sepuluh menit” Youngjae menghembuskan nafas panjang. Ia sudah jengan dengan polah sahabatnya ini. Beginilah Daehyun, ia harus didorong terlebih dahulu, baru mau bergerak.

“inilah masalahmu. Kau terlalu menyia-nyiakan waktu. Aku tahu ini mungkin memang bukan urusanku, tapi aku juga peduli padamu. Jika saja kau mau memanfaatkan kecerdasanmu dan mengefektifkan waktu, kau akan segera menyelesaikan kasusmu tanpa stress seperti ini. Aku sudah mengatakan padamu be-“

“betapa berharganya waktu walau hanya satu menit. Betapa berartinya waktu walau hanya dalam hitungan detik. Kau sudah mengatakannya 5 kali dalam seminggu terakhir.” Daehyun sengaja memotong ucapan Youngjae. Ia lelah. Benar-benar lelah.

“lalu kenapa kau tak mengerti juga?”

“kau terlalu berlebihan! Kau selalu saja membesar-besarkan masalah. Tidak bisakah kau mengerti posisiku?”

Hembusan angin yang meniup gorden jendela mengisi hening diantara mereka. Keduanya sama-sama diam. Menunduk dalam kekalutan yang tercipta beberapa detik yang lalu. Keduanya sama-sama terbawa emosi dan berujung saling berteriak. Lelah. Mungkin itulah yang membuat mereka berbuat seperti ini.

“aku tahu. Aku hanya tak ingin kau sepertiku. Aku hanya tak ingin kau menyesal. Maafkan aku” suara Youngjae terdengar lirih. Pria itu terlihat begitu rapuh. Kedua sikutnya bertumpu pada lutut untuk menyangga kepanya yang menunduk. Membiarkan surai hitamnya menutupi wajah kusutnya.

Daehyun ikut menunduk. Menyesali perbuatannya yang membuat Youngjae seperti ini. Ia mengerti maksud Youngjae yang tak ingin Daehyun merasakan ketakutan seperti dirinya. Dibalik sifat periang Youngjae, pria itu menyimpan kenangan buruk dimasa lalunya. Ia pernah membiarkan sepupunya yang mengalami trauma terlalu lama menunggunya yang tengah membeli camilan. Hingga saat traumanya kambuh, tak ada orang yang bisa membantunya. Saat Youngjae kembali, sepupunya sudah tak sadarkan diri akibat sesak nafas, dan aritmia dari efek traumanya. Walau sempat dibawa kerumah sakit, ia tetap tak bisa tertolong karena aritmianya yang tak kunjung hilang. Saat itu adalah saat yang paling sulit untuk Youngjae. Saat dimana ia telah gagal melindungi sepupunya. Orang yang ia sayangi, namun nyatanya tak bisa ia lindungi.

“bukan salahmu. Istirahatlah! Kau terlihat lelah.” Tanpa menjawab, Youngjae beranjak dari posisinya. Langkah pelannya membawa tubuhnya meninggalkan ruangan Daehyun.

Daehyun mengusap wajahnya saat pintu ruangannya tertutup. Ia mengambil kamera Youngjae dan duduk di kursinya. Menguji kecocokan data yang telah diolahnya dengan foto-foto di lapangan. Pria itu menyandarkan punggung lemahnya pada sandaran kursi. Mata tajamnya yang kini bersinar redup lekat memandangi potret keramaian di jembatan penyebrangan. Kasus bunuh diri. Itulah yang tengah ditangani Daehyun. Mencari motif bunuh diri dari seseorang bukanlah hal yang sulit. Jika bukan factor mental, ekonomi, atau asmara, maka tekanan batinlah penyebabnya. Namun bukan itu masalahnya. Kasus ini terlalu ganjil. Seperti bukan kasus bunuh diri.

Daehyun melempar dokumen di tangannya. Ia kembali menghela nafas. Entah sudah berapa kali ia mengulanginya, namun pening yang terus mengikat kepalanya tak kunjung hilang. Malah semakin menjadi. Jangan sia-siakan waktu. Suara Youngjae terus saja menggema di kepalanya. Membuat pria itu memejamkan matanya erat. Daehyun tahu itu. sangat tahu. Tapi bisakah kalimat itu tidak muncul sekarang?

Pria itu membuka kelopak matanya cepat. Tangannya bergerak brutal mencari dokumen yang barusaja dilemparnya. Manic tajamnya membaca kata demi kata yang tertulis dengan seksama. Terus mengulanginya hingga benar-benar ia pahami maksudnya. Tangannya beralih meraih kamera Youngjae. Jemarinya bergerak cepat menelusuri gambar-gambar yang menjadi dokumentasi dari kasusnya.

tak

Daehyun mematung. Gerakan tubuhnya berhenti. Ia memandangi salah satu foto yang menarik perhatiannya. Foto jembatan tempat dimana kasusnya terjadi. Daehyun memperbesar gambarnya. Mengarahkan pada bagian bawah jembatan. Didapatinya bekas warna kehitaman. Minyak. Itu bekas minyak. Manik tajamnya kembali mencari gambar sebelumnya. Gambar seorang gadis yang berddiri disamping kerumunan. Gadis itu membekap mulutnya. Tercengan dengan kejadian di depannya. Namun ada yang salah. Ujung sepatu gadis itu terlihat basah dan sedikit mengkilap. Pada ujung lengan bajunya pun terdapat hal serupa. Semua dugaannya jelas. Ini bukan kasus bunuh diri. Ini kasus pembunuhan.

Daehyun dengan sigap membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjanya. Memasukannya ke dalam tas bersamaan dengan kamera Youngjae. Pria itu menarik mantelnya yang tersampir di sandaran kursi dan melangkahkan kaki jenjangnya melintasi ruangan.

“Daehyu-“

“ikut aku!” Daehyun menarik tangan Youngjae cepat saat didapatinya pria itu berada di depan pintu ruangannya. Kedua pemuda itu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.

“hey! Ada apa? Sesuatu yang buruk terjadi?” Youngjae berujar di tengah langkahnya yang terseok akibat diseret Daehyun. Beberapa kali ia tersandung namun Daehyun tak bergeming.

“dugaanku benar. Ini kasus pembunuhan.”

“apa?” Youngjae nyaris berteriak. Ia masih terkaget hingga terdiam di depan pintu mobil. Menatap Daehyun yang berjalan  ke sisi lainnya.

“apa yang kau lakukan? cepat masuk.” Youngjae menarik cepat pintu mobil silver itu dan duduk disamping kemudi. Tangannya memasang cepat sabuk pengaman dan menatap Daehyun penuh tuntutan.

“kau belum menjelaskan apa-apa padaku.”

“kau akan mengerti nanti. Sekarang kita harus pergi” Daehyun meginjak pedal gas dan meninggalkan rumahnya dengan kecepatan tinggi. Disampingnya Youngjae masih belum mendapatkan kesadarannya. Ia tak bisa berfikir jernih saat ini.

“mau kemana kita?”

“jembatan”

“apa yang akan kau lakukan disana?”

“kita akan menemui pembunuhnya” Youngjae masih tak mengerti. Apa Daehyun sudah gila? Sekali lagi Youngjae memandang bingung kearah Daehyun yang masih fokus mengemudikan mobilnya. Ini tidak masuk akal.

“bagaimana bisa kau seyakin itu? bisa saja dia sudah melarikan diri.”

“pembunuhnya adalah orang yang melaporkan kasus bunuh diri ini. Dia pekerja paruh waktu di sebuah toko 24 jam. Dia pulang pukul 1 pagi tiap 3 hari sekali. Itu artinya kita bisa menemuinya lagi hari ini, karena kasusnya terjadi 3 hari kebelakang.”

“kau yakin dia akan kembali melewati jalan itu?”

“tidak ada salahnya mencoba.”

Daehyun menepikan mobilnya. Ia merogoh tas nya dan mengembalikan kamera Youngjae.

“aku akan menunggu di jembatan.” Tanpa menunggu persetujuan Youngjae, Daehyun melesat keluar mobil dan berlari. Youngja turun dari mobil. Ia berjalan ke bawah jembatan. Memotret tempat kejadian, walau ia sedikit tidak yakin ini bisa berarti. Matanya menelusuri setiap jengkal aspal yang kini sudah bersih dari garis polisi dan sisa-sisa kejadian. Ia mendongak menatap pada pinggir jembatan.

Daehyun menghela nafas. Seperti dugaannya. Ada noda minyak disini. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang keadaan sekitar. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergalangan tangannya. Pukul 1.00, kembali pria itu mendesah gelisah.

Manic tajamnya memicing saat melihat siluet seseorang yang berjalan sendirian. Gadis berambut ikal yang sedang berjalan tergesa. Daehyun menyeringai samar. Ia berjalan ke ujung jembatan.

“permisi nona” gadis itu mendongak kala suara berat seorang pria mengagetkannya. Mata hazel wanita itu menatap kaget eksistensi Daehyun yang tengah tersenyum ramah di depannya.

“ya?”

“bisa kita bicara sebentar?” gadis itu memandang Daehyun waswas. Hal yang wajar dialami wanita yang tengah berjalan sendirian dini hari dan tiba-tiba bertemu pria asing.

“anda siapa?”

“nama saya Jung Daehyun. Bisa bicara sebentar?” gadis itu menatap Daehyun lamat-lamat. Memperhatikan setiap jengkal tubuhnya. tak ada yang aneh, namun ajakannyalah yang membaut gadis itu waswas.

“maaf, saya harus segera pulang” gadis itu sedikit menunduk dan memacu langkahnya. Tapi Daehyun kemabli menghentikannya.

“komohon, hanya sebentar” gadis itu berbalik pandangan matanya nampak waswas. Ia sedikit gugup.

“ada apa?” respon gadis itu membuat Daehyun kembali tersenyum.

“apa kau tahu ada kasus bunuh diri beberapa hari yang lalu disini?”

“hm…ya.”

“bisa kau ceritakan?” gadis itu mengerutkan keningnya. Ini pertanyaan yang tidak wajar.

“kenapa kau menanyakan itu?”

“hanya ingin tahu. Aku bergabung di klub majalah kampus, temanku mengenal gadis itu. walaupun tidak dekat. Jadi aku tertarik untuk mengetahuinya.” Daehyun mengangkat bahunya. Gadis itu nampak menimang. Ia menatap ke tempat kejadian. Tubuhnya sedikit bergetar.

“aku tak tahu. Saat itu aku sangat lelah dan berjalan pulang melewati jalan ini. Aku sempat berhenti sebentar untuk istirahat. Saat aku melanjutkan langkahku, aku mendengar teriakan, dan ternyata gadis itu bunuh diri. Aku tak tahu bagaimana persisnya, karena saat itu aku membelakanginya.  Maaf, aku tak bisa banyak membantu.” Daehyun termenung. Keterangan gadis ini agak samar. Ini bisa saja menyulitkannya.

“kau mengenal korban?”

“entahlah, tapi kurasa aku pernah melihatnya” Daehyun mengangguk. Bukti demi bukti yang berhasil diolahnya kembali berputar di kepalanya.

“saat itu kau membawa belanjaan?” gadis itu sedikit tercengan, namun ekspresinya kembali normal.

“hm. Ya.”

“minyak?”

“bagaimana kau tahu?” gadis itu kembali terkejut.

“dia pelakunya”

“apa?” gadis itu terbelalak. Tak lama kemudian muncul beberapa orang polisi menghampiri mereka.

“hey, aku-“

“amankan dia, kita akan menyelidikinya di kantor”

“baik” gadis itu terbelalak. Bagaimana bisa dia dituduh bersangkutan dengan aksi bunuh diri gadis itu.

“hey. Aku tidak membunuhnya.” Gadis itu sedikit memundurkan langkahnya menjauh. Sedangkan Daehyun tersenyum.

“kenapa kau berfikiran seperti itu? aku tidak bilang ini kasus pembunuhan” gadis itu terlihat gelagapan. Ia menghentakan pegangan dua orang polisi di tangannya dan berlari sekuat tenaga. Tapi hasilnya tetap sia-sia. Ia kalau cepat.

“Daehyun-ah! Hentikan!” Daehyun menoleh kearah Youngjae yang tengah berlari kearahnya.

“ada apa?”

“hipotesismu salah. Dia bukan pembunuhnya.” Kening Daehyun berkerut. Ia tak mengerti maksud Youngjae.

“Youngjae. Kau tak tahu.” Daehyun menatap heran cincin yang dberikan Youngjae padanya.

“kau keliru. Ini murni kecelakaan.” Untuk beberapa detik Daehyun termenung. Memandang mobil polisi yang telah menjauh, cincin, dan Youngjae dengan bergantian.

“Youngjae-ya, aku…”

-***-

Pintu itu berbunyi nyaring setelah seorang pria membukanyanya dengan keras. dibelakangnya berjalan sosok lainnya yang berjalan lunglai.

“kau bodoh!” pria itu membanting tubuhnya di sofa. Ia mengusap wajahnya kasar.

“maafkan aku.” suara lain menyahut.

“Youngjae-ah! Bagaimana kau mengetahuinya?” Youngjae membuka matanya. Ia menatap sebal Daehyun yang memandangnya antusias.

“aku lebih pintar darimu, dan aku tahu apa isi otak cerobohmu.” Daehyun terkekeh pelan.

“baiklah, maafkan aku. kau tahu, tiba-tiba menumpahkan minyak di jembatan, itu begitu ambigu.”

“dia tidak menumpahkannya, Dae”

araseo. Hah~ gomawo. Aku baru memahaminya” Youngjae menatap Daehyun yang tengah menatap langit-langit. Terlukis senyum tipis di bibir penuhnya yang kering.

“memahami apa?” Daehyun bangkit. Ia menegakan tubuhnya dan memandang Youngjae dengan berseri.

“kau benar. Walaupun hanya semenit, waktu itu sangat berharga. Mungkin menurutmu berharga dalam artian waktu itu berarti, memberi kenangan tersendiri. Tak jauh beda denganku. Menurutku dalam semenit itu penuh dengan cerita. Maksudku, aku bisa melakukan banyak hal dalam 1 menit. Seperti tadi. Menunggu gadis itu, berbincang, menuduhnya, dan kenyadari kesalahanku. Aku mengalaminya dalam waktu yang singkat. Dan kurasa aku menyukainya.” Youngjae tertawa. Ini adalah hal yang sangat jarang Daehyun lakukan. biasanya pria itu akan bersikap masa bodoh, dan semaunya sendiri. Tapi kini, ia memiliki pandangan yang luas dari pengalamannya beberapa waktu lalu. Sesuatu yang sangat dibutuhkan detektif kepolisian seerti mereka.

“tapi kurasa… gadis itu yang kurang beruntung. Berniat ingin menolong, namun malah tergelincir dan jatuh dari jembatan” nada bicara Daehyun terdengar lirih. Ada kesedihan di dalamnya, dan Youngjae mengerti itu. miris memang. Tapi inilah yang disebut kehendak tuhan.

“tidak. Setidaknya gadis itu berhasil melakukan sebuah kebaikan diakhir hidupnya. Mengamankan cincin itu hingga kini kembali ke pemiliknya.”

“yeah kau benar”

-END-

Ya ampun, apa ini?????

I’m really really sorry for it.

Saya tahu cerita ini benar-benar gak nyambung, entahlah imajinasi saya jadi menguap entah kemana T_T jadinya ya gini, cover, judul, dan isi ngelantur.

Sebelumnya salam kenal J saya benar-benar baru dalam menulis fanfic, untk itu mohon bantuannya… *bow

Saya ucapkan terima kasih untuk yang sudah menyempatkan membaca FF absurd ini, dan semoga gak nyesel ya… hhe hhe

kritik dan sarannya sangat saya tunggu

Advertisements

2 thoughts on “[Freelance] 1 Minute – (Oneshot)”

  1. Sebelum komen, boleh kenalan dulu, kak?
    Aku Maru, line 01.

    Pertama kali baca castnya, yes… DaeJae. Baca genre, yes… friendship, mystery. #abaikan
    Gak tau kenapa, aku suka banget baca ff DaeJae, tapi jangan yang yaoi atau ratingnya diatas PG 15.

    Bagus, kak, aku suka. Yeah, awalnya mikir Daehyun bener, tapi Youngjae tiba-tiba dateng dan bilang kalo dia salah. Aku suka banget part awal, waktu Youngjae baru dateng itu. ^^

    Kritik dan saran? Aku gak tau yang di atas masuk atau enggak, tapi yang pasti, bahasa kakak lebih tinggi daripada bahasa aku yang masih kekanak-kanakan. Cuma tadi aku nemu typo aja, kak. Aku gak berani ngasih saran, soalnya aku juga baru mulai nulis ff.

    Tapi ngomong-ngomong, itu cincin siapa? #efekotaklemot

    Like

    1. Hai… senengnya nemu daejae shipper ^_^ salam kenal, aku 99 line…
      Aku juga suka banget sama persahatan DaeJae, oleh karena itulah aku bikin ff daejae…
      Terimakasih banyak atas komentarnya, untuk kedepannya, aku akan coba lebih baik lagi…
      Itu cincin milik orang yg dituduh ngebunuh sama Dae, ceritanya cincin gadis itu jatoh pas dia lagi istirahat di jembatan. Terus gadis yang nemuin cincinnya berniat mau ngembaliin eh dia malah kepeleset tumpahan minyak gadis tadi… maaf kalo membingungkan… otakku kepentok tembok (?)
      Sekali lagi, terima kasih atas komentarnya ^_^ dan maaf, balesnya telat… he he

      Liked by 1 person

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s