[Zelo’s Party] A Day With Promise – Vignette

 

A Day With Promise

dk1317’s present

Cast: Choi Junhong, Yoon Minji

AU!Slice of life, hurt

Vignette

PG-15

Based on LittleRabbit prompt’s : “Mau jadi musim panas maupun musim dingin, kamu tetap nomor satu.”

 

..

.

Junhong berjalan sempoyongan dengan kemeja yang berantakan. Memasuki pintu rumahnya dengan tersendat nyaris terjatuh. Ia menggeleng menyadarkan dirinya sendiri dari mabuk yang ia rasakan. Ya, baru saja dia minum-minum tadi. Sendirian tanpa ada yang menemani. Sebab mengapa? Ia baru saja ditolak sebuah perusahaan tempat ia melamar kerja. Pasalnya sudah berapa kali selama beberapa tahun ia terus ditolak. Menjadi pengangguran diumur 25 tahun bukanlah hal yang menyenangkan.

Junhong meronggoh ponsel di saku jasnya. Mencari sebuah kontak kemudian menekan tombol telepon. Setelah sekian detik, seseorang dari seberang sana mengangkat telponnya.

“Ya! Yoon Minji, hehe tebak aku sedang apa?” Tanyanya

Terdengar helaan napas dari seseorang bernama Yoon Minji.

“Lamaran kerjamu ditolak lagi?” Tanya Minji

Junhong terkekeh pelan, “bagaimana kau bisa tahu? Kau memang hebat Minji-ya..”

Kembali helaan napas terdengar dari seberang sana.

“Di mana kau? Ah tidak, aku akan kerumahmu..”

Junhong merebahkan tubuhnya di sofa dan terlelap begitu saja.

..

.

“.. hong! Choi Junhong!”

Junhong mengerjabkan matanya sebab terpaksa bangun karena suara melengking seorang gadis kecil seumurannya.

“Bangun pemalas! Hari ini kita tamasya!”

Ah, sial. Junhong telah melupakan hari kesukaannya. Mungkin terlalu lelah karena kegirangan akan pergi bertamasya bersama teman sekelasnya. Ia sudah mengemas barang hingga larut malam, bahkan sudah memikirkan apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka makan. Junhong begitu menyukai tamasya bersama teman-teman, sudah menjadi hobinya hingga kini.

“Kenapa tidak membangunkanku dari tadi!” Kesal Junhong

Gadis itu kesal dan menjitak kepala Junhong geram.

“Kau pikir aku tidak sibuk? Lagi pula kenapa aku harus berjalan ke rumahku pagi-pagi sekali hanya untuk membangunkanmu?” Ucapnya dan pergi meninggalkan Junhong yang meringis kesakitan.

“Awh, sialan kau Yoon Minji!”

..

.

Junhong begitu bahagia dan sedari tadi menyanyi dan menari di dalam bus. Teman-temannya juga mengikutinya dengan senang. Junhong begitu menyukai musim panas sebab ia selalu bisa pergi tamasya seperti ini.

Minji hanya memperhatikan saja dari tadi. Ia tersenyum sebentar melihat tingkah Junhong yang menurutnya aneh kemudian terlelap dalam tidurnya.

Junhong melihat Minji yang ketiduran kemudian kembali ke tempat duduknya-yakni di samping Minji itu sekadar menemaninya. Suasana pun menjadi tenang dan perlahan, semua terlelap.

Tak berapa lama mereka sampai ke tujuan. Junhong turun pertama kali untuk melihat betapa indah tempat yang mereka kunjungi ini. Junhong menghirup udara sekitar, merasakan bau pepohonan yang menyejukkan.

“Minji-ya!” Panggil Junhong dan menarik Minji setelah ia keluar dari bus

Junhong mengajak Minji pergi dan berjalan-jalan. Minji yang kewalahan mengikutinya tertawa lepas setelah ia merasa lelah.

“Hei Junhong! Kenapa kau begitu menyukai musim panas?” Tanya Minji

“Hm? Musim panas? Ini menyenangkan kau tahu? Haha, kau tidak akan bisa bertamasya jika tidak di musim panas..” Jawab Junhong dengan penuh semangat.

Minji hanya tertawa mendengar jawaban teman masa kecilnya itu.

“Kurasa kau benar kali ini..” Ujar Minji

“Kali ini? Hanya kali ini saja? Haha, kau sangat menyebalkan Minji..”

Minji kembali tertawa sebab ejekan Junhong baginya tidak menyakitkan.

“Lalu Minji, kau menyukai musim apa?” Tanya Junhong

Minji berpikir sejenak membiarkan Junhong menunggu sementara banyak memori yang ia lakukan pada musim yang berbeda.

“Hm, sepertinya musim dingin..” Jawab Minji

“Oh ya? Mengapa? Padahal musim dingin begitu berlawanan dengan musim panas?”

“Sebab, kau akan menemukan banyak makanan enak di musim itu..”

“Hahaha, dasar! Pikirmu hanya makan saja..”

Mereka tertawa dan saling mengejek satu sama lain. Hingga Junhong terdiam memikirkan sebuah hal.

“Kalau begitu, jika kita sudah dewasa, aku akan mengajakmu bertamasya bersama agar kau tau betapa menyenangkannya musim panas..”

“Haha, kalau begitu jika sudah dewasa nanti aku juga akan mengajakmu wisata kuliner di musim dingin..”

Mereka berjanji satu sama lain kemudian kembali berjalan-jalan menikmatai tamasya yang entah mengapa seperti hanya milik berdua saja.

..

.

“.. hong! Choi Junhong!”

Mata Junhong langsung terbuka lebar. Ia menatap orang yang membangunkannya. Yoon Minji. Junhong mengela napas lega kemudian merubah posisi baringnya.

“Yak! Bangun kau harus bersihkan diri dulu. Auh bau sekali, seberapa banyak kau minum?”

Junhong tidak menjawab pertanyaan Minji dan malah menariknya untuk duduk di bawah. Junhong mengubah posisinya sehingga menatap Minji yang sedang duduk.

“Akhir-akhir ini aku memimpikan janji kita lima belas tahun yang lalu..”

“Janji? Ah, janji waktu tamasya dulu?”

“Kupikir aku harus bekerja untuk menepatinya, makanya aku..”

Junhong menggantungkan perkataannya dan terlelap begitu saja. Minji tersenyum melihat Junhong yang terlelap. Ia mengusap rambut Junhong perlahan. Minji menyenderkan tubuhnya dan memperhatikan rumah Junhong yang begitu nyaman. Minji tahu Junhong mendapatkan warisan rumah ini dari kedua orang tuanya sementara kedua orangnya memilih untuk kembali ke Mapo. Tapi tetap saja Junhong membutuhkan uang untuk kehidupannya sehari-hari dan tidak sekedar mengharapkan uang kiriman orang tuanya.

“Lupakan saja janjinya, aku tidak apa-apa, kok. Lagi pula, ah sudahlah..”

..

.

Keesokan harinya, Junhong terbangun dan mendapati suara hentakan pisau dari arah dapur. Junhong duduk menyandar dan mengurut lehernya yang agak kram kemudian berjalan ke arah dapur dan mendapati Minji sedang masak.

“Hei, kau sudah bangun. Ku masakan bubur untukmu, makanlah selagi hangat..” Ucap Minji yang terlihat sibuk membuat masakan lain

Junhong memperhatikan Minji, “kau tidak bekerja?” Tanyanya

“Sebentar lagi..”

Junhong terdiam dan berjalan ke meja makan. Ia menyantap bubur buatan Minji. Tiba-tiba saja dia teringat kembali dengan mimpi janji mereka lima belas tahun yang lalu.

“Kapan kau akan mengajakku wisata kuliner?” Tanya Junhong setelah menghabiskan buburnya.

“Saat musim dingin. Ini sudah ku masak lauk makan siangmu. Kau kekurangan serat, kau tau itu?”

Junhong hanya terdiam. Apakah memang sesibuk ini seorang Yoon Minji yang masih bisa mengkhawatirkan dirinya? Jujur saja, Junhong tidak mau terus-terusan bergantung pada Minji. Namun, hal itu terasa begitu nyaman. Mungkin karena mereka sudah lama saling mengenal.

“Aku pergi dulu, jika ada apa-apa telepon saja aku,” ujar Minji lalu keluar dari dapur dan mengemas barangnya serta berangkat bekerja.

Junhong menghela nafas dalam, “Junhong, kenapa kau berpikir untuk menikahinya?”

Ya, Junhong selalu saja berpikir untuk menikahi Minji karena begitu mengenalnya.

..

.

Minji berjalan cepat menuju kantornya yang memang tidak terlalu jauh dari rumah Junhong. Hari ini cuacanya cerah sebab musim semi lumayan hangat. Namun, serbuk bunga ceri begitu dihindari para pejalan kaki yang alergi, apalagi Minji yang-

“Uhuk uhuk uhuk..” Minji terbatuk-batuk setelah melewati jejeran bunga ceri yang bermekaran

-tersiksa dengan hal itu. Ia mencari-cari sesuatu di dalam tasnya sambil masih berjalan ke arah kantor. Nihil. Ia tidak menemukan apa yang ia cari.

“Apa ketinggalan di rumah ya?”

Minji tidak terlalu memperdulikannya dan segera berlari masuk ke dalam kantor.

“Minji!”

Minji menoleh mendapati rekan kerjanya menyapanya di kejauhan.

“Oh, hai Yun..”

“Serbuk bunga ceri hari ini banyak sekali, kau tidak apa-apa?”

Minji mengangguk, “karena masih pagi aku tidak apa-apa, mungkin nanti siang haha.. semoga saja tidak..”

Yun memperhatikan Minji kemudian merangkul rekan kerjanya itu.

“Semangaat!”

Minji tersenyum dan mereka berjalan bersama.

..

.

Siang ini angin yang menerbangkan serbuk bunga begitu kencang. Minji sedari tadi terdiam dan memilih untuk tidak keluar dari kantor sembari menunggu Yun membeli masker untuknya. Minji teringat satu hal dan segera menelpon Junhong.

“Kau sudah makan?” Tanya Minji

“Eo, masakanmu enak seperti biasa. Mau jadi istriku?”

“Haha, apa-apaan itu..”

“Kebetulan kau menelpon, mau bertamasya besok?” Tanya Junhong

Minji terdiam. Bukankah ini masih musim semi? Mengapa Junhong mengajaknya bertamsya. Apakah Junhong tidak tahu tentang-

“Karena bunganya bermekeran begitu indah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan di sekitar Sungai Han..” Ujar Junhong penuh semangat.

-penyiksaan oleh serbuk bunga ceri terhadap Minji. Minji tersenyum di sela pembicaraannya dengan Junhong.

“Haruskah?” Tanya Minji

“Iya! Pasti menyenangkan, nanti aku akan mengajakmu bersepeda bersama!” Jawab Junhong penuh semangat.

Minji tertawa, tidak hilang sama sekali semangat bertamasya dari seorang Choi Junhong. Akhirnya, Minji mengiyakan ajakan Junhong.

“Kau masih di kantor? Mau kujemput?” Tanya Junhong

“Ah, tidak apa-apa aku pulang bersama Yun saja..”

“Sekalian aku mau memberikan barangmu yang ketinggalan..”

“Oh ya? Baiklah..”

Yun datang tepat setelah Minji mematikan teleponnya. Yun memberikan Minji masker yang telah ia beli.

“Maaf Yun, Junhong mau menjemputku hari ini..”

“Ah, benarkah? Wah, baiklah aku tidak akan memaksamu..”

“Maaf ya..”

Yun pun segera pamit dan meninggalkan Minji. Minji dengan segera memasang maskernya dan menunggu Junhong diluar. Tak berapa lama, Junhong datang dengan baju santainya.

“Ini..” Ujar Junhong sambil menyerahkan sebuah botol kecil kepada Minji

“Ah..” Minji segera mengambilnya dan menaruhnya langsung ke dalam tasnya

Junhong bingung dengan reaksi Minji dan bimbang ingin menanyakannya atau tidak. Minji yang merasa geram dengan dirinya sendiri sama sekali tidak berani menatap Junhong.

“Kau sakit?” Tanya Junhong memperhatikan Minji yang memakai masker

“Apa? Ah, ini hanya sedikit flu..” Jawab Minji sekenanya saja

Junhong berhenti berjalan. Minji bingung kemudian ikut berhenti serta membalikkan badannya dan mendekati Junhong.

“Ada apa? Ayo jalan lagi..” Ujar Minji

“Kau alergi serbuk bunga?” Tanya Junhong

Minji terdiam kemudian menghela napas, “ayo pulang..”

“Yoon Minji, jujurlah padaku..”

Minji kembali menghela napas, “iya, tapi tidak parah kok..”

Junhong geram. “Bohong. Kalau tidak parah tidak akan mungkin mendapat obat satu botol atau memakai masker seperti itu..”

Minji terdiam. Junhong mengacak rambutnya geram kemudian memghela napas panjang.

“Besok, tidak jadi tamasyanya..”

Minji terkejut dan menatap Junhong.

“Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau penyakitmu bertambah parah..”

Minji terdiam. Tidak tau mau berkata apa. Sangat disayangkan, Minji begitu menyukai musim semi sebenarnya, hanya saja dia tidak bisa bertahan dengan musim ini dan memilih menyukai musim dingin. Minji tertunduk sedih. Ia tidak menyangka penyakit yang ditutupinya akhirnya ketahuan juga oleh Junhong.

“Aku cemburu dengan musim semi dan memilih menjadi musim dingin..” Ujar Minji tiba-tiba

Junhong menoleh, “maksudmu?”

“Aku memilih menjadi musim dingin sebab cemburu dengan musim semi yang akan bersemu setelahku, yang memberikan kehidupan yang baru, menghangatkan seluruh jiwa setelah dingin tersapu rata. Sedangkan aku musim dingin yang menutupi semua kehidupan, yang menyembunyikan kebenaran, yang membuat beku seluruh alam..”

Junhong memeluk Minji erat. Begitu erat sehingga membuat Minji menitikan air mata berkat kehangatan yang ia berikan.

“Mau jadi musim panas atau musim dingin atau musim apapun itu, kau tetaplah yang nomor satu bagiku. Aku ingin menjagamu dengan segenap jiwaku, takkan kubiarkan kau sakit lebih dari ini sebab keegoisanku..”

Minji terkekeh mendengar kata-kata Junhong yang sok romantis baginya. Lagipula ini menggelikan sebab mereka bukan sepasang kekasih.

“Junhong-ah, ini memalukan..” Ujar Minji yang langsung membuat Junhong tersipu malu dan melepaskan pelukannya.

“Pokoknya kita tidak jadi tamasya besok..”

“Oh ayolah Junhong-ah, kapan lagi kau mau menepati janjimu?”

“Bukankah itu musim panas?”

Minji geram dan memukul Junhong dengan kesal. Padahal dia sangat menanti tamasya di musim semi.

“Ketika kau lepaskan masker itu sebentar saja, sepertinya bersinmu akan beribu kali lamanya..”

“Kau menyebalkan!”

Junhong terkekeh dan mengacak rambut Minji geram. Junhong memperhatikan tingkah Minji yang terus memarahinya.

“Minji-ya, jika aku sudah mendapat pekerjaan dan gaji tetap, aku akan melamarmu..”

Minji terdiam dan menatap Junhong penuh dengan rasa terkejut.

“Kau bilang apa?”

“Aku menyukaimu, kau harus jadi istriku nanti..”

Kata-kata terkonyol yang didengar Minji hari ini, namun anehnya, Minji tidak menolak hal itu. Yah, dengan ini janji Junhong bertambah lagi. Tapi bagi Minji sendiri, hari-hari yang mereka lalui bersama sudah termasuk wisata kuliner dan bertamasya baginya, apalagi bukan hanya mereka lakukan di musim panas dan musim dingin namun di semua musim. Dengan cinta yang terjalin secara alami, mereka saling memgerti satu sama lain.

Hingga, nanti..

 

.fin.

 

Author’s note: fic paling gaje di antara yang paling gaje :” ending yang terasa dipaksakan :” serta.. huft.. sudahlah.. anw, selamat bertambah tua bang jeloo~~

Advertisements

One thought on “[Zelo’s Party] A Day With Promise – Vignette”

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s