[Zelo’s Party] hello, detective – Vignette

hello-detective

hello, detective.

2016(c)VeronicaAumy

original story, made by veronica aumy

special fanfiction for Zelo’s birthday event

happy birthday! my prince!

[cast] zelo and other. [genre] mystery, and other. [rating] general. [length] vignette.

[note] prompt by Ryu97.

enjoy this freak fanfiction!

Aku membuat sebuah harapan di bawah langit merah.

Aku percaya, bahwa ini semua akan menjadi mimpi ketika aku membuka mataku.

.

.

.

.

.

[zelo’s point of view]

Jika ada orang yang mengatakan bahwa menjadi seorang detektif itu menyenangkan, langsung saja tampar pipinya. Dia sedang mengatakan hal yang tidak waras, bangunkanlah dia dari mimpinya, kumohon.

Mendengar hal konyol seperti itu di tengahnya musim panas yang tak karuan ini membuatku makin jengkel saja. Mereka tak tahu apa – apa tentang itu. Oke, ku akui memang cita – citaku adalah menjadi seorang detektif–dan itu sudah terwujud. Tapi menjadi detektif tak semenyenangkan menangkap seorang penjahat kelas kakap lalu dinobatkan sebagai pahlawan kota.

Yah, semuanya nampak baik – baik saja ketika pertama kali aku menjadi seorang detektif swasta. Kasus – kasus yang masuk membuatku sangat senang saat itu. Memecahkan sebuah kasus menjadi tujuan hidupku. Aku harus bersyukur karena alam memberiku kepandaian. Dan akhirnya? Dengan modal sebuah ruangan lima kali sepuluh meter dipinggir jalan yang aku sewa dengan harga murah (lantaran pemiliknya sangat membutuhkan uang) dan tentunya otak cerdasku ini, usahaku sukses berat.

Banyak sekali orang yang kutolong karena kepandaian ini. Mulai dari kasus yang kecil hingga kasus besar yang membuat heboh seluruh kota–salah satunya menjadi kasus yang membuat usahaku mulai dikenal masyarakat. Membuatku dikenal sebagai Detektif Zelo, si Pemecah Kasus nomor satu di kota.

Tapi lama kelamaan, aku mulai jenuh dengan semuanya. Walaupun ruangan yang awalnya aku sewa itu telah berpindah tangan menjadi milikku (ini membuktikan bahwa usahaku memang agak sukses), usahaku ini mulai tidak lancar–setidaknya itulah yang kupikirkan.

Kadang aku mendapat kasus – kasus yang aneh dan kurang kerjaan. Itu membuatku sangat jengkel. Jadi kuputuskan untuk merekrut anak buah. Mengadakan interview kerja yang amat sangat ketat guna menjaga kualitas usahaku. Karena itu, aku memilih Joy.

Joy adalah perempuan yang cerdas. Entah kebetulan atau mungkin memang kita ditakdirkan untuk menjadi partner kerja, usia kami sama. Hanya terpaut beberapa bulan. Hasil kerjanya juga bagus. Aku sangat puas telah memilih Joy. Akan sangat disayangkan jika perempuan itu bekerja di tempat lain. Syukurlah alam memberikan berkah ini kepadaku.

Jadi, tugas Joy adalah menyaring kasus – kasus yang masuk. Aku harus melakukan ini agar tidak membuang – buang waktuku hanya untuk membereskan kasus – kasus kecil yang tak penting, seperti kasus lupa menaruh barang (hello! Aku bukan detektif yang mau menghabiskan waktu demi hal seperti itu!).

Tapi sepertinya perempuan itu tak memiliki pemikiran yang sama denganku. Aku pernah memergokinya mengirim surat kepada salah seorang pelanggan, memberi saran – saran kepadanya. Aku tak begitu peduli jika hal itu tidak mengganggu pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya.

“Ada kasus yang lumayan layak?” Tanyaku pada suatu hari di musim panas yang benar – benar panas.

Joy meraih tumpukan berkas yang ada di mejanya. Aku mengamati punggung perempuan itu sembari menyandarkan bahu di depan pintu ruanganku (aku sudah memodifikasi kiosku dan membuat sebuah ruangan pribadi untuk diriku sendiri di belakang, sedangkan Joy mendapatkan meja di depan ruanganku menghadap pintu kios). Aku tersenyum, seperti dugaanku, Joy memakai pakaian yang cantik hari ini–setidaknya cukuplah untuk memperlihatkan wajah manisnya.

Perempuan itu membolak – balikkan file – file yang ada, mencari sesuatu yang telah aku minta. Butuh waktu beberapa detik bagi perempuan itu untuk mendapatkan file kasus yang aku inginkan.

Joy membalikkan badan dan menyodorkan berkas file itu. “Ini, kasus perampokan rumah berantai. Kasus ini dilaporkan oleh seorang detektif negara. Dia meminta kasus ini dirahasiakan, kupikir dia tidak ingin terlihat bodoh di depan atasannya. Atasannya juga lebih bodoh karena menunjuk orang seperti dia menjadi detektif.” Komentar – komentar Joy seringkali membuatku tersenyum. Itu cukup menghiburku di tengah konflik – konflik rumit dari beberapa kasus yang kutangani. Yah, aku mampu menyelidiki beberapa kasus dalam waktu yang sama. Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin menyianyiakan waktu.

“Oke. Aku akan membacanya.” Balasku. “Tunggu, apa ini?” Tanyaku heran ketika ada sebuah amplop berwarna hitam tanpa perangko dan alamat si pengirim terselip di dalam berkas kasus ini.

“Oh, itu adalah surat yang aku temukan di depan pintu pagi ini. Mungkin kau akan tertarik membacanya.”

“Begitu? Baiklah.”

Joy langsung membalikkan badannya kembali. Aku benar – benar ingin menggodanya kali ini, jadi kuputuskan untuk mengatakan hal menggelikan yang sudah tersimpan dalam benakku.

“Joy, semangat! Berusahalah! Aku yakin kali ini dia adalah orang yang tepat!” Seruku di belakang.

Perempuan itu menghentikan aktivitasnya. Dia pasti sudah menyadari maksudku. Aku tertawa geli dalam hati ketika perempuan itu menoleh ke arahku. “Bisakah kau pura – pura tak tahu? Ini memalukan. Aku benar – benar tidak ingin menghadiri kencan buta seperti ini setiap bulannya. Dan kau menyadari itu! Ugh, tamat!” Erangannya kesal campur malu yang sukses membuat tawaku meledak.

Walaupun dia bekerja denganku, kusadari kami cepat menjadi teman kerja. Pribadinya yang lucu dan terbuka membuatku mudah untuk menyesuaikan diri dengannya. Karena itulah, aku menganggap bahwa alam benar – benar memberikan berkah yang melimpah untukku.

Aku mulai meninggalkan ruangan itu dengan Joy yang sendirian disana. Memasuki ruanganku dan duduk di kursiku. Meskipun ruanganku tak begitu luas, setidaknya cukup untuk memberiku privasi. Aku mulai membuka surat kaleng yang tadi Joy berikan tanpa sabar. Isinya hanya sebuah surat.

Begini isinya :

Halo, detektif.

Kamu akan merasakan musim hujan dan  juga musim panas sekaligus jika menemukanku.  Kamu tertarik untuk mengetahuinya?

Tidak tertarik? Buktikan jika kamu benar – benar cerdas! Temukan aku, maka aku akan mengakui kepandaianmu.

Aku berada di sebuah tempat tanpa ujung. Dikelilingi kesejukan dan sinar matahari. Ramai, tapi tenang. Biasanya mereka datang untuk mengharapkan sesuatu. Memberikan satu untuk mendapatkan yang lebih besar dari itu. Langit akan berwarna merah saat kamu menemukanku. Terlambat sedikit, kegelapan akan memakanmu.

Jangan lupa, aku memberikan catatan ini untukmu. Mungkin akan berguna sewaktu – waktu.

2-2, 2-1, 3-5, 1-5, 1-7

Satu minggu setelah kau membaca ini.

Dan kau tahu?

Takdir seharusnya membawamu kepadaku.

Hanya ada satu kata yang terlintas dalam benakku setelah membaca ini. Terlalu mudah. Yah, terlalu mudah untuk dipecahkan dan pastinya ada sebuah alasan untuk itu.

Si pengirim ini. Dia benar – benar ingin aku menemukannya. Hm… Kalau begini, aku benar – benar harus mencari tahu apa yang dia inginkan dan apa yang telah ia lakukan.

Jadi kuputuskan untuk melakukan segala persiapan demi bertemu dengan si pengirim misterius–yang tak begitu misterius–ini. Disamping itu, aku menyelesaikan tiga kasus yang kutangani (kasus hilangnya perhiasan turun temurun milik keluarga Johnson, kasus bunuh diri yang dilakukan Mr. Peterson, dan yang terakhir kasus pencurian rumah berantai). Semua kasus itu menguras tenagaku. Tapi itu tidak membuatku lengah sedikit saja.

Satu minggu telah berlalu.

Aku menatap arloji emas yang dihadiahkan pamanku (dia membeli arloji ini untukku karena menurutnya aku benar – benar keren telah mengungkap banyak kasus, tapi aku ragu, dia pasti mendapatkan arloji ini dengan gratis). Menunggu waktu di hari yang telah ditentukan.

Di depan kiosku, aku duduk santai di berandanya. Menatap jalanan yang penuh dengan kaki – kaki jenjang yang berjalan ke sana dan ke mari. Beberapa dari mereka memiliki wajah yang tak asing bagiku.

Hari ini aku menutup kiosku. Dan tentunya aku memiliki cukup banyak alasan untuk itu.

Aku mulai menatap langit. Tampaknya musim panas akan segera berakhir. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Lagi pula aku tak begitu menyukai musim panas. Kenapa? Karena panas.

Langit sudah memerah. Tanda bahwa hari telah sore. Dan langit merah itulah pintu masukku ke dalam sebuah kasus yang tersembunyi, atau lebih tepatnya kasus yang disembunyikan.

Aku mulai berjalan meninggalkan kios. Menuju ke sebuah tempat yang sudah membuatku penasaran setengah mati. Sambil membawa beberapa barang yang kurasa akan sangat amat diperlukan.

Tujuanku sangatlah sederhana. Taman Kota.

Letak taman kota tak begitu jauh dari kiosku. Hanya butuh waktu berjalan kaki sepuluh menit. Dan aku telah sampai di sana dengan susah payah karena jalan raya sangat padat, yah, banyak orang pulang ke rumah masing – masing.

Aku berjalan perlahan. Melewati banyak orang yang sedang menikmati pemandangan di taman ini. Tapi, perhatianku terfokus pada sebuah obyek yang tak asing bagiku, atau bagi siapapun yang pernah datang kemari.

Kolam air mancur berbentuk lingkaran itu nampak sangat jelas di pelupuk mataku. Begitu juga dengan seorang wanita berbaju serba hitam yang berdiri di sebelahnya. Wanita itu tersenyum. Senyumnya mengingatkanku akan kejadian menghebohkan yang pernah terjadi satu tahun yang lalu.

Aku menatap langit merah lagi untuk sejenak. Memejamkan mata dan menghirup udara segar yang ada di sini.

Aku membuat sebuah harapan di bawah langit merah.

Aku percaya, bahwa ini semua akan menjadi mimpi ketika aku membuka mataku.

Namun ketika aku membuka mata, alam tidak mengabulkannya, senyuman itu masih ada. Beserta orang yang menyuguhkannya. Lalu aku berusaha meyakinkan diri. Bahwa ini satu – satunya jalan untuk menuntaskan apa yang telah terjadi.

[zelo’s point of view end]

[author’s point of view]

Zelo berjalan mendekati wanita berbaju hitam itu perlahan. Tak banyak orang yang menyadari apa yang ia lakukan, karena memang hampir tak ada orang di sana selain dia dan wanita itu. Nama wanita berambut cokelat yang tergerai manis itu Victoria. Wanita itu sungguh cantik–setidaknya itulah pemikiran Zelo ketika pertama kali melihat sosok Victoria satu tahun yang lalu.

“Kau memecahkan teka – teki itu dengan mudah, ya kan? Seperti biasa.” Victoria menaikkan salah satu sudut bibirnya. Membuat senyuman yang tak Zelo sukai dari wanita itu. “Mau kopi?” Tangan wanita itu mengulurkan segelas kopi instant yang bisa didapatkan dipinggir jalan. Zelo heran, kenapa dia bisa tidak melihat kopi itu?

Tanpa ragu, Zelo meraih kopi itu. Lalu mundur dua meter dari hadapan Victoria. Dia meminum kopi instant pemberian Victoria dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celana. Rasanya tak begitu buruk, pikir Zelo. “Teka – teki itu terlalu mudah. Bahkan anak kecil juga bisa menebaknya. Tapi aku berani bertaruh. Kau bahkan tidak bisa membuat teka – teki semudah itu.”

Victoria tak terkejut. Sedikit pun. “Aku kagum padamu. Butuh berapa lama kau menyadari adanya keterlibatan Joy dalam hal ini?”

“Tak begitu lama.”

“Gadis yang malang. Kuharap kau masih mempercayainya sebagai pelayan setiamu.”

“Oh, tentu saja. Aku memiliki teori sendiri mengenai hal itu. Seperti biasa.”

“Jangan berbasa – basi, detektif. Kau pasti tahu tujuanku.”

“Tujuan apa?” Tanya Zelo berpura – pura bodoh. Lelaki itu lalu duduk santai di pinggir kolam, masih dengan tangan kiri yang membawa kopi dan tangan kanan di dalam saku celana. Sembari melihat suasana sekitar, dia menambahkan. “Oh, ya. Kau ingin membunuhku, ya kan?”

Victoria tersenyum, seolah – olah tindakannya itu membenarkan perkataan Zelo.

Sebelum ini, Zelo dan Victoria memiliki hubungan yang berbahaya. Seperti antara ikan dan pemancing (tidak ada hal yang lebih spesifik untuk menggambarkannya). Victoria adalah seorang tersangka–otak dibalik kasus besar yang pernah ia tangani. Namun wanita itu terlalu cerdas. Dia bisa mengelabui polisi – polisi lokal. Tapi dia tidak bisa mengelabui Zelo.

Hanya Zelo yang tahu kejahatannya. Dan baginya, Zelo sebuah ancaman. Ancaman yang harus disingkirkan.

“Dimana anak buahmu? Biasanya kau tak mau repot – repot mengotori tanganmu sendiri.”

“Oh, tidak perlu. Sejak kasus pembunuhan Mr. Newton, aku tak pernah mempercayai siapa pun lagi. Tapi, lain waktu, di saat aku akan melakukan kejahatan yang besar lagi, aku akan melakukannya.”

Wajah Zelo tampak lebih pucat dari sebelumnya. Tapi lelaki itu masih saja menyembunyikannya. “Wah, secara tidak sengaja kau mengakui keterlibatanmu dalam kasus lama itu.” Ujar Zelo terdengar senang.

Victoria mengerutkan keningnya. Lalu menatap tangan kanan Zelo yang sedari tadi berada dalam saku celananya. Dalam hitungan detik, wajah Victoria yang tadinya tenang dan agak puas berubah panik.

Wanita itu langsung saja menyambar tangan kanan Zelo yang sekarang ini terlihat memegang sebuah ponsel. Zelo tersenyum menyeringai, tapi wajahnya sudah terlalu pucat dan tubuhnya mulai tak bertenaga. “Kau terkejut?” Tanyanya riang namun lemah.

“Tak semudah itu, detektif. Kau bodoh telah meminum kopi yang kucampur dengan racun! Terlebih, ini sangat sia – sia. Ponselmu bisa aku musnahkan dengan mudah.”

Zelo berusaha mengumpulkan tenaga. Tubuh detektif muda itu benar – benar sangat lemah saat ini. Tapi itu tidak lantas menghapus sifatnya yang suka pamer. “Yah, tapi aku yakin ini bukanlah bagian dari apa yang kau bayangkan di dalam rencanamu. Rekaman ini bisa menolongku. Setidaknya aku bisa mati dengan tenang.”

“Apa yang sudah kau lakukan?!”

“Mengirim salinannya kepada orang lain.”

“Sialan!”

“Zelo!” Teriakkan seorang perempuan yang berada tak jauh dari mereka membuat kedua orang itu menoleh.

Terlihatlah Joy berdiri jauh dari mereka dengan muka khawatir. Hari sudah malam, tapi lampu di taman masih bisa memperlihatkan raut wajahnya menunjukkan rasa penyesalan.

“Sialan! Siapa saja yang kau panggil?!”

“Hanya gadis itu.” Jawab Zelo lemah. Racun sudah mulai menyebar dalam tubuhnya.

“Dasar bodoh! Aku tak percaya kau mengirim salinan rekaman ini. Lagi pula kau akan segera mati. Kau tidak bisa menyeretku. Jangan sesali tindakanmu ini di neraka!” Wanita itu cepat – cepat berusaha pergi sebelum Joy sampai menghampiri mereka. Tapi Zelo dengan cekatan menarik baju Victoria. “Apa – apaan ini! Bedebah! Lepaskan aku!”

Tapi terlambat, Joy sudah sampai. Perempuan itu ikut – ikutan menahan tangan Victoria. “Dasar wanita sialan! Kau menipuku untuk membantumu! Jika ada hal buruk yang terjadi pada Zelo, aku akan membunuhmu dengan tangan, kaki dan seluruh tubuhku!” Jerit Joy sembari menarik rambut cokelat Victoria dengan ganas.

Jika saja Zelo sedang dalam kondisi normal, Victoria takkan lepas begitu saja. Sedetik setelah Zelo roboh, Victoria menggunakan kesempatan itu untuk menyikut mata Joy.

Wanita itu berhasil kabur.

Lagi.

Joy menatap wajah Zelo dengan penuh penyesalan. Gadis itu duduk di samping Zelo yang sedang lahap memakan makanan rumah sakit. Baru saja Joy tinggal mengantri di toilet, lelaki itu sudah siuman. Bahkan langsung memakan jatah makanannya–yang tadi sempat akan dimakan Joy karena takut mubadzir.

“Berhentilah menatapku seperti itu.”

“Kau pasti kecewa padaku.”

“Ya, aku akan sangat kecewa padamu kalau saja itu bukan Victoria.”

“Apa sih hubunganmu dengan wanita itu? Kenapa tidak menghubungi polisi saja?”  Rupanya, selama berhadapan dengan Victoria, Zelo sempat menggunakan ponselnya di saku celana untuk mengirim pesan pada Joy. Bahkan Zelo dapat merekam percakapannya dengan Victoria dan mengirim salinan rekaman itu ke Joy.

“Bodoh! Kau akan ikut tertangkap kalau begitu! Kau ini sudah menjadi kaki tangan Victoria.”

Joy diam. Zelo ada benarnya. Dia jadi sangat kesal pada Zelo karena telah menyebutnya kaki tangan seorang wanita jahanam seperti Victoria. “Aku kan tertipu. Aku juga korban.”

“Seperti kau tak tahu kepolisian saja.”

Joy hanya bisa diam. Jauh dalam lubuk hatinya, dia benar – benar menyesali kelengahan yang ia lakukan.

“Aku punya teori sendiri dalam kasus tertipunya dirimu. Tapi, aku ingin mendengar yang asli. Kenapa kau bisa tertipu seperti itu? Bagaimana kau bisa lengah?”

Perempuan itu menunduk. Malu. “Victoria bilang dia sangat mencintaimu. Dia ingin menyatakan cinta padamu. Jadi kubuatkan sebuah teka – teki. Lalu dikirimkannya surat dengan teka – teki itu padamu. Aku sungguh bodoh. Jika saja kau tidak menyadari hal itu dan tidak meminum obat penawar racun sebelum bertemu dengannya, kau pasti sudah mati.”

Zelo menarik sebelah alisnya. Teorinya sangat berbeda. Dia juga tidak menyangka Victoria membuat alasan sekonyol itu. Tapi lelaki itu lebih heran pada Joy yang bisa lengah dengan alasan sebodoh itu.

“Lalu, bagaimana bisa kau tahu bahwa surat itu dari Victoria?”

“Yah, aku tahu dari suratnya. Bahan amplop yang dia pakai tak pernah kutemukan di seluruh pelosok kota. Aku tahu karena aku sudah sering mengirim surat pada pamanku. Aku langsung menyadari bahwa bahan dari amplop itu sama seperti yang pernah digunakan Victoria saat kasus Mr. Newton. Kau pasti tidak tahu, karena saat itu belum ada kau yang membantuku.”

“Hebat. Kau hebat, detektif.”

Zelo hanya tersenyum. Seperti biasa.

“Tapi aku juga tahu. Kau tidak mau dan tidak berniat memenjarakan Victoria, iya kan?” Mendengar perkataan Joy, Zelo terdiam. “Katakan padaku, detektif.”

“Tak ada yang harus dikatakan.”

“Apa alasanmu melindungi Victoria?”

Hening.

“Kau mencintainya, detektif?”

[author’s point of view end]

.

.

fin?

 

Udah?

Gitu aja??

Wkwkw… maafkan saja kalo fanfictnya gantung.  (pengen bikin sekuel jadinya :v dan cerita sebelum Zelo ketemu Joy :v).

Jangan di judge ya kalo misalnya ceritanya jelek ☹ ini kali pertamanya aku bikin cerita detektif. Dan aku yakin aneh sekaleee…

Thanks banget buat kak Farah yang bikin prompt ini. Karena dia, aku jadi bisa membuat cerita detektif yang selalu aku dambakan (?) Maaf ya kak, kalo prompt kamu jadi aneh disini TT_TT

Thanks juga buat hanifa yang nge-undi prompt ini sehingga aku bisa mendapatkan promptnya kak Farah. Wkwk

Kritik dan saran bisa kalian berikan di kolom komentar.

Thanks for reading^^

Advertisements

5 thoughts on “[Zelo’s Party] hello, detective – Vignette”

  1. Ya Allahhhhhh …..
    Demi … behelnya Oh Se Hun, ini FF bagus banget :v ketjee ……
    aaa si Ozelnya mati hahaha :v *KetawaNista*
    suka banget ama FFnya meskipun agak gantung ya~ tapi aku ngerasa gak sia-sia mempercayai kamu buat bikin FF dari promt aku haha :v kerennn kerennnn :v bikin squel dong!!!!! pleaseu! XD

    Like

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s