[Let’s Create Our Kingdom] The Blue Rainbow – Vignette

the-blue-rainbow-poster

Title     : The Blue Rainbow

Author : Cloudisah // Genre   : Life // Length : Vignette // Rating     : Teen

Cast : B.A.P’s Jong Up and OC’s Ji Rin

Disclaimer : This storyline is mine

.

Summary:

“Sepi adalah dunia Jong Up…”

.

.

Pada rintik pertama, pada bisik angin yang menyapa rungu, dan pada aroma tanah basah yang kini merangsek dalam indra penciuman, tersimpan memori yang tidaklah indah untuk dikenang. Jemari Jong Up terangkat dengan telapak tangan menadah hujan. Seolah mencoba menggenggam tiap tetes air langit yang berjatuhan dari atap kanopi.

Kelopak terpejam, membiarkan udara dingin membelai lapisan epidermisnya. Bermenit-menit dalam posisi itu hingga ia berhenti kala rintik berubah menjadi guyur deras membuat telapak tangannya mati rasa sebab dingin yang berlipat-lipat.

Perlahan netranya terbuka. Aroma tanah yang telah sepenuhnya basah kian tajam. Dan harus diakui jika ia senantiasa terbuai dengan aroma itu yang anehnya justru malah acapkali menimbulkan rasa nyeri lantaran kenangan yang tak lagi ingin ia ingat kembali terpampang. Bisa dikatakan aroma tanah basah itu menenangkan dan menyakitkan diwaktu yang bersamaan.

“Ayo masuk ke dalam, Nak Jong Up. Udaranya semakin dingin. Nanti kau bisa masuk angin.”

Kepalanya meneleng, dan mendapati Im Ahjumma berdiri di samping kursi rodanya seraya menyampirkan sweater dipundaknya. Jong Up menjungkitkan sudut bibir, hanya sebagai sikap sopan pada yang lebih tua. Sesekon berikutnya kepalanya kembali teralih pada barisan air langit yang kini makin rapat di hadapannya.

Ahjumma, aku masih ingin di sini…”

Namun Im Ahjumma tidak mengabulkan permintaan Jong Up. Wanita yang kini memasuki usia kepala lima itu telah mendorong kursi roda Jong Up hingga keduanya perlahan memasuki rumah.

Menghembuskan nafas terlampau nyaring sebagai wujud kesalnya, Jong Up lantas menyandarkan punggungnya. Meskipun begitu Im Ahjumma tidaklah mengubah tungkainya untuk kembali alih-alih terus mendorong kursi roda Jong Up agar segera tiba di destinasi; kamar Jong Up.

Ahjumma, kubilang aku masih ingin melihat hujan!”

OoooO

Sepi adalah dunia Jong Up. Dunia yang tak mungkin orang lain sanggup bertahan di dalamnya. Sepi yang telah mendarah daging dalam jiwa Jong Up. Sepi yang tak kunjung beranjak sekalipun Jong Up berontak agar bisa keluar darinya.

Ahjumma pulang dulu, Nak. Nanti malam Ahjumma datang lagi.” Im Ahjumma usai mencuci pakaian beserta sederet pekerjaan rumah lain kini tampak usai berkutat dengan makan siang untuk Jong Up di atas meja makan. Bersiap beranjak sebelum keningnya dibuat berkerut kala menyadari Jong Up yang tengah menatapnya dengan raut memelas.

“Ahjumma, apa aku boleh ikut ke rumahmu?”

Menggaruk pelipis, Im Ahjumma semakin berkerut keningnya. “Nak Jong Up tidak suka makanannya?”

Jong Up menggeleng pelan. “Aku mau ikut denganmu, Ahjumma. Aku bosan sendirian.”

“Oh, Nak Jong Up sedang tidak nafsu makan? Ya sudah Ahjumma tutup dulu makanannya. Nanti kalau lapar bisa kau buka tudungnya, ya,” Im Ahjumma berjalan mengambil tudung makanan lantas menutup makan siang untuk Jong Up.

Raut Jong Up berubah merengut. Tanpa mengindahkan Im Ahjumma yang kini kebingungan melihatnya, diputarnya kedua roda di sisinya menuju balkon samping rumah. Tempat dimana ia biasa menghabiskan harinya hingga jingga terhampar di langit.

Jong Up sempat mendengar bunyi pintu luar ditutup. Dan itu sudah barang tentu Im Ahjumma yang telah beranjak meninggalkan rumahnya. Memaksa Jong Up untuk kembali membiarkan sepi dengan leluasa menemani.

Usai menghembuskan karbon dioksida, kembali diputarnya dua roda di sisinya untuk mencapai rerumputan di luar balkon. Tak ada yang spesial sebenarnya dengan tempat itu selain kedua netranya dapat dengan leluasa mengamati kegiatan orang-orang—ralat, tetangganya. Yeah, tetangga.

Selama sembilan tahun ini, sejak ibunya memutuskan menikah lagi dan tak ingin merawat Jong Up yang ia anggap sebagai anak sial—oh sumpah Jong Up tak ingin mengingat itu—rumah di sebelah pun tak ada yang menghuni. Namun dua minggu yang lalu seorang petani sayur mendiami rumah itu bersama anak perempuannya. Omong-omong, anak perempuan tetangga itulah yang belakangan menarik perhatian Jong Up.

Siang itu anak perempuan tetangga yang usianya Jong Up perkiraan kurang lebih sama dengannya, tengah memotong kayu bakar dengan kapak di samping rumahnya. Sepertinya ia tak menyadari eksistensi Jong Up yang memperhatikannya dari balik pagar kayu yang menjadi pembatas pekarangan rumah mereka. Pagar itu hanya setinggi satu meter, dan seharusnya gadis itu sadar jika—

“Hey, kau tetangga sebelah ya? Maaf aku dan ayah belum sempat berkunjung.”

—eh? Gadis itu berbicara padanya?

Gelagapan, Jong Up justru membalik kursi rodanya dan dengan tergesak memutarnya kembali ke dalam rumah alih-alih membalas lambaian tangan gadis tetangga itu. Jantung Jong Up dibuat mencelos karenanya.

Oh, tidak. Jong Up belum siap untuk ini. Jong Up belum siap untuk berinteraksi dengan orang lain. Diusianya yang tujuh belas tahun ini Jong Up tak pernah “berkomunikasi” dengan orang lain selain Im Ahjumma yang memang telah dibayar ibu Jong Up untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tssk, seharusnya ibu Jong Up yang melakukan itu semua. Tapi masih untung ibunya mau membayar Im Ahjumma untuk mengurusinya. Jika tidak, mungkin Jong Up tak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya.

Ah sudahlah. Mengingat ibunya membuat mood Jong Up malah jelek.

Jong Up mencoba mengintip gadis tetangga itu dari jendela. Ia masih berkutat dengan kayu bakar dan kapak di tangannya. Dalam benak Jong Up mulai terbayang, bagaimana jika seandainya gadis itu mau berteman dengannya? Apakah rasa sepi yang selama ini menjeratnya bisa terlepas dan Jong Up bisa memiliki dunia baru yang lebih indah, mungkin?

OoooO

Jong Up tak pernah lagi melihat pelangi yang memiliki tujuh warna; merah, jingga, kuning, hijau, nila, biru, ungu. Bagi Jong Up pelangi itu hanya memiliki satu warna, biru.

Tiap kali usai hujan, kenangan buruk saat ibunya meninggalkannya selalu mengusik. Ibunya yang memutuskan pergi tepat ketika barisan air langit menyerbu permukaan. Maka kala hujan usai dan bias warna-warni melingkar di angkasa, yang ia lihat hanya warna biru. Layaknya definisi biru itu sendiri, kesedihan. Dan Jong Up tak pernah tahu kapankah pelangi biru itu menghilang dari hidupnya.

Sejak kejadian dua hari yang lalu, Jong Up tak berani lagi ke balkon samping rumah. Disebab ia malu jika kembali bertemu gadis tetangga. Jong Up malu dengan kondisinya. Ia malu jika gadis itu mencemooh dan menertawakannya.

Tapi sore itu, gadis yang dua hari ini Jong Up hindari malah berdiri di ambang pintu rumahnya seraya menenteng sepiring pancake dengan sirup maple—Jong Up bisa mencium aroma sirup maple yang menguar—membuat kedua netra Jong Up nyalang dibuatnya. Sial. Im Ahjumma belum kembali untuk menyiapkan makan malam. Lantas, bagaimana Jong Up menyambut gadis tetangga ini?

“Hai,” sapa si tetangga ramah.

Dengan ragu Jong Up mengangguk. “Hai juga.”

Jong Up bisa melihat sebelah alis gadis itu berjungkat. Setelahnya gadis itu tertawa kecil. Tawa dipaksakan sebenarnya.

“Boleh aku masuk?”

Tak tahu berekasi seperti apa, maka Jong Up memutar kursi rodanya memasuki ruang tamu. Isyarat agar gadis itu mengikutinya ke dalam.

Setelah gadis itu duduk dan menyerahkan piring yang ia bawa, gadis itu tampak menatap sekeliling ruang tamu yang ukurannya tidaklah luas. Lantas hening. Memang selalu hening sih di rumah Jong Up.

“Oh iya, namaku Ji Rin. Namamu siapa?”

Jong Up menggaruk tengguknya sebentar. “Aku Jong Up.”

Gadis itu mengerjap. Menatap Jong Up selama beberapa sekon. “Maaf, apa kau… tunawicara?”

Ditanya secara langsung seperti itu membuat Jong Up menggigit bibirnya. Lantas mengangguk kaku. Pertanyaan seperti inilah yang ditakutkan Jong Up. Karenanya ia jadi phobia sosial.

Menatap Jong Up dari kepala hingga kaki, lantas kembali lagi menatap wajah Jong Up, gadis itu menghela nafas dalam. Tampak ia menautkan jemarinya seraya menunduk setelah itu. “Maaf kalau aku lancang.”

“Yah, tidak masalah.”

Kembali hening. Yang kini mendominasi adalah helaan nafas dari keduanya. Alat pemompa darah Jong Up-pun telah berpacu tak terkendali.

“Ah, aku pulang dulu. Nanti kalau ayah pulang aku ajak ayah mampir lagi ke sini. Dah…” si gadis tetangga yang mengaku bernama Ji Rin itu melangkah dengan tergesak meninggalkan Jong Up.

Jong Up terpaku dibuatnya. Tidak, ini bukan perasaan cinta pada pandangan pertama seperti kisah roman picisan. Melainkan perasaan menyesal dan ketakutan. Dan Jong Up tahu, ini bukanlah awal yang baik.

OoooO

Benarlah perkiraan Jong Up. Gadis tetangga itu tak lagi menampakkan dirinya di samping rumah seperti dua minggu yang lalu untuk memotong kayu bakar. Bisa saja ia melakukannya di sisi rumah yang lain. Di belakang rumah, mungkin.

Dan rasa hampa itu kian mengusik Jong Up berkali lipat dari sebelumnya. Gadis itu sudah jelas tak mau terlibat dengan kehidupan Jong Up. Itulah yang menjadi ketakutan terbesarJong Up selama ini. Dijauhi orang.

Gadis itu bukanlah si Beauty yang rela menikah dengan si Beast yang buruk rupa. Ini realita. Bukan dongeng yang sering Jong Up baca saat masih kecil. Beginilah kehidupan nyata sejatinya. Hal-hal yang berakhir indah seperti di dunia dongeng itu tak pernah berlaku, khususnya bagi hidup Jong Up.

Sudah seminggu tak lagi Jong Up dapati eksistensi gadis itu. Si Tetangga sepertinya lebih menyukai menutup rapat jendela rumahnya ketimbang membukanya namun yang didapati adalah sosok pemuda lumpuh yang sialnya juga bisu.

Kenapa dunia Jong Up tak seperti orang lain? Ia hidup di dunia yang sama dengan mereka, tapi kenapa dunianya hanya dipenuhi kesepian yang menjadi-jadi di tiap perputaran waktu? Bisakah ia menciptakan dunia baru yang mampu memblokir sesuatu bernama ‘sepi’?

Pada malam itu bulan tampak berdenyar lemah. Jong Up menatap bentangan langit hitam dari teras depan rumah. Udara dingin menggigit permukaan kulitnya yang terbuka, namun ia abaikan hal itu.

Dalam diamnya, Jong Up tak menyadari jika seseorang telah berdiri bersisian dengan kursi rodanya, dan turut mengobservasi bentangan hitam tak berujung di atas sana. Orang itu sudah pasti bukan Im Ahjumma karena dari tubuhnya menguar aroma kayu manis, yang seketika membuat Jong Up menelengkan kepala untuk menatap sosok tersebut.

“Kau?” Kening Jong Up berkerut dalam dengan raut tak yakin saat pupil matanya menangkap sosok gadis-tetangga-sebelah yang balas menatapnya dengan kedua sudut bibir melengkung.

Gadis itu—Ji Rin—melambai ragu masih dengan mempertahankan lengkungan di bibirnya. “Hai, Tetangga,” sapanya kaku. “Maaf mengejutkanmu. Eum, maaf jika beberapa hari ini aku terkesan menghindarimu,” tatapannya beralih pada kedua ujung alas kakinya. Tampak tak sanggup menatap Jong Up.

Jong Up menelan saliva gugup. Ada apa ini? Kenapa gadis tetangga ini malah tiba-tiba datang menemuinya malam hari seperti ini? Lalu… Hey, Jong Up tidak salah dengar kan? Ia meminta maaf. Ia meminta maaf pada Jong Up!

Untuk beberapa puluh sekon, hening melingkupi. Jong Up menunggu gadis itu kembali bersuara.

“Eum, begini. Kurasa keputusan untuk menjauhimu adalah salah. Yah itu tidak berarti aku benar-benar ingin menjauhimu, kau tahu. Hanya saja, kupikir akan lebih baik jika kita berteman dan… Dan sebagai tetangga yang baik tak ada salahnya kan jika aku sering-sering berkunjung menemanimu. Ja-jadi, kurasa kau tidak akan terlihat kesepian lagi seperti ini, hehe,” Ji Rin sadar ia sekarang sudah terlihat seperti orang bodoh. “Maafkan sikapku beberapa hari ini yang membuatmu tak nyaman. Ak, aku… Aku sering memperhatikanmu dari jendela. Kau tampak kesepian. Eum, jadi maukah kau berteman denganku?”

Jong Up ingin tertawa melihat ekspresi gadis itu. Baiklah. Jong Up rasa ia tak perlu berpikir dua kali untuk menjawab pertanyaan tetangganya ini. Lagipula Jong Up memang membutuhkan seorang teman untuk menciptakan dunia barunya. Dunia yang menggilas sepenuhnya rasa sepi.

Maka tanpa ragu, Jong Up mengangguk. Melihat hal itu, Ji Rin tersenyum lebih lebar. Jong Up turut tersenyum sembari bersitatap dengan Ji Rin.

“Eum, kurasa hanya itu yang ingin kukatakan padamu malam ini. Besok pagi aku akan kembali dan membawakan sarapan untukmu. Sebagai awal pertemanan kita, mari kita sarapan bersama,” celoteh Ji Rin tanpa tahu jika sikapnya kini membuat alat pemompa darah Jong Up bertalu kian cepat. “Aku pulang, Tetangga. Dah, sampai besok.” Ji Rin melambai riang lantas membawa tungkainya meninggalkan halaman rumah Jong Up.

Di malam hari dengan denyar lemah bulan, Jong Up seolah melihat pelangi membentang di langit malam. Namun tak lagi sepenuhnya biru seperti sebelum-sebelumnya. Melainkan warna-warni yang sering ia lihat di buku-buku bergambar.

“Yah, kuharap Tuhan mau memberikanku sebuah dunia baru yang jauh dari warna biru dan sepi,” Jong Up memutar kedua rodanya dengan riang memasuki rumahnya.

Ini bukanlah cerita hidup Jong Up yang berakhir bahagia. Melainkan sebuah kisah awal di mana dunia baru Jong Up akan dimulai.

.

Fin

Advertisements

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s