[Let’s Create Our Kingdom] Be A Hero – Oneshoot

be-a-hero2-misshin017-bycastorpollux

Be A Hero.

misshin017 present

CASTORPOLLUX@Poster Zone

Jung Daehyun / Thriller, riddle / Oneshoot / PG-13 / Daehyun /

Ini adalah bentuk prioritasnya terhadap kerajaan.

 

***

 

Daehyun menarik selimutnya hingga ke dada, dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan tidak karuan. Ini bukan karena teman sekelasnya—Meiying, menolaknya tadi pagi. Ini juga bukan karena ia, dan salah satu sepupunya tidak bertegur sapa setelah masalah perebutan angka gol dalam permainan bola. Namun, ini tentang beban yang akhir-akhir ini menganggu Daehyun.

 

Dia mendapatkan misi dari Panglima Besar untuk membunuh Naga Merah di pegunungan terpecil dengan tangannya sendiri. Dan, Daehyun merasa itu hal yang paling tidak mungkin terjadi di dunia. Dia hanya satu di antara prajurit biasa, lantas kenapa Panglima Besar meminta dia melakukan tugas seberat itu?

 

Daehyun bukannya ingin bersikap pesimis, tapi nyatanya masih banyak prajurit lain yang lebih hebat darinya. Dia bukanlah apa-apa. Terlebih lagi, dia takut tak mampu menyelesaikan misi itu. Dia takut membuat Panglima kecewa. Dan, dia takut membuat dirinya sendiri malu.

 

‘Prajurit adalah tangan Kaisar.’

 

Semboyan itu bergema di kamarnya yang gulita. Menemani malam Daehyun yang sesepi ilalang. Perlahan-lahan pemuda itu menutup matanya, membiarkan kegelapan abadi menyelimutinya.

 

***

 

Tokk!! Tokk!! Tokk!!

 

Mata Daehyun membelalak seketika. Tubuhnya bercucuran keringat yang panas. Dia bahkan tak sempat memikirkan apapun selain langit-langit kamar yang nampak lebih jelas di matanya.

 

Hari sudah siang.

 

Dan, ketakutan itu bergumpul di bahunya. Saling berbisik memintanya agar menolak, agar menunjukkan sisi kelemahannya. Tapi, hati Daehyun tergerak. Dia duduk di pinggiran ranjang, mengacak rambutnya lantas menoleh ke arah pintu yang diketuk secara paksa.

 

Daehyun tahu siapa pengetuknya, dan dia juga paham arti ketukan itu. Seseorang di depan itu, seseorang dengan baju baja yang gagah, seseorang dengan pedang ukiran, dan seseorang yang paling Daehyun hormati.

 

Panglima Besar.

 

Dengan tergesa-gesa, Daehyun mengambil baju khas prajurit, memakainya secepat mungkin, dan berlari ke arah pintu kamar. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, berdoa semoga langkah yang ia ambil tak salah. Ditariknya gagang pintu, dan menemukan badan tegap di sana. Seorang pria paruh baya dengan topeng emas yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.

 

Daehyun memberikan salam hormat. Darahnya berdesir, meneriakan penolakan. Segelintir bayangan kematian berdiri di depannya. Seolah-olah menjelaskan seperti inilah ajal kematiannya. Namun, Daehyun mencoba mengusir hantu-hantu pemakan rasa takut itu. Dengan berani, dia membalas tatapan Panglima Besar, penuh tantangan serta bergelora.

 

Mata setajam elang itu menunjukkan betapa berwibawanya dia. Dan, Daehyun merasa tidak akan salah, jika mempertaruhkan nyawanya untuk seseorang yang telah mendidiknya dari kecil ini.

 

“Kau siap?”

 

Pertanyaan itu kembali membuat nyali Daehyun menjadi ciut. Tapi, dia menarik nafas dengan dalam, dan menjawabnya dengan tegas.

 

“Siap, Panglima!”

 

***

 

Kaki Daehyun terasa terbakar oleh obor milik pengawas kerajaan. Dia diturunkan di sebuah tempat yang diketahui sebagai teman paling dijauhi oleh siapapun.

 

Pegunungan Craxent.

 

Pegunungan terpencil, yang jauh dari sisi kehidupan. Bahkan Daehyun bertaruh, di atas sungai yang sedang ia lewati ini, takkan ditemukan satu ekorpun makhluk hidup meski mikroba ataupun alga. Seluruhnya hilang, mati, dan satu-satunya alasan semua itu adalah Naga Merah.

 

Konon, ada sebuah desa yang hidup makmur. Para warga saling menyayangi satu sama lain, mereka bergotong-royong dan tidak pernah mengalami konflik sedikitpun. Tumbuhan hidup dengan subur, bunga-bunga bermekaran beragam warna, hewan-hewan berkembang dan pertanian begitu maju.

 

Mereka menyebut desa itu sebagai bekas telapak kaki dewa. Kekayaan dan kebahagian ada di sana. Seluruh manusia berbondong-bondong menuju ke desa itu, berharap dapat memiliki kehidupan yang lebih layak dari yang sebelumnya. Mereka memohon ampunan maaf kepada dewa atas segala dosa yang telah mereka perbuat. Mereka berdoa setiap hari, meminta harta dan cinta yang kekal kepada dewa.

 

Hingga suatu hari, ketamakan membakar jiwa para warga.

 

Dewa melimpahkan apapun kepada desa itu. Kekayaan. Kesuburan. Kemakmuran. Kebahagiaan. Semuanya diberikan kekal, dan para warga menjadi sombong. Menjadi merasa pemalas. Mereka tidak lagi bekerja, mereka memperkaya diri sendiri. Mereka hanya berdoa, dan mereka yakin tanpa bekerja, dewa pasti akan memberkati mereka.

 

Desa semakin ramai oleh penduduk. Dan, lahan-lahan mulai dibakar untuk membangun rumah mewah mereka. Lama-kelamaan, dewa menjadi marah dan tidak lagi mengabulkan doa-doa mereka. Para warga menjadi takut, menjadi sensitif dan emosional. Mereka saling merampok, tidak lagi menyayangi satu sama lain, mereka hidup berkelompok dan memeras warga-warga yang lemah.

 

Kemurkaan dewa semakin besar. Dewa memberikan mereka azab, azab yang begitu menyakitkan. Diturunkannya sebuah naga, naga berwarna putih suci nan bersih. Naga itu diturunkan untuk mencuci kembali kotornya desa tersebut. Setiap hari, naga itu memakan dosa-dosa para warga. Dosa-dosa yang begitu banyak lama-kelamaan membuat warna tubuh naga menjadi berubah. Dari yang putih bersih, menjadi merah membara.

 

Kemarahan berkumpul dalam tubuhnya. Hingga naga tersebut tidak mampu lagi mengontrol tiap dosa yang ia makan, justru sekarang dosa para wargalah yang memenjarakannya. Naga itu menjadi rakus, kejam, dan jahat. Dia sangat buas, dan dia bahkan tidak lagi memakan dosa warga-warga. Tetapi, juga jasad mereka.

 

Semua kehidupan yang ada di sana lenyap. Hanya tersisa pepohonan dan tumbuhan liar. Hingga kini, setiap ada kelahiran, kerajaan selalu membuang para narapidana ke pegunungan tersebut, agar sang Naga Merah tidak memakan para bayi.

 

Naga itu, menangis dalam kukungan dosa. Bayi-bayi yang baru lahir, bayi-bayi yang suci adalah satu-satunya yang bisa mengeluarkan dia dari penjara yang mengikat tubuhnya.

 

Naga itu, harus memakan para bayi.

 

Dan, Kaisar tidak ingin itu terjadi.

 

Daehyun meneguk lidahnya perlahan. Dia tahu dia sudah banyak memiliki dosa. Dia membunuh ratusan orang saat perang, dan saat ujian. Jika Naga Merah itu benar-benar nyata, dan dia kelaparan saat ini, maka Daehyun akan rela Naga tersebut memakannya, asal tidak membunuh nyawa-nyawa yang masih suci.

 

Ini adalah bentuk prioritasnya terhadap kerajaan.

 

Terhadap Kaisar.

 

Terhadap Panglima.

 

Dan, terhadap pilihan yang ia ambil, tuk menjadi seorang prajurit kerajaan.

 

Sekarang Daehyun sudah berdiri di depan sebuah batu besar. Batu yang dihinggapi lumut-lumut kering. Seolah lumut-lumut itu dihisap oleh lalapan api. Dan, kenyataannya begitu.

 

Di atas batu itu, ada tubuh besar yang panjang berwarna merah layaknya darah. Memancarkan panas yang tiada tara. Menatap Daehyun dengan penuh rasa minta tolong, perasaan tersakiti membuncak di dadanya. Sebuah perasaan yang juga dialami Daehyun saat ini. Seorang prajurit biasa yang dikirim untuk melakukan misi yang berbahaya. Dia tahu, sangat tahu, penjara negara tidak lagi memiliki narapidana, narapidana itu sudah habis dibuang ke sini untuk melindungi tiap bayi.

 

Dan, kini, orang-orang seperti dialah yang harus berkorban. Orang-orang penuh dosa seperti Daehyunlah yang harus memberikan nyawanya untuk nyawa-nyawa baru.

 

Daehyun mengeluarkan pedang, menatap bengis Naga itu. Dalam satu kedipan mata, Naga itu terbang mendekatinya siap memakan dan tepat saat itu juga Daehyun melompat, mengelak, menghindari Naga tersebut. Naga Merah itu menatapnya dengan merah, dan rasa takut kembali muncul.

 

Pertarungan terus berlanjut. Daehyun mencoba mengitari hutan, membuat sang Naga melilitkan dirinya kepada batang-batang pohon, tapi tetap saja, rencana Daehyun selalu gagal. Dia menggerakkan pedangnya, mencoba menghancurkan wajah Naga tersebut namun justru dia harus terjatuh di atas rumputan yang kering.

 

Naga itu mendekat dan mengibaskan ekornya, membuat tubuh ringkih Daehyun terlempar ke atas batu besar yang tadi ditempati oleh Naga tersebut. Dia bangun dengan tergesa-gesa dan melompat ke bawah, menuju batu yang lebih kecil.

 

Sang Naga tak bisa menemukannya, batu itu terletak di belakang batu besar dan ditutupi oleh batuan lain. Daehyun menggenggam pedangnya dengan tangan yang bergetar. Semua kenangan berputar di kepalanya. Dia melirik bayangan Naga yang mulai muncul samar-samar menuju tempat persembunyiannya.

 

Kenangan ketika dia masih kecil, beranjak remaja, dilatih menjadi prajurit, membunuh orang-orang. Daehyun begitu mengingatnya, mengingat setiap kejadian dengan baik. Agar dia selalu sadar, sudah begitu banyak hal yang ia lakukan, dan dia tak boleh berhenti di titik ini. Daehyun selalu ingin jadi Panglima, dari kecil hingga sekarang. Tapi, barangkali itu hanya akan menjadi sebuah kenangan.

 

Dia menoleh ke samping, dan menemukan wajah Naga itu ada di sana. Naga itu tidak dapat masuk, dan tidak dapat keluar. Kepalanya seolah tersangkut di sana, dia melolong seperti anjing. Pedang Daehyun jatuh begitu saja. Pemuda itu menatap mata sang Naga dan melihat rasa memohon yang kentara di sana.

 

Naga itu berbicara dengannya. Berbicara dengan bahasa yang tanpa kata-kata.

 

Naga itu selalu berharap dibunuh. Dia ingin meninggalkan dunia itu. Dia ingin lepas dari segala dosa para manusia yang terus menjadi santapannya. Dia berteriak dengan kemarahan, dan menangis dengan memakan nyawa-nyawa orang berdosa.

 

Daehyun mengambil pedangnya, mengarahkan kepada kepala Naga tersebut, dia menutup matanya dan mengayunkan pedang.

 

“Daehyun!”

 

Mata Daehyun mendadak terbuka. Dia menatap ke depan, tapi yang ia lihat bukan wajah sang Naga. Daehyun mengucek matanya, Naga itu berubah menjadi Meiying! Sungguh Luar Biasa!

 

“Meiying?”

 

“Iya, aku Meiying! Kau kira aku Naga Merah yang kau teriaki sejak tadi, itu?”

 

Daehyun menepuk wajahnya sendiri. Dia menatap sekelilingnya. Kamarnya yang ditempeli poster para tokoh pahlawan. Dia menatap tangannya, dan menemukan hanya boneka robot yang ada di sana. Dan, dia menatap ke depan, lantas wajah kesal Meiying yang berambut bob berada di sana.

 

Daehyun, mimpi lagi.

 

“Kau benar-benar Mei, kan?”

 

Gadis itu menghela nafas dan mengangguk.

 

“Inilah alasanku menolakmu, Dae.”

 

Dahi Daehyun berkerut.

 

“Kau ini bodoh dan banyak mengkhayal. Kau bahkan tidur membawa boneka robot, piyamamu basah, dan kau tak ingat ini hari Senin! Aku benci kau!”

 

Ugh, pemuda itu tertawa geli. Dia meletakkan bonekanya dan berangsur duduk di samping Meiying yang sudah siap dengan seragamnya. Gadis itu memakai ransel biru muda dengan motir bunga, serta botol minuman yang tergantung di lehernya.

 

Daehyun baru sadar. Dia masih 15 tahun, dan dia bukan seorang prajurit. Dia tidak perlu membunuh Naga Merah, dan tak perlu menuruti perintah Panglima.

 

“Kau mau mandi atau tidak?!”

 

“Jangan galak dong, Mei.”

 

Meiying berjalan menuju pintu kamar dan membantingnya, meninggalkan Daehyun sendirian di sana. Pemuda itu kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar. Dia menutup matanya sejenak, menenangkan diri sebelum bersiap-siap untuk mandi.

 

Namun, ketika membuka mata, yang dilihat Daehyun justru keramian. Masyarakat. Dan, seorang pria bertopeng di sampingnya.

 

Oh, astaga!

 

Dia ketiduran lagi!

 

***

END

Advertisements

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s