[Let’s Create Our Kingdom] Bunnyranger – 1700 kata

wqqd4489

Judul : bunnyranger

Author : baperanger aka oyen

Genre :`Fantasy

Length : Oneshot

Rating : PG – 17

Cast : Moon Jongup,  Kim So-Hyun, B.A.P another member.

Disclaimer : Fanfic ini asli milik dan buatan sayah. Ide cerita dan tokohnya juga milik

dan buatan sayah. Kalo Moon Jongupnya, boleh jadi milik saya juga ngga? Hehe.

Summary : Hati-hati. Para kelinci mau mengambil alih seluruh dunia !!

Moon Jongup PoV

 

  • 30 November 2016

 

“Aku yang akan menyamar untuk sementara.” Kataku sambil membenarkan kerah kemejaku.

“Bolehkan aku ikut hyung?”

“Andwae. Anak kecil jangan ikut campur.” Aku tersenyum sambil mengacak-acak rambut Junhong yang terlihat tidak suka dipanggil anak kecil.

“Kau benar akan pergi sendiri? Tidak butuh bantuan kami untuk menemanimu?”

“Hahaha tenang saja hyung, kau tahu kan aku lebih suka kerja sendiri. Lagian aku tidak mau merepotkan kalian. Kalian fokus saja dengan desain kota yang harus kita buat nanti. Doakan saja misiku lancar.” Kataku meyakinkan Daehyun hyung.

“Kami percayakan padamu Moon Jongup. Aku yakin segala hal yang akan kau lakukan tidak akan sia-sia. Kita pasti bisa menang nantinya. Aku tidak sabar menggenggam seluruh bagian dunia di telapak tanganku!”

 

Dasar Yongguk hyung. Dia selalu terdengar optimis. Aku hanya mengangguk mendengar kalimatnya, lalu segera beranjak pergi.

“Doakan aku kawan-kawan?”

 

 

Kim So Hyun PoV

 

  • 09 Desember 2016

 

Setelah gempar-gemparnya film milik Gongyoo ahjussi dengan para zombie diputar dilayar lebar. Banyak orang berbondong-bondong datang ke kampung halamanku ini. Lihat saja, Busan jadi penuh dengan bus-bus wisata yang siap menurunkan puluhan penumpang kapan saja. Pedagang kaki lima yang tiba-tiba menjamur memenuhi pinggiran jalan, membuat trotoar jadi terlihat sempit sehingga para pelancong berjalan hingga memenuhi separuh jalan. Sudah hampir setengah tahun ini Busan tak pernah sepi. Bahkan pada musim hujan seperti ini pun orang-orang tak henti-hentinya datang.

 

Aku ikut berjalan diantara barisan para pelancong itu. Memandang banyaknya orang yang berlalu-lalang dengan heran. Mereka bercengkrama satu sama lain sambil sesekali menoleh penasaran pada para pedagang di sepanjang jalan yang tak pernah bosan menawarkan dagangan

.

Sepanjang jalan tercium bau sate kelinci yang khas, yang belakangan ini sedang naik daun, menjadi cirri khas dan idola di kampungku. Tak jarang para pelancong yang berjalan didepanku menyempatkan diri mampir untuk menghilangkan rasa penasarannya. Dan aku yang sudah biasa lewat disini masih sering begidik ngeri. Bagaimana tidak? Entah se-enak apapun rasanya, siapa coba yang tega menjadikan hewan imut kesukaan semua orang itu jadi sate? Jahat sekali orang yang tega melakukannya.

 

Aku mempercepat langkah sambil sesekali membenarkan letak kacamata yang kebesaran. Menyalahkan diri sendiri karna bodoh tadi meninggalkan payung entah dimana, padahal hujan mulai bertambah deras. Jadi karna aku benci berbasah-basahan aku memutuskan untuk menepi. Masuk ke kios salah satu pedagang yang sedang tutup. Menyandarkan tas gitarku yang lama kelamaan terasa berat pada salah satu tiang penyangga. Hingga akhirnya aku-nya pun ikutan bersandar. Mataku mengarah pada rintik hujan yang turun tapi fikiranku seperti tak hafal arah. Sampai aku mendengar suara rebut dari belakangku.

 

Kios yang kubuat tempat berteduh ini besarnya tak jauh berbeda dengan kios lainnya. Disebelah belakang kios banyak tumpukan kotak balok dengan banyak lubang yang tersusun rapi. Aku yakin suara rebut tadi datang dari sini.

 

Aku mengetuk-ngetukkan jariku di salah satu kotak, lalu suara itu terdengar lagi. Aku mengintip dari salah satu lubang yang ada, tapi yang kulihat hanyalah gelap. Apakah aku harus membukanya? Bagaimana jika zombie dalam film Gongyoo ahjussi muncul dari dalam kotak kecil ini? Tapi bagaimana bila Gongyoo ahjussi yang muncul? Aku menimbang-nimbang. Mengumpulkan keberanian. Tanpa kusuruh, tanganku membukanya. Wajah takut-takutku berubah seketika saat aku melihat isinya. Kalian tahu apa? Seekor kelinci putih kecil memandangku dengan matanya yang membulat. Ia terlihat kaget. Hidungnya kembang-kempis sambil sesekali memperlihatkan gigi kelincinya yang lucu. Aku perlahan mengeluarkannya dari kotak. Baru terlihat bila di sela-sela bulu putihnya ada juga bulunya yang berwarna hijau. Jahat sekali orang yang tega me-ngecat bulu putihnya. Aku jadi yakin jika ia tetap disini pasti esok hari ia sudah akan jadi sate.

“Gakpapa, aku bakal melindungimu!”

 

 

 

 

Moon Jongup PoV

 

Gakpapa, aku bakal melindungimu!”

 

Aku memandang gadis itu penuh tanya. Ia balas memandangku dengan pandangannya yang terlihat penuh semangat.

 

“Diam saja disini ya! Kita bakal lari menerobos hujan. Jangan takut!” Gadis itu berkata pelan sambil memasukkanku kedalam saku jaketnya, menyuruhku untuk bersembunyi dari rintikan hujan. Lalu aku merasakan guncangan yang begitu hebat. Ia pasti sudah mulai berlari. Berlari kencang menerobos hujan sambil membawaku. Kelinci putih dengan garis hijau kecil yang berlindung di saku jaketnya.

 

 

“Ahjumma, tolong wortelnya tiga buah! Khamsamnidaaaa.”

 

Aku merasa tidak ada guncangan lagi. Gadis itu pasti sudah berhenti berlari. Benar saja! Tangan dinginnya tiba-tiba meraihku. Mengangkat dan mengeluarkan tubuh mungilku dari kantung jaketnya yang hangat lalu meletakkanku di lantai. Ia memberiku tiga buah wortel yang warnanya orange cerah. Tanpa adanya aba-aba, aku langsung memakannya lahap.

 

Gadis itu berjongkok. Menyamakan posisinya dengan posisiku. Aku memandangnya sambil terus melahap wortel yang terasa manis itu. Gadis itu tersenyum cerah hingga membuat wortelku terasa kalah manis dibanding senyumnya.

 

“Hahaha, kau lapar rupannya?” Ia mengelusku lembut.

“Hehehe, oh. Gomapta.” Balasku didalam hati. Aku tersenyum walaupun ia tak melihatnya. Tapi ia mengangguk seakan ia tahu.

Namaku Moon Jongup. Agen dari planet sebrang bumi, Matoki. Aku di Bumi demi menjalankan tugas. Tugas kami para matoki adalah untuk menggenggam erat bumi ditangan kami.

Tapi gadis dihadapanku ini. Gadis yang senyumnya lebih manis dari wortel ini. Menghapus seluruh mimpiku begitu saja.

 

 

  • 09 Desember 2016, pukul 9.30 malam,

 

Aku terbangun ketika mendengar suara ribut dari luar, jadi aku memutuskan untuk
menengoknya.

“Sssttt.” So Hyun menaruh telunjuk didepan bibirnya ketika melihatku keluar. Mau apa dia malam-malam begini?

“Aku mau pergi ke kios tadi dan menyelamatkan teman-temanmu.” Jawabnya seperti bisa mendengar pertanyaanku.

“Kau mau ikut? Ayooo!” Tanpa tahu aku mengangguk atau menggeleng dia tetap mengangkatku dan lagi-lagi memasukkanku ke dalam saku jaketnya. Ia berlari lagi. Tanpa punya rasa takut. Melewati jalanan kota Busan yang mulai sepi.

 

 

Kim So Hyun PoV

 

Jalanan Busan mulai terasa sepi. Hanya ada beberapa pelancong yang lalu lalang bersiap untuk pulang. Terkadang lampu jalan tidak lagi dinyalakan. Itu karena aturan dari pemerintah yang membuat Busan sebagai tempat wisata hanya di siang hari. Kalau malam? Lihat saja, belum mencapai tengah malam saja kota ini terasa seperti kota mati.

Aku mengumpulkan segala keberanianku. Sampai akhirnya aku sampai di kios yang ku buat berteduh sore tadi. Tempat dimana aku menemukan Coco. Ya, kelinci ini akhirnya kuberi nama Coco walaupun kulitnya berwarna putih bukan cokelat.

 

Segera saja aku berjalan menuju ke belakang kios. Tempat dimana tadi aku menemukan Coco. Ketemu! Puluhan tumpukan balok itu masih ada disana.

Aku mendekat, memegang salah satu balok yang ada di tumpukan paling atas. Membukanya perlahan. Kali ini tanpa rasa takut. Benar saja. Didalamnya ada dua ekor kelinci yang langsung melompat keluar dan berlari ke jalanan yang sudah  bennar-benar sepi.

“Gurae, berlari dan melompatlah yang jauh teman-teman.” Teriakku kepada mereka yang sudah hilang di kegelapan.

Oke. Tugasku belum selesai. Masih ada puluhan kotak tersisa. Tunggu saa. Aku akan menyelamatkan mereka semua!

 

 

Moon Jongup PoV

 

“Hyung. Apa yang akan terjadi pada manusia bumi bila kita berhasil mendapatkan bumi di tangan kita?” Aku bertanya ragu-ragu.

“Bodoh sekali kau Moon Jongup. Tentu saja kita harus memusnahkan mereka agar kita dapat memiliki kerajaan milik kita sendiri. Kerajaan yang tenang dari gangguan mereka.”

“Sebegitu bersalahkan mereka?”

“Ya! Kau ini lagi beneran bodoh atau cuma berpura-pura bodoh?” Kali ini Yongguk hyung meninggikan suaranya.

“Mian. Tapi, bisakah kita menyisakan satu orang saja di bumi? Cukup satu orang saja.”

“Hahaha, aku tau Moon Jongup. Kau memang tidak sedang bodoh. Tapi kau sudah benar-benar gila ya?”

Aku hanya menunduk mendengar kalimat Yongguk hyung. Ia benar-benar tidak setuju. Lantas bagaimana bisa aku menyelamatkannya?

 

Kim So Hyun PoV

 

Aku tidak melihat Coco beberapa jam terakhir. Aku mulai khawatir. Apa yang terjadi padanya ya? Apa dia kabur? Apa dia mencari teman-temannya? Ah, dimana dia sebenarnyaaa?!

Aku hampir putus asa mencarinya didalam dan di sekitar rumah sampai aku mendengar derit pintu depan yang terbuka.

“Cocoo! Kau darimana sa-“ Kalimatku terputus ketika kulihat bukan Coco yang mendorong pintu yang tidak kututup rapat itu.

“Nuguseyo?” Tanyaku penuh selidik kepada seorang laki-laki yang sedang berdiri di hadapanku itu.

Biar ku deskripsikan pria aneh itu. Wajahnya putih pucat tapi terlihat tampan. Rambut birunya dinaikkan sehingga terlihat dahinya yang lebar. Membuat wajahnya terlihat maskulin. Ada tato di leher dan kedua punggung telapak tangannya. Apakah ia preman yang biasa nongkrong di pasar dekat rumah. Tidak mungkin. Manaada preman pasar ganteng begini.

“Kim So Hyun. Mari kita bicara.” Katanya tiba-tiba. Membuat seluruh bulu kudukku berdiri

.

 

Moon Jongup PoV

 

Wajah gadis di sampingku berubah murung. Mungkin ia masih belum bisa menerima atau mengerti. Tapi itulah, pengakuanku yang sebenar-benarnya.

“Aku tidak mau kau terluka. Sedikitpun tidak mau. Karna aku sudah hutang banyak padamu. Sore itu bila saja kau tidak menyelamatkanku, mungkin aku bisa berakhir jadi sate di keesokan harinya. Malam itu, bila saja kau tidak menyelamatkan teman-temanku. Populasi kami di bumi mungkin akan semakin sedikit. Jadi aku, Moon Jongup, sebagai agen dari Matoki, yang tidak ingin kau terluka, meminta dengan sangat. Meminta bantuanmu untuk meyakinkan orang-orang bahwa kami para kelinci kecil tidak pantas untuk kalian jadikan makanan. Tega sekali mereka menusuk-nusuk kami jadi sate. Seharusnya kelinci itu mereka rawat dan sayangi sebagai binatang peliharaan. Dan aku harap setelah itu kau bisa meyakinkan para Matoki bahwa manusia dan kelinci bisa hidup berdampingan dengan baik.”

“Moon Jongup, aku masih tidak mengerti.” Ia memandangku penuh tanya.

“Para Matoki akan mulai menyerang besok. Bersiaplah.” Kataku singkat, lalu aku beranjak dari dudukku. “Aku akan menunggumu disana.”

 

 

Kim So Hyun PoV

 

  • 19 Desember 2016

 

Tidurku semalam sangat-sangat tidak nyenyak. Aku terus saja memikirkan tentang hari ini. Jadi dengan badan yang sedikit lemas aku berjalan menuju kamar mandi. Mencuci muka. Lalu segera mengenakan jaketku. Berjalan keluar rumah menuju pusat kota.

 

Rusuh. Sepanjang mata yang kulihat hanya orang-orang yang berteriak karna ditarik paksa oleh beberapa laki-laki yang dapat kupastikan jika itu teman Jongup.

 

Aku yang sudah menyiapkan alat dan bahan omongan untuk hari ini berdiri tegak. Mengeluarkan toa agar suaraku bisa didengar semua orang. Mengusir rasa takutku.

 

“Teman-teman. Apa ada yang tahu apa yang terjadi disini? Semua ini terjadi karna kesalahan kita sendiri. Mengapa kalian begitu tega menjadikan kelinci hewan paling menggemaskan di muka bumi berakhir menjadi sate? Bukankah hewan seperti mereka itu seharusnya dirawat dan disayangi? Maka lihatlah, betapa marah dan tidak terimanya mereka melihat teman-teman mereka dijadikan sate. Para Matoki. Aku disini meminta maaf diatas nama seluruh warga Busan. Aku memang tidak bisa mengembalikan teman-teman kalian yang sudah gosong menjadi sate. Tapi aku hanya bisa menjamin. Bila kau lepaskan kami, setelah ini, kita bisa buat perjanjian untuk hidup berdampingan dengan damai.”

 

Setelah aku membacakan pidatoku yang sok itu. Aku melihat Jongup berdiri di antara para Matoki. Tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya. Misi berhasil Coco!

-END-

Advertisements

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s