[Let’s Create Our Kingdom] Differente – Oneshoot

img-20170126-wa0001

Differente

A oneshoot fanfiction by Sabilasalma

WARNING

Tidak ada unsur kebencian yang masuk dalam fanfiksi ini. Seluruh cast (kecuali OC) yang ada di dalam cerita adalah hak milik TS Entertainment (dan keluarga masing-masing). OC, plot, latar, dll adalah hak milik author. Ide yang tertuang dalam fanfiksi ini adalah MURNI hasil karya author.

GENRE

AU, Fantasy

LENGTH

Oneshoot

RATING

PG-13

CAST

B.A.P’s Bang Yong Guk

B.A.P’s Himchan

B.A.P’s Daehyun (Main Cast)

B.A.P’s Youngjae

B.A.P’s Jongup

B.A.P’s Zelo (Junhong)

Claire Lu (OC)

Other character, you’ll find them here.

 

SUMMARY

Rasa penasaran yang berubah menjadi kekacauan. Ia harus melindungi penduduk kota, tapi hati kecilnya menginginkan ia bersama sang penyihir. Bagaimana jadinya?

*****

Jubah merah marun berkibar diterpa angin. Surai cokelatnya bergerak mengikuti arus. Manik hazel menatap jauh ke sana. Tangan kirinya menyentuh besi penyangga. Dingin.

Sinar rembulan menyinari dirinya. Memberikan kesan dan sensasi tersendiri. Ribuan bintang menemani lamunannya. Langit begitu cerah malam itu.

Ia menghela nafas. Menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang Gardien1 sekaligus Rovierra2 tidaklah mudah. Terlebih ketika seluruh penduduk Mythreach berharap padanya. Sang Raja tidak bisa berbuat apa-apa, selain memberikan dukungan dari belakang.

Tangan kanannya menopang dagu. Matanya terpejam menikmati angin. Dan ketika iris hazel itu terbuka , hal yang dilihatnya adalah asap putih mengepul dari ujung sana.

Di sana, Hutan Brouillard. Yang dilarang didekati oleh siapapun. Seluruh penduduk Mythreach tahu itu. Yang berusaha mendekat akan dihukum, dan yang berhasil masuk tidak akan bisa keluar.

Konon, sekelompok penyihir menetap di dalamnya. Memberikan mindset buruk kepada masyarakat. Padahal, belum tentu seluruh penyihir yang ada di dalamnya jahat.

Adalah Jung Daehyun, satu-satunya orang yang memiliki anggapan demikian. Yang masih beranggapan bahwa Myrians3 dan penyihir bisa hidup bersama. Bahwa Myrians tidak seharusnya menganggap para penyihir seluruhnya kejam. Bahwa tidak semua penyihir adalah jahat.

***

Sore itu, ia pergi ke kota. Seorang diri lagi. Ia tidak suka dijaga dan diikuti oleh banyak orang. Menurutnya, itu menyusahkan. Jadi ketika para penjaga lengah, ia kabur lewat ruang bawah tanah dan berkeliaran di kota seorang diri.

Tampaknya seperti orang biasa, hanya saja agak sedikit ‘mewah’. Topi hitam menutupi mata. Boots panjang menuntun langkah menuju kota. Tangan kirinya dimasukkan ke saku blazer, sedang tangan kanannya menggenggam apel merah. Hanya orang-orang tertentu yang dapat menyadari lambang Kerajaan Haertley di saku blazernya.

Kaki kiri menutup langkahnya di depan sebuah toko snack. Ia sempat melihat sekeliling, sebelum membuang apelnya dan masuk ke dalam toko.

Loncengnya berbunyi membangunkan wanita paruh baya yang setengah mengantuk. Tangan kanannya menopang dagu dan kirinya terlipat di meja. Daehyun menyapa wanita paruh baya itu sebelum menghilang di antara rak-rak makanan.

Ia kembali dengan sekeranjang penuh snack di tangannya. Berbagai chips, cokelat, berbagai crackers dan biskuit, soft cake, semua menjadi satu. Wanita paruh baya itu tidak tampak terkejut melihat putra mahkota dengan sekeranjang penuh snack di tangannya.

“Ah, Yang Mulia Jung. Apa anda akan membuat pesta? Anda membeli banyak sekali hari ini,” kata wanita paruh baya itu seraya menghitung belanjaan.

“Ugh… Persediaan snack-ku hampir habis, jadi aku kesini untuk membelinya lagi,” dibalas senyum andalannya. “Ngomong-ngomong, Bibi, kenapa semua orang terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu?”

“Ah, itu,” ia berhenti. “Kau tahu si pemburu itu, kan? Neillard? Kemarin ia berburu di Chervice, tetapi malah kelewatan dan sampai di Brouillard!”

“Wow,” Daehyun mendengarkan dengan seksama. Menarik. “Lalu, apa yang terjadi padanya?”

“Kudengar dia melihat penyihir sedang melakukan ritual,” balas wanita paruh baya itu. “Ia kembali sehabis petang. Untungnya baik-baik saja, hanya sedikit shock. Ngomong-ngomong, semuanya jadi 1000 goldies,”

Daehyun meletakkan sekantung penuh uang di atas meja. Meraih dua buah paper bag. “Wow, sepertinya aku harus menanyakan hal itu langsung padanya,”

“Kupikir sebaiknya begitu,” katanya. “Tetapi, hati-hati. Aku takut ia tidak mau ditanya-tanya tentang pengalamannya,”

***

Daehyun muncul di kamarnya dengan dua buah paper bag di tangan. Dimasukkanya snack ke dalam kulkas kecil, kemudian lari ke ruang tengah. Di sana sudah Junhong dan kakak sepupunya, Youngjae, serta Himchan yang sedang sibuk memainkan anak panah.

Di lain sisi, kakaknya, Kayne, serta ayahnya terlihat sedang membicarakan sesuatu. Ia tidak peduli. Paling mereka sedang membicarakan tentang gossip yang baru saja beredar.

“Baiklah,” Daehyun menghadap teman-temannya. “Apa yang kalian lakukan disini? Bukannya pertemuan kita besok sore?”

“Kurasa mereka mengubahnya,” balas Youngjae malas. “Aku sedang berlatih memanah sebelum Kim Chan itu menarikku dan Jun kesini,”

“Hei! Siapa yang kau sebut ‘Kim Chan’?!” Himchan berseru dengan sebal. Anak panahnya meleset.

***

Hari ini gilirannya berburu. Sang ayah tidak bisa menemaninya karena harus keluar kota. Begitu pula sang kakak yang tentunya harus menggantikan tugas sang ayah. Pada akhirnya, ia ditemani Youngjae dan Junhong.

Sebelumnya Yongguk sudah memperingatkan mereka bahwa ia melihat sesuatu yang aneh dari arah Brouillard. Dan agar mereka tidak menuju Chervice, khawatir kejadian yang menimpa Neillard terjadi pada mereka.

Daehyun memimpin di depan, Youngjae dan Junhong berjalan dua langkah di belakangnya. Dan tujuh langkah lagi, barisan lima orang pengawal menjaga ketiganya.

Ia tidak suka itu. Ia tidak suka segala macam bentuk penjagaan yang diberikan ayahnya. Ia bukan Kayne yang gila akan perhatian orang lain. Ia adalah Jung Daehyun, bukan Kayne.

Langkahnya terhenti di depan Hutan Shaville. Hutan yang cantik, dipenuhi pohon sakura dan ceri merah. Shaville adalah favoritnya, karena apa yang ia butuhkan selalu tersedia di sana.

Ia tidak akan tersesat di dalam Shaville. Hutan itu adalah wilayahnya, selain Kastil Haertley. Daehyun hafal detail-detail Hutan Shaville lebih dari siapapun. Karena itu, mustahil jika ia tersesat di dalamnya.

Namun, sepertinya kali ini Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya. Ia sedang melamun, ketika sadar bahwa tanah yang dipijaknya bukan lagi Shaville. Tidak ada pohon sakura dan ceri merah. Tidak ada kicauan burung-burung. Tidak ada sinar mentari yang hangat.

Panik. Ketika melihat ke belakang, sama. Hanya pohon-pohon pinus besar. Sinar mentari tidak mampu menembus celah pepohon pinus yang tinggi itu. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa, selain secercah sinar di ujung utara.

Kalau ia tidak salah, ada Hutan ‘Aizel di dekat Shaville. Jika benar, maka sekarang ia ada di ‘Aizel. Dan jika ia berjalan ke utara, ia akan menemukan …

Brouillard.

“Tidak mungkin,”

Aku melihat sesuatu yang aneh dari arah Brouillard. Asap yang sangat pekat, seperti sisa pembakaran. Aku juga mencium aroma kayu bakar dan … darah?’

Ia menyesal tidak mendengarkan perkataan Yongguk. Ia menyesal berjalan lebih jauh dari Youngjae dan Junhong. Ia menyesal mengatakan bahwa ia membenci penjagaan yang begitu ketat. Mungkin jika ia berhasil keluar dari sini dengan selamat, ia akan mentraktir seluruh pengawal dan prajurit kerajaan.

Berusaha tenang. Ia meyakinkan diri untuk menuju arah cahaya itu. Karena itu satu-satunya hal yang bisa dilihatnya sekarang. Berkali-kali terjatuh. Berkali-kali jubahnya tersangkut di dahan-dahan pohon.

Dan ketika ia sampai di titik cahaya itu, semuanya gelap.

***

Hal pertama yang ia lihat adalah cahaya. Seperti cahaya lampu. Atau mungkin itu kenyatannya. Dan ia menemukan tubuhnya ditutupi selimut. Tangan kirinya dibalut perban. Jubah marunnya tergantung di sudut ruangan. Beberapa jahitan di ujung-ujungnya. Ia menepuk keningnya. Mengutuk dirinya yang terlalu bodoh untuk menyadari hal-hal penting.

Ketika ia berusaha bangkit, pintu cokelat itu terbuka. Menampilkan sosok gadis bertudung hitam—surainya kemerahan. Membawa nampan berisi green tea hangat dan sepiring cookies. Matanya tertutup poni—warnanya biru—dan tudung hitam itu. Tapi Daehyun dapat melihat senyumnya. Manis.

Gadis itu meletakkan nampan di atas meja. Kemudian duduk di kursi. Kepalanya tertunduk. Dan ketika mulutnya terbuka, Daehyun hanya bisa menatapnya kaget. Suaranya indah.

“Hei,”

Dan menyadarkan lamunannya.

“A-apa?” tanyanya. “Eh, maksudku, tadi kau bilang apa?”

Gadis itu menghela nafas. Kemudian mengulang pertanyaan “Apa yang kau lakukan disini?” yang akhirnya mendapat jawaban dari pemuda itu. Gadis itu kemudian mengangguk, menunjukkan name tag di tudung sebelah kanannya, ‘CLAIRE LU’.

***

“Jadi … Penyihir itu benar-benar ada?” tanya Daehyun pada gadis di sebelahnya. Claire hanya mengangguk. Kedua kakinya dimasukkan ke dalam aliran sungai yang dingin. Permukaannya yang semula bergejolak menjadi tenang.

Claire meraih tangan kiri Daehyun. Membuka perban yang menutupinya. Menampakkan goresan panjang yang cukup lebar. Menatap luka itu dengan sedikit ngeri. Ia mencelupkan tangan kirinya ke dalam air. Mengusap luka di tangan Daehyun yang kemudian menghilang tanpa bekas.

Daehyun menatapnya kaget. Sementara gadis itu hanya menunduk. Namun seulas senyuman masih tampak di bibirnya. Samar.

***

Ia kembali ke Mythreach setelah seminggu menghilang. Dan, ya, ia menepati janjinya mentraktir seluruh pengawal dan para prajurit. Senang bisa kembali ke Mythreach dengan selamat. Tapi ada rasa sakit di hatinya mengingat ia harus meninggalkan Claire.

Satu minggu belum cukup. Bahkan, Daehyun sudah merencanakan ‘pelarian’ kedua agar bisa bertemu lagi dengan Claire. Nama yang indah, Claire Lu. Ia seperti di hipnotis.

Akhir-akhir ini sering melamun. Atau itu yang dikatakan Youngjae dan Jongup kepadanya. Dan hal yang ia lamunkan selalu sama. Claire. Claire Lu. Salah satu dari kelompok penyihir yang mengasingkan diri—atau dulunya diasingkan?—ke Brouillard. Penyihir yang manis. Dan sepertinya baik. Claire. Claire. Claire. Claire. Clai—

“Jung Daehyun!”

Seruan Kayne menyadarkan lamunannya. Ia menatap kakak laki-lakinya itu kaget. Sorot mata Kayne menatapnya tajam. Mulai merasa ada yang tidak beres dengan adiknya, ia menyeretnya ke ruang bawah tanah.

“Apa yang kau pikirkan, hah? Sudah dua minggu kau seperti ini! Astaga, Jung Daehyun!” Kayne berseru frustasi. Surai blondenya berantakan. Kepalanya sakit.

Ia tidak mengerti. Hal macam apa yang ditemui adiknya sampai ia terus-terusan melamun selama dua minggu? Pasti ada sesuatu yang tidak beres, bukan begitu?

***

“Perang?!”

“Ayah, aku tidak salah dengar, kan?” Daehyun menggebrak meja dengan kencang. Raja Blayze kaget, tapi mencoba tenang.

“Kau tidak tahu? Para penyihir itu sudah membuat kekacauan selama seminggu kau menghilang!” Kayne berseru dengan nada tinggi.

“Tidak semuanya seperti itu, Kayne!” lebih tinggi lagi.

“Kau di hipnotis, Jung Daehyun! Kau di hipnotis oleh mereka!” semakin tinggi.

“AKU TIDAK DI HIPNOTIS! BUKA PIKIRANMU, KAYNE!” dan ini yang terakhir. Sebelum Daehyun keluar membanting pintu. Berlari entah kemana. Para pengawal mengejarnya. Pintu gerbang berhasil ditutup sebelum Daehyun melangkah keluar.

***

“Hei, Daehyun”

“Apa?!”

“Jangan seperti itu,” suara Yongguk. Hangat dan menenangkan. “Aku percaya padamu, kok. Kau tidak di hipnotis,”

“Jangan coba membujukku,”

“Aku mengerti kau ingin ke sana. Aku mengerti kau ingin menemuinya. Tapi, sadarlah, Mythreach lebih penting,”

Dan Daehyun baru sadar apa tujuannya selama ini. Untuk apa ia berlatih panahan setiap hari. Untuk apa ia berlatih berkuda hingga pergelangan tangannya patah. Untuk apa ia berlatih mengayunkan pedang hingga lengannya tergores. Dan ia sadar.

Mythreach membutuhkan dirinya. Seluruh orang bergantung padanya. Meski Yongguk dan Youngjae juga seorang Gardien, tapi Myrians menaruh harapan terbesar padanya. Ia yang akan menentukan nasib Mythreach. Saat ini, ialah sang pemimpin. Bukan ayahnya, bukan Kayne. Tapi dirinya.

***

Pagi itu, ia bertengkar lagi dengan kakak dan ayahnya. Ia sadar akan posisinya sebagai Gardien dan Rovierra. Tapi di sisi lain, ia juga sadar bahwa ia harus membuktikan pada Kayne bahwa pemikirannya salah. Bahwa adiknya itu tidak di hipnotis.

Dan pertengkaran itu berakhir dengan Daehyun yang sekali lagi, kabur dari kastil. Tidak berhasil dihalau. Ia berlari entah kemana. Tujuan yang ia miliki hanya satu, Brouillard. Dan Claire.

Ia akan berada di pihak Claire apapun yang terjadi. Ia akan bersama dengan Claire meski harus mati. Ia akan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa penyihir dan Myrians bisa hidup bersama. Meski ia tahu bahwa ia dan Claire berada dalam dunia yang berbeda.

Dan ketika ia sampai di tempat Claire, semua sudah berubah. Tidak tampak lagi para penyihir dengan tudung hitam. Rumah-rumah kayu yang sebulan lalu masih ada di sana kini hancur. Seperti ada yang merusaknya. Hancur.

Ia memutuskan untuk kembali ke Mythreach. Dan ketika kakinya menginjak tanah kota, yang ia lihat adalah kehancuran. Asap dan api dimana-mana. Kabut menyelimuti kota. Pekat.

Ia dapat melihat mayat-mayat Myrians yang tergeletak mengenaskan. Kemudian ia teringat akan suatu hal dan langsung berlari menuju kastil.

Hampir terlambat. Para pengawal dan prajurit tewas dengan mengenaskan. Ia dapat melihat itu dengan jelas. Kayne, Junhong, Yongguk, ketiganya berkali-kali menembakkan anak panah ke arah para penyihir. Melindungi ayahnya. Youngjae, Jongup, Himchan, menghalau para penyihir.

Dan di sana, ia melihat Claire. Dengan pedang silver panjang. Cahaya biru berulang kali keluar dari pedang itu. Daehyun mencoba mendekat. Tapi yang ia dapat hanya teriakan.

“MENJAUH ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!”

Tidak digubris. Ia berlari mendekati Claire. Tangan kirinya memegang busur, bersiap menembak anak panah ke arah gadis itu. Claire menatapnya kaget, meski kemudian wajahnya berubah menjadi tenang.

“Oh, ya, lakukan saja,”

Kejadian itu berlangsung dengan cepat. Daehyun dapat merasakan benda tajam menembus jantungnya. Darah mengucur deras. Ia jatuh terduduk. Berusaha mengeluarkan benda yang menembus jantungnya.

Sebilah pisau silver. Dengan lambang Mythreach di gagangnya. Dan ikatan tali berwarna emas itu, sudah pasti milik Youngjae.

Ketika ia melihat ke belakang, seorang penyihir menatapnya remeh. Di sampingnya, mayat sahabatnya, Yoo Youngjae. Dengan anak panah menancap di jantungnya.

Kemudian terdengar langkah kaki. Itu Claire. Berjalan mendekati dirinya. Kemudian duduk bersimpuh di sampingnya. Tangan kanannya diusapkan ke sebilah pisau yang menembus jantungnya itu. Darahnya perlahan menghilang.

“Aku sudah katakan padamu,”

“Bahwa penyihir dan Myrians tidak akan bisa hidup berdampingan,”

“Bahwa kau dan aku tidak akan bisa bersama,”

“Karena kita berbeda,”

Daehyun dapat mendengar kata-kata terakhir Claire sebelum sebuah anak panah menancap di leher gadis itu. Dan sebelum iris hazelnya tertutup.

We are different,

-END-

Kamus:

  1. Gardien = Orang-orang tertentu yang ditakdirkan melindungi Mythreach.
  2. Rovierra = Keturunan Kerajaan Haertley.
  3. Myrians = Sebutan untuk penduduk Mythreach.

 

 

Advertisements

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s