[Freelance] Ugly Duckling (Oneshot)

Ugly Duckling

By Myuniqueface

Romance || Oneshot || Rating: G || Main Cast: Bang Yongguk & Cheonsa (OC)

The story is mine. Have been posted before on my personal blog: hitamabuputih.wordpress.com

Happy reading~

.

.

.

.

“Jagi~, oppa pergi dulu!” teriak Yongguk ketika keluar dari kamarnya, sambil memakai jaket. Ia menuju sofa di ruang tengah, dimana Miyoung dan Cheonsa sedang duduk asyik menonton film.

“Kemana?” tanya Miyoung acuh, sambil memakan popcorn.

“Kampus. Lalu ke rumah Himchan. Apa kau mau ikut, jagi~?”

“Tidak. Oppa tidak lihat aku sedang menonton dengan Cheonsa, huh? Dan jangan panggil aku ‘jagi’ lagi! Yoongi saja tidak pernah memanggilku seperti itu.”

“Waeee~? Kau kan jagiyaku~”

Yongguk berusaha memeluk Miyoung, tapi Miyoung malah berusaha mendorong tubuhnya dan menghalangi tindakan Yongguk.

“Hentikaaan, oppaaaa~,” desis Miyoung, “aku sudah besar. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus.”

Yongguk mengerucutkan bibir, “but you’re always be my babyyy~”

“Eiissh~” gerutu Miyoung, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke layar televisi.

Yongguk menghiraukan gerutuan Miyoung, ia memeluk singkat tubuh Miyoung lalu mencium keningnya.

Cheonsa yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan interaksi dua orang tadi, tersenyum begitu melihat Yongguk mencium kening Miyoung. Hubungan keduanya selalu seperti itu, bertengkar mengenai hal kecil tapi berdamai kembali dengan pelukan dan ciuman di pipi atau kening.

“Kalian hati-hati ya di rumah, jangan nakal,” ia kemudian berjalan menuju ke arah Cheonsa dan mengacak-acak rambutnya pelan. Membuat pipi Cheonsa memerah dan badannya terasa lebih hangat.

“Bye~sana pergiiii~” usir Miyoung, sambil melemparkan bantal sofa ke arah Yongguk.

Yongguk menjulurkan lidah karena lemparan Miyoung meleset, “bye~” kemudian setengah berlari menuju pintu depan dan tak lama kemudian terdengar bunyi pintu tertutup.

Tanpa sadar, Cheonsa terus memperhatikan Yongguk hingga bayangannya menghilang.

“Yah!” panggil Miyoung. Cheonsa tidak mendengarkan panggilan Miyoung dan masih melihat ke arah pintu.  Hingga akhirnya ia merasakan bantal yang dilempar Miyoung ke arahnya.

“Wae??” tanyanya sedikit kesal karena bantal itu mengenai tepat di kepalanya.

“Wae? Harusnya aku yang bertanya seperti itu? Wae? Apa yang salah denganmu? Apa oppa-ku terlalu mempesona, huh?”

Cheonsa tergagap begitu mendengar pertanyaan Miyoung, “ah eh oh…”

Miyoung tertawa, lalu duduk mendekati Cheonsa dan menepuk punggungnya dengan keras, “aigooo, bahkan kau sampai tidak bisa menjawab pertanyaanku. Ckckck.”

“Aish, mollaa~,” Cheonsa mengabaikan Miyoung dan melanjutkan menonton film.

“Kalau saja Yongguk oppa tahu kalau kau sangat menyukainya….” desis Miyoung.

“Mi..Miyoung-ah, kau sudah janji padaku tadi malam…” Cheonsa melihat kearah Miyoung dengan pandangan cemas.

Baru tadi malam Cheonsa akhirnya mengaku pada Miyoung, bahwa ia menyukai Bang Yongguk, oppa kandung Miyoung. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Ia sudah hampir dua tahun bersahabat dengan Miyoung. Tapi rasanya baru beberapa bulan ini ia sering merasa gugup jika bertemu dengan Yongguk. Terutama ketika bermain ke rumah Miyoung. Anehnya, jika ia tidak bertemu dengan Yongguk, tanpa sadar matanya akan mencari-cari ke setiap sudut rumah untuk mengetahui keberadaannya. Tak jarang ia merasakan ingin selalu bertemu dengan Yongguk. Sehingga ia kadang pergi ke rumah Miyoung bukan untuk bertemu dengan sahabatnya itu, tapi ingin melihat wajah oppa-nya.

Semalam ia juga memaksa Miyoung untuk tidak bercerita pada Yongguk mengenai perasaannya itu. Ia ingin menunggu. Entah menunggu apa. Tapi ia tidak ingin Yongguk tahu dari orang lain mengenai perasaannya itu. Ia juga tidak ingin Yongguk terbebani dengan perasaannya atau malah hubungan mereka berdua menjadi canggung. Selain itu, sebenarnya ia sendiri ragu apakah ia pantas menyukai Yongguk…

Miyoung kemudian mengangkat kedua tangannya, “relaks, aku gadis yang selalu memegang janji. Aku kan bilang ‘kalau saja’. Aku tidak bilang apa-apa pada oppa.”

“Baguslah kalau begitu,” seru Cheonsa lirih.

“Ugh, tapi serius. Kenapa kau harus menyembunyikan fakta kalau kau menyukai oppa? Bilang saja padanya. Masalah selesai. Kalian berdua sama-sama bahagia. Daripada seperti ini. Kau hanya bisa memandangi dan mengaguminya dari jauh.”

Mata Cheonsa melebar, “tidak bisa segampang itu, Miyoung-ah.”

“Aku tahuuuu~ tapi aku lama-lama jadi gemas juga hanya bisa melihatmu seperti ini. Tidak perlu menyembunyikan perasaanmu seperti itu. Oppa pasti akan menyambut perasaanmu, Cheonsa~ aku pastikan itu~”

“Eh, kenapa kau yakin sekali kalau Yongguk oppa akan menyambut perasaanku? Bagaimana kalau tidak? Lalu kami berdua malah menjadi canggung setiap kali bertemu? Nanti aku tidak bisa leluasa main ke rumahmu …” Cheonsa megerucutkan bibirnya, sembari membayangkan setiap situasi yang ia ucapkan.

“Yah! Jangan berpikir terlalu jauh! Eish! Tidak akan seperti itu. Aku merasa oppa-ku tidak akan menolakmu~ Kau tahu, perasaanku kan sering benar!” jawab Miyoung dengan senyum lebar, “tapi serius, apa yang kau khawatirkan, huh? Sampai berpikir sejauh dan semenyeramkan itu~”

Banyak! Jerit Cheonsa dalam hati. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang di depan sahabatnya itu. Ia tahu, sahabatnya pasti akan memberikan nasihat panjang lebar yang sudah ia katakan semalam, ketika ia mengatakan dirinya tidak pantas menyukai Yongguk oppa. Seperti, ‘kau menghawatirkan apa lagi, huh? Kau cantik, kau pintar, kau enak di ajak ngobrol, kau membuat orang lain nyaman denganmu, kalau kau mau kau bisa membuat semua laki-laki di dunia ini bertekuk lutut padamu. Bahkan oppaku sendiri. Kau bisa membuatnya jatuh cinta dan mabuk kepayang denganmu! Kau pantas menyukai Yongguk oppa. Ingat itu!’

Miyoung menghela nafas panjang. Sahabatnya itu berlebihan. Menurutnya, dirinya tidak cantik. Miyoung jauh lebih cantik. Tak heran banyak laki-laki yang mendekatinya dan sekarang ia sudah punya pacar. Tubuh Cheonsa bahkan gendut. Tidak seperti Miyoung, yang badannya seperti model. Jika mereka berjalan bersama, mereka berdua terlihat seperti angka 10. Laki-laki pasti memperhatikan Miyong ketika mereka berjalan bersama. Tidak ada yang memperhatikan Cheonsa. Tapi Cheonsa berotak cerdas. Hal itu tidak hanya Miyoung yang mengakui, semua teman sekolah mereka pasti akan membenarkan hal itu. Tapi apa itu bisa menarik perhatian Yongguk? Cheonsa selama ini berpikir bahwa laki-laki malah tidak terlalu tertarik dengan wanita pintar, apalagi jika wanita itu lebih pintar dari mereka. Laki-laki dan egonya….

“Jangan berpikir yang negatif terus darimu, Cheonsa~yaa. Terlalu banyak hal positif darimu,” Miyoung kembali mengingatkan.

Cheonsa hanya mengangguk pelan, “emm….apa Yongguk oppa pernah berkata sesuatu tentangku?”

Miyoung nampak sedikit berpikir, “pernah. Dulu ketika pertama aku mengajakmu ke sini, ia banyak bertanya tentangmu. Seperti menginterogasi. Biasalah…ia ingin tahu banyak tentang sahabat-sahabatku. Kapan lagi ya… oh, ketika kita pergi makan malam bersama ketika orang tuaku pergi ke Incheon dan Yongguk oppa pergi menyusul ke restoran tempat kita makan? Pulang dari sana, ia bilang kalau kau orang yang menyenangkan dan enak diajak ngobrol. Kemudian…ketika aku bercerita kalau aku berpacaran dengan Yoongi oppa, dia bertanya apa kau juga punya pacar. Selain itu…aku lupa, hahaha.”

Cheonsa hanya tersenyum kecil, lalu menggigit bibirnya.

“Mana mungkin Yongguk oppa mengatakan sesuatu atau bertanya macam-macam tentangku. Memangnya aku ini siapa…” pikirnya lagi. Tapi ia tidak bisa menghentikan otaknya kembali berpikir tentang oppa yang telah menjerat hatinya itu.

“Bahkan mengucapkan namanya saja sudah membuat hatiku berdebar-debar…Mana mungkin aku bisa bilang padanya kalau aku menyukainya. Yongguk oppa terlalu bagus untukku. Dia tampan, ramah, baik hati, pintar dan berbakat.Aku seperti itik buruk rupa dibandingkan dirinya…” kembali Cheonsa berpikir dan menghela nafas.

Miyoung memperhatikan raut wajah Cheonsa, “yah, kenapa kau terus-terusan menghela nafas? Jangan berkecil hati dulu~ Meskipun ia seperti tidak memperhatikanmu, bisa saja ia memperhatikanmu. Yongguk oppa itu….tidak mudah ditebak. Walaupun ia terlihat selalu ceria dan terlihat bodoh…” Miyoung tertawa kecil begitu mengatakan hal itu, “tapi ia tipe orang pemikir. Pemikirannya kadang terlalu dalam. Sedalam samudera pasifik, mungkin.  Tapi ia selalu berusah menutupi apa yang sedang ia pikirkan. Jadi itu tadi, kita tidak bisa dengan mudah mengetahui apa yang sebenarnya ia pikirkan dan rasakan.”

Miyoung meraih pundak Cheonsa dan memeganginya kuat, “kau harus yakin dan percaya diri! Seperti saat aku menyukai Yoongi dulu! Lihat? Sekarang kami berdua menjalani hubungan dengan bahagia kan?”

Cheonsa mengangguk-angguk. Tiba-tiba mulutnya terbuka, lalu kembali menutup. Terlihat ragu untuk menanyakan sesuatu.

“Mwo? Apa yang mau kau tanyakan?”tanya Miyoung, begitu memperhatikan tindakan sahabatnya itu.

Cheonsa tersenyum karena sahabatnya itu tahu apa yang hendak ia lakukan.

“Apa…Yongguk oppa punya pacar?”

Miyoung melepaskan pegangannya dari Cheonsa dan berpikir sebentar.

“Sepertinya tidak. Terakhir oppa punya pacar itu sekitar….1 atau dua tahun yang lalu? Ia selalu bercerita padaku kalau ia sedang berhubungan dengan wanita. Selama ini ia tidak pernah bercerita tentang wanita. Sepertinya ia sedang serius dengan kuliah dan grup musiknya. Oppa juga terlalu sibuk akhir-akhir ini. Mengerjakan tugas-tugas kuliah, menulis lagu, latihan dan perform di beberapa tempat setiap akhir minggu.”

“Jangan takut, kau masih punya banyak harapan,” Miyoung mengedipkan matanya ke arah Cheonsa.

—*—

Cheonsa buru-buru memencet bel pintu rumah Miyoung sambil mengelap bajunya yang basah terkena air hujan dengan tissu. Di tengah perjalanannya menuju rumah Miyoung, mendadak hujan turun. Cheonsa yang lupa membawa payung, memutuskan untuk berlari menembus hujan karena rumah sahabatnya itu juga sudah dekat.

Tak beberapa lama, pintu terbuka. Tapi bukan Miyoung yang menyambutnya.

“Oh Cheonsa? Masuk masuk~ Kau mencari Miyoung?” tanya Yongguk. Ia terlihat terkejut dengan kedatangan sahabat adiknya itu.

Cheonsa tak kalah terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan Yongguk saat itu. Ia hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Yongguk.

“Miyoung ada di rumah kan, oppa?” tanya Cheonsa, setelah masuk dan menyadari rumah yang sepi.

“Dia belum pulang…ia baru saja pergi, bahkan,” jawab Yongguk dengan nada bingung.

Cheonsa melongo. Kemarin jelas-jelas Miyoung menjanjikan akan menunggu di rumah sebelum mereka pergi makan siang bersama.  Bahkan sebelum Cheonsa keluar dari rumahnya tadi, Miyoung mengirimi pesan yang menyatakan jika dirinya sudah siap di rumah dan tinggal menunggu Cheonsa datang.

“Tapi…aku sudah janjian pergi dengan Miyoung…” kata Cheonsa lirih.

Yongguk mengerutkan keningnya, “kau duduk saja dulu. Biar kutelepon Miyoung.” Ia kemudian masuk ke dalam dan meninggalkan Cheonsa yang masih kebingungan.

Cheonsa menuruti perkataan Yongguk. Ia segera mengeluarkan handphone dan mengirim pesan pada Miyoung.

Yah! Kau dimana??

Tak disangka balasan Miyoung datang dengan sangat cepat.

Kencan dengan Yoongi~ dan membiarkanmu berduaan dengan oppa-ku tersayang :*

Mata Cheonsa membulat. Ia tidak menyangka Miyoung akan melakukan hal ini. Sudah sebulan lebih semenjak Cheonsa mengaku pada Miyoung kalau ia menyukai Yongguk, tapi baru kali ini Miyoung melakukan hal “seberani” ini. Biasanya ia hanya menggoda Cheonsa setiap kali ia terlihat gugup jika ada Yongguk. Dan yang terpenting lagi, Cheonsa sama sekali tidak siap untuk berduaan dengan Yongguk!

“Apa kau bisa menghubunginya? Aku menelpon dua kali, tapi tidak diangkat~” sebelum Cheonsa membalas lagi pesan Miyoung, Yongguk kembali ke ruang tamu sambil membawa handphone-nya.

“Emmm, Miyoung membalas pesanku. Katanya ia sedang kencan dengan Yoongi.”

“Mworago?? Kenapa ia meninggalkanmu sendirian disini? Padahal kalian sudah janjian? Eii~ anak ini~” Yongguk kembali menghubungi Miyoung.

“Yah!” teriak Yongguk setelah Miyoung mengangkat telepon, membuat Cheonsa bergidik. Ia belum pernah mendengar Yongguk berteriak seperti itu.

“Cheonsa sudah datang ke sini, kenapa kau malah pergi huh? Mwo? Sejak kapan kau jadi pelupa? Yah, kenapa suaramu kecil sekali. Miyoung-ah, Mi…Bang Miyoung? Yeobseyo?” Yongguk mendecak kesal, setelah menyadari jika panggilan teleponnya berakhir.

Sementara Cheonsa sedari tadi memperhatikan setiap gerak-gerik Yongguk dengan teliti. Entah mengapa setiap gerakan yang dilakukannya, terlihat indah dimata Cheonsa. Bahkan ketika raut wajah Yongguk menunjukkan kekesalan.

“Dia bilang dia lupa kalau sudah berjanji padamu. Lalu tiba-tiba suaranya menghilang dan teleponnya mati. Aish, anak itu~” gerutu Yongguk sambil memandangi handphone-nya. Lalu ia mendongakkan kepala dan melihat jika Cheonsa memperhatikannya dengan seksama.

“Cheonsa~ya?” tanyanya pelan. Cheonsa segera tersadar.

“Ah~ annii~ mungkin Miyoung benar-benar lupa, oppa,” Cheonsa menelan ludah, tidak berani berkata jika sahabatnya itu telah merencanakan untuk meninggalkan Cheonsa dan Yongguk berdua saja di rumah.

Yongguk menggaruk-garuk kepalanya, “tapi ia bukan anak yang gampang lupa…ah ya sudahlah. Jadi bagaimana?Apa kau mau menunggu disini sampai Miyoung pulang?”

Cheonsa melihat keadaan luar melalui jendela. Hujannya semakin deras.

“Atau kau…mau pulang?” tanya Yongguk dengan nada tidak yakin.

“Hujannya deras sekali …” gumam Cheonsa. Sebenarnya ia juga sedang berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini. Di satu sisi, ia bingung harus bagaimana jika berdua saja dengan Yongguk di rumah sebesar ini. Tapi di sisi lain, ia menyadari ini kesempatan yang baik baginya untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan pria itu.

“Tunggu saja sampai hujannya agak reda, baru pulang. Aku juga tidak tega membiarkanmu pulang dalam kondisi seperti ini,” kata Yongguk kemudian setelah melihat keadaan di luar.

Cheonsa tersenyum kecil. Perkataan Yongguk membuat jantungnya berdegup lebih kencang dan tubuhnya terasa lebih hangat.

“Ne…” jawabnya pelan. Yongguk berdehem kecil dan melihat jam dinding. Sudah pukul 12.30 siang.

“Apa kau sudah makan?” tanyanya.

Cheonsa menggelengkan kepalanya, “belum, sebenarnya aku tadi janjian dengan Miyoung untuk makan siang bersama.”

“Aigoo, anak itu. Ya sudah, kita makan bersama saja. Aku juga belum makan.”

Cheonsa merasakan detak jantungnya menggila dan mendadak ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.

“Bagaimana?” tanya Yongguk lagi, sambil memperhatikan wajah Cheonsa.

Cheonsa hanya menganggukkan kepala.Yongguk tersenyum, menunjukkan gummy smile-nya.

“Kajja~” ia masuk ke dalam, menuju dapur sekaligus ruang makan. Cheonsa mengikuti dari belakang.

“Omoo~ bahkan dilihat dari belakang oppa tetap terlihat tampan,” pikir Cheonsa sambil tersenyum lebar.

“Oppa mau memasak?” tanya Cheonsa, begitu melihat Yongguk menghidupkan kompor, “perlu aku bantu?”

“Anniii, aku hanya menghangatkan masakan yang sudah dibuat omma tadi pagi, hahaha.Aku siapkan dulu makanannya ya. Kau duduk saja, tidak perlu membantuku. Kau kan tamu.”

Lagi-lagi Cheonsa menuruti perkataan Yongguk. Ia kemudian duduk di meja makan yang terletak di seberang dapur.

Yongguk terlihat sibuk mengeluarkan makanan dari lemari es, menghangatkannya, menyiapkan peralatan makan dan bahkan menyiapkan nasi untuk mereka berdua. Cheonsa terpaku melihat setiap tindakan Yongguk. Kenapa oppa terlihat seksi sekali, pikirnya.

“Cheonsa~ya, bagaimana kuliahmu? Aigoo, sepertinya baru kemarin aku pertama kali bertemu denganmu, menunggu di gerbang sekolah untuk menjemput Miyong, melihat kau dan Miyoung memakai seragam sekolah. Sekarang kalian sudah jadi mahasiswi,” mendadak Yongguk berbalik dari kegiatannya, membuat Cheonsa tergagap. Yongguk menunggu jawaban Cheonsa sambil tersenyum.

“Ah..eh…ya…seperti itu.”

Yongguk tertawa kecil, “eii~ seperti itu bagaimana? Apakah menyenangkan? Atau lebih buruk dari masa sekolah dulu?”

Cheonsa berdehem kecil, “menyenangkan, oppa.Tapi aku sedikit merindukan masa sekolah dulu. Sekarang…teman dekatku tidak sebanyak seperti dulu.”

Yongguk mengangguk-angguk, “benar .Aku juga.”

Cheonsa dan Miyoung baru saja masuk kuliah. Keduanya sama-sama memilih jurusan sastra. Sementara Yongguk kuliah di jurusan musik dan sudah memasuki tahun ke-3.

“Oppa sendiri bagaimana?” Cheonsa memberanikan diri bertanya.

“Menyenangkan. Karena aku kuliah di jurusan yang sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tugas yang kukerjakan tidak lagi jadi beban. Aku juga punya banyak waktu luang untuk membuat lagu, membentuk grup musik, dan tampil di depan banyak orang. Oh, kau belum pernah melihatku perform dengan grup baruku ya? Kapan-kapan kau harus ikut Miyoung menontonku,” kata Yongguk dengan mata berbinar.

Cheonsa mengangguk sambil tersenyum, “oppa mengajakku menonton perfom-nya!” jeritnya dalam hati.

“Yay, sudah matang. Kita bisa makan~” seru Yongguk kemudian. Ia meletakkan semua makanan di mangkok dan piring yang telah ia siapkan.

“Biar aku bantu, oppa~” Cheonsa segera beranjak dan menawarkan bantuannya.

“Gumawoo~” Yongguk menepuk kepala Cheonsa pelan. Membuat senyuman Cheonsa bertambah lebar.

Akhirnya mereka berdua duduk kembali di meja makan, berhadap-hadapan, dengan beberapa mangkok dan piring di depan mereka. Yongguk sepertinya mengeluarkan terlalu banyak makanan, padahal hanya mereka berdua yang makan.

“Emm, apa ini tidak terlalu banyak? Hanya kita berdua kan yang makan,” komentar Cheonsa setelah memperhatikan isi meja makan. Yongguk tertawa setelah menyadari meja makan yang penuh.

“Aku kan tidak tahu kau suka masakan yang mana. Jadi aku keluarkan saja semua yang ada di dapur dan lemari es.”

“Gumawo, oppa. Aku akan menikmatinya~”

Yongguk mengacungkan jempolnya, lalu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Apa ada yang tidak enak?” tanya Yongguk beberapa saat kemudian, setelah memperhatikan Cheonsa yang sepertinya tidak menikmati makanan.

“Anniya~ aku selalu suka masakan eomoni~” jawab Cheonsa cepat.  Ia bukannya tidak lapar atau tidak menikmati makanan. Dan masakan ibu Miyoung dan Yongguk luar biasa enak. Ia hanya gugup, tidak tahu harus makan dengan cara seperti apa di hadapan Yongguk. Ia malu jika makan terlalu banyak atau terlihat sangat menikmati makanan seperti orang kelaparan.

“Kalau begitu makan yang banyak. Kau seperti mencicipi setiap masakan saja, tidak benar-benar memakannya, Cheonsa~ya”

“Apa kau sedang diet?” tanya Yongguk tiba-tiba.

Cheonsa menggelengkan kepala, “apa menurut oppa aku harus diet?” tanyanya balik. Tapi kemudian ia meyadari jika pertanyaan tadi terdengar sangat bodoh.

Yongguk tertawa begitu mendengar pertanyaan Cheonsa.

“Pertanyaan macam apa itu~ untuk apa kau diet? Apa kau punya penyakit tertentu yang membuatmu harus diet?”

Cheonsa menggelengkan kepala.

“Kalau begitu tidak usah,” jawab Yongguk, sambil memandangi Cheonsa dengan wajah tersenyum.

“Tapi badanku terlalu gendut. Tidak seperti Miyoung,” tanpa sadar Cheonsa mengerucutkan bibirnya. Membuat Yongguk tergelak.

“Eii~ badan Miyoung itu seperti sumpit ini, kau tahu~” Yongguk menunjukkan sumpit yang ia pegang, “terlalu kurus dan tidak menarik~ dan menurutku badanmu tidak terlalu gendut. Biasa saja,” jawabnya lagi sambil menggerakkan bahu.

Cheonsa membelalakkan mata begitu mendengar jawaban Yongguk, “jinja? Tapi sepertinya laki-laki, maksudnya teman-temanku yang laki-laki sangat tertarik dengan wanita yang tubuhnya seperti Miyoung~”

“Eye-candy,” jawab Yongguk cepat, “hanya enak di lihat. Tapi jika ingin berpacaran dan menikah, tentu saja kami tidak peduli tubuh wanita itu seperti apa. Yang penting kecocokan. Kupikir kau cukup cerdas untuk tahu hal ini, Cheonsa~ya…” komentar Yongguk dengan nada menggoda.

Cheonsa tersipu malu karena nada suara Yongguk.

“Anni oppa~ aku sedari dulu punya sedikit inferiority dengan tubuhku.”

“Don’t be~ Kau dan semua wanita di dunia ini cantik dengan pesonanya masing-masing. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Makanlah yang banyak,” tutur Yongguk sambil menunjuk mangkok Cheonsa.

“Ne~” jawab Cheonsa singkat, lalu memutuskan untuk makan seperti biasanya.

“Ini pertama kalinya aku makan bersama denganmu” tiba-tiba Yongguk berkata, “maksudku hanya berdua. Biasanya Miyoung juga ada.”

“Apakah aneh?” tanya Choensa.

Yongguk menggeleng, “aku suka mengobrol denganmu.”

Pipi cheonsa memerah begitu mendengarnya. Ia berpikir untuk memberikan Miyoung hadiah karena membuatnya bisa berduaan dengan Yongguk seperti ini dan mendengar banyak perkataan Yongguk yang membuatnya melayang ke udara. Apalagi setelah mendengar dengan telinganya sendiri, jika Yongguk tidak mempermasalahkan tubuh wanita. Kekhawatiran Cheonsa menjadi sedikit menghilang. Tapi hanya sedikit…

“Apa kau tahu Epik High?” tanya Yongguk lagi. Cheonsa mengangguk.

“Grup musik baru yang aku ceritakan tadi, formasinya sama seperti Epik High, Cheonsa~ya. Ada dua rapper dan 1 DJ. Kami juga sama-sama membuat musik hip hop.”

Dari cerita Miyoung, Cheonsa tahu bahwa selain pandai membuat lagu, Yongguk juga rapper yang baik. Semenjak masa sekolah dulu, ia sudah tertarik dengan musik hip hop dan menemukan bahwa dirinya bisa menge-rap dengan bagus. Tak hanya dirinya yang mengakui itu, teman-temannya juga mengatakan hal yang sama. Sehingga tiap kali ada acara sekolah, ia sering tampil di panggung. Hal itu terus berlanjut hingga saat ini.

“Kenapa bertiga seperti epik high?” tanya Cheonsa.

“Karena hanya mereka berdua yang mau membentuk grup denganku,” jawab Yongguk sambil tertawa.

“Eii~” Cheonsa tersenyum kecil. Ia suka melihat senyum Yongguk.

Yongguk masih tertawa, “jinja, Cheonsa~ya. Aku sedikit keras kepala ketika membuat lagu. Kurasa hanya mereka berdua yang tahan denganku.”

“Apa kau juga akan berteriak seperti tadi, ketika membuat musik dengan mereka?” Cheonsa mengingatkan Yongguk, ketika ia berteriak pada Miyoung melalui telepon tadi.

“Tergantung. Tapi biasanya, iya.”

“Owww~ scary~” Cheonsa memasang ekspresi wajah ketakutan. Kemudian ia tertawa dan Yongguk pun tertawa.

“Kau tahu, sepertinya kau tidak akan hanya menjadi sahabat Miyoung, tapi juga sahabatku,” tutur Yongguk, sambil memandangi Cheonsa dengan senyum lebar.

—*—

Dan entah sejak kapan, Cheonsa kini tidak hanya menghabiskan waktunya dengan Miyoung, tapi juga dengan Yongguk. Ia sudah tidak terlalu gugup seperti saat pertama kali menyadari jika ia menyukai Yongguk. Ia lebih merasa santai ketika bersama dengan Yoonguk.  Kini ia juga mengenal teman-teman Yongguk yang lain, termasuk personil grup musiknya. Ia sudah sering menonton Yongguk perform, bahkan melihat Yongguk dan grupnya latihan sebelum perform. Malam ini, Yongguk bahkan mengundang Cheonsa dan Miyoung datang ke studio baru tempat ia dan grupnya membuat serta memproduksi lagu. Cheonsa turut mengajak pacarnya, Yoongi untuk melihat studio Yonggguk.

“Whoaaa~ seperti ini bentuk studio~” teriak Miyoung kagum. Cheonsa tak kalah kagum, matanya membulat memperhatikan setiap sudut ruangan yang ia masuki. Yongguk tersenyum puas, setelah melihat reaksi Miyoung, Cheonsa dan Yoongi.

“Studio ini kalian sewa untuk berapa lama, hyung?” tanya Yoongi, yang juga terlihat kagum. Ia diam-diam mengangumi kakak pacarnya itu dan berharap bisa mengikuti jejaknya.

“Enam bulan. Kami sedang mempersiapkan untuk membuat album, jadi butuh studio yang lebih bagus.”

“Oh, jadi oppa meminjam uang appa untuk menyewa tempat ini?” tanya Miyoung dengan nada menggoda.

“Eiii~ kenapa kau membeberkan masalah keluarga di sini?” Yongguk memukul kepala Miyoung.

“Yah sakit~~” keluh Miyoung, lalu berlari menghampiri Yoongi dan meraih tangan pacarnya itu untuk mengelus-elus bekas pukulan oppa-nya.

“Apa oppa akan merekam atau membuat lagu malam ini?” tanya Cheonsa, sambil memperhatikan peralatan rekaman yang ada di hadapannya.

“Tidak, aku ingin memasukkan lagu yang sudah kubuat dan mungkin membenahinya sedikit.”

“Perlu bantuanku, hyung?” tanya Yoongi, dengan tangan yang masih mengelus-elus kepala Miyoung. Yoongi juga mahasiswa jurusan musik, tapi berbeda universitas dengan Yongguk.

“Kalau kau mau membantu, boleh saja. Tapi kami belum mampu memberimu uang sebagai bayaran, nanti namamu kumasukkan ke dalam album saja ya~” Yongguk menjawab dengan senyuman lebar.

“Tidak masalah, hyung.”

“Yoongi~yaaa, aku ingin makan ddeokboki~” mendadak Miyoung merajuk dengan nada manja.

Yoongi menatap Miyoung dengan tatapan heran, “tadi sebelum kesini kan kau sudah makan?”

“Tapi aku ingin….” Miyoung memasang wajah memelas dan menggenggam tangan Yoongi sambil melompat-lompat kecil.

Yongguk memperhatikan adiknya dengan wajah tidak suka, “yah! Kau selalu tidak suka kuperlakukan seperti anak kecil. Lihat siapa yang sekarang kelakukannya seperti anak kecil.”

Miyoung menatap tajam ke arah Yongguk, lalu menjulurkan lidahnya. Ia kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke Yoongi dan mengedipkan matanya. Ia lalu berbisik di telinga pacarnya, “kita biarkan oppa dan Cheonsa sendirian di studio.”

Yoongi langsung mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Ia juga sudah tahu bahwa Cheonsa menyukai Yongguk.

“Kajja! Kita cari ddeokboki yang enak! Hyung dan Cheonsa mau?” jawab Yoongi dengan nada ceria.

Yongguk menggelengkan kepala, sementara Cheonsa mengangguk. Tapi ketika Cheonsa melihat Yongguk tidak mau, ia ganti menggelengkan kepala.

“Yah! Kau mau ddeokboki atau tidak, Cheonsa~ya? Kenapa mengangguk dan menggeleng begitu?” tanya Miyoung sambil tertawa kecil.

“Ah..tidak…aku tadi kan sudah makan. Lagipula ini sudah malam, tidak baik makan terlalu banyak.”

“Wae? Kalau kau masih lapar, makan saja~” sanggah Yongguk.

“Cheonsa sedang diet, oppa~” goda Miyoung. Cheonsa menatap Miyoung dengan tatapan tajam. Miyoung hanya membalas dengan mengedipkan mata.

“Waeyo?” tanya Yongguk lagi dengan wajah heran, lalu menatap tubuh Cheonsa dari bawah hingga atas. Membuat pipi Cheonsa memerah. Sementara Miyoung menahan tawa melihat reaksi sahabatnya itu. Yoongi juga terbatuk untuk menutupi tawanya.

“Anni, oppa~…”

“Kaja, Yoongi~ya,” Miyoung memutus perkataan Cheonsa, “Kita beli ddeokboki~ kalian jangan macam-macam ya di studio~” Miyoung meraih tangan Yoongi lalu meninggalkan studio sambil melemparkan ciuman.

“Anak itu…sudah malam pun tetap enerjik~” Yongguk tertawa kecil, “eh Cheonsa kau mau minum?”

“Boleh~” jawab Cheonsa, yang sedang melihat kembali peralatan musik di studio.

“Tapi hanya ada air putih, ternyata, hahaha~” tawa Yongguk tiba-tiba terdengar. Tanpa sadar Cheonsa ikut tertawa kecil. Ia selalu suka suara tawa Yongguk.

“Gwenchana, oppa~”

Mendadak tangan Yongguk meraih tangan Cheonsa dari belakang dan menyisipkan sebotol air ke genggamannya. Sontak Cheonsa membalik badannya.

“Oh mianhe, aku membuatmu terkejut,” Yongguk tersenyum lebar di hadapan Cheonsa. Sementara Cheonsa hanya terpaku memandangi Yongguk. Baru kali ini ia berada di posisi yang sangat dekat dengan Yongguk, hingga bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas.

“Hei~ kau tidak apa-apa?” Yongguk melambaikan tangan ke depan muka Cheonsa.

Cheonsa menggoyangkan kepalanya, “ne oppa..aku hanya terkejut.”

Yongguk tertawa kecil, ia kemudian berjalan menuju sofa, “duduk, Cheonsa~ya. Sepertinya Miyoung dan Yoongi akan lama.”

Cheonsa mengikuti Yongguk dan duduk di sofa sebelah Yongguk. Ia tidak berani duduk di satu sofa dengan Yongguk.

“Apa teman-teman oppa tidak datang malam ini?” tanyanya kemudian, berusaha mencairkan suasana.

Yongguk menggeleng, “hari ini tidak ada jadwal. Besok malam baru kami kembali bekerja.”

Cheonsa mengangguk-angguk, lalu membuka botol dan meminum airnya.

“Apa kau sudah punya pacar?” tanya Yongguk tiba-tiba.

Cheonsa yang sedang minum langsung terbatuk dan sedikit memuntahkan air, sehingga tangan dan sedikit bagian bajunya basah.

Yongguk tertawa dan memberikan tisu kepadanya, “gwenchana?”

Cheonsa yang berusaha mengeringkan tangan dan bajunya memberikan sinyal “tidak apa-apa” dengan tangannya.

“Kenapa terkejut seperti itu? Apa karena kau sudah punya pacar, huh?” goda Yongguk.

Cheonsa menggeleng, “tidak..eh belum…”

Yongguk kembali tertawa.

“Miyoung sudah punya pacar. Kau juga sebaiknya punya pacar, Cheonsa~ya. Kalau Miyoung pergi berdua dengan Yoongi seperti tadi, kau jadi tidak kesepian.”

“Tapi aku ingin oppa yang jadi pacarku!” Cheonsa ingin berkata seperti itu pada Yongguk. Tapi kenyataannya ia hanya bisa merespon perkataan Yongguk tadi dengan senyuman kecil.

“Apa oppa sudah punya pacar?” tanya Cheonsa kemudian, berusaha mengalihkan perhatian. Dalam hati ia memuji keberaniannya untuk mengajukan pertanyaan seperti itu.

Yongguk tersenyum lalu menggelengkan kepala.

Cheonsa mengangguk-angguk, lalu kembali meneguk air dari botolnya.

“Atau kau mau jadi pacarku, Cheonsa-ya?” tanya Yongguk lagi, dengan ekspresi menggoda.

Cheonsa kembali terbatuk dan memuntahkan air yang ia minum. Yongguk kembali tertawa, tapi kali ini suara tawanya lebih keras.

“Waekeurae~ Kenapa kau sering terbatuk dan memuntahkan air seperti ini~” tawanya sambil membantu mengelap tangan Cheonsa yang kembali basah dengan tisu. Ia juga membantu mengelap bibir Cheonsa, membuat posisi tubuhnya lebih dekat dengan Cheonsa. Cheonsa terkesiap begitu menyadari hal itu dan Yongguk memandangi mata Cheonsa lekat-lekat.

“Aku baru tahu warna matamu cokelat,” desis Yongguk. Cheonsa mengerjapkan matanya berkali-kali karena kaget, membuat Yongguk tersenyum. Ia kemudian mengacak rambut Cheonsa.

“Kau terlihat sangat cantik dengan mata coklatmu,” kata Yongguk dengan suara pelan, hingga terdengar seperti berbisik.

“Ne?” tanya Cheonsa, karena tidak bisa menangkap dengan jelas perkataan Yongguk.

“Anniya~” Yongguk tersenyum, lalu berdiri dan berjalan menuju komputer, “apa kau mau mendengarkan lagu baruku?” tanyanya kemudian, setelah duduk di kursi depan komputer.

Cheonsa memasang wajah bingung, lalu tanpa sadar menjawab “ya” pada pertanyaan Yongguk.

Tak lama kemudian terdengar suara menghentak dari speaker di studio. Disusul suara berat Yongguk yang membawakan serangkaian lirik yang terdengar indah di telinga. Yongguk mulai meggerakkan kepala dan tangannya mengikuti rangkaian melodi dari lagu itu. Setelah beberapa menit, suara musik mulai menghilang.

“Bagaimana?” Yongguk memutar kursinya dan menghadap ke arah Cheonsa.

Cheonsa mengacungkan kedua jempolnya, “great! ini buatanmu, oppa?”

Yongguk mengangguk dengan wajah sumringah, “apa masih ada yang kurang dari lagu tadi?”

“Anni~ menurutku sudah sangat bagus~ ah~ semua wanita pasti suka dengan lagu itu, oppa~”

“Termasuk kau?” goda Yongguk lagi, membuat pipi Cheonsa kembali bersemu merah.

“Serius, kau tidak punya pacar?” tanya Yongguk tiba-tiba. Sontak Cheonsa menggelengkan kepalanya.

“Laki-laki di sekitarmu pasti menyesal karena melewatkan mata coklat dan pipi bersemu merah seperti itu,” kata Yongguk sembari menunjuk wajah Cheonsa dan tersenyum penuh arti.

Cheonsa ganti tergelak, “mereka pasti gila jika berpikir aku cantik.”

“Wae?” senyum Yongguk langsung menghilang.

“Jika diibaratkan binatang, Miyoung itu angsa putih yang cantik. Sementara aku hanyalah itik buruk rupa yang selalu mengikuti angsa kemanapun ia pergi.”

Kening Yongguk langsung berkerut begitu mendengar perkataan CHeonsa.

“Gwenchana, setidaknya itik buruk rupa ini masih punya otak yang encer,” sambung Cheonsa sambil tertawa getir.

Yongguk berdiri dan berjalan mendekati Cheonsa, “aku tidak suka kau berkata seperti itu.”

Cheonsa terkejut mendengar perkataan Yongguk. Matanya semakin membulat, ketika menyadari Yongguk berdiri tepat di depannya dan memandangi matanya lekat.

“Kau, seperti namamu, cantik seperti malaikat. Begitu juga hatimu,” Yongguk meraih dagu Cheonsa, “kalau kau menganggap dirimu adalah itik betina yang buruk rupa, maka biarkan aku menjadi itik jantan yang juga buruk rupa dan ingin menjadi pasanganmu,” bisik Yongguk sebelum ia mencium lembut bibir Cheonsa.

 

-FIN-

Advertisements

Leave your comments, B.A.B.Y ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s